Mahasiswa.co.id - Dalam organisasi kampus, senioritas masih menempati posisi istimewa dalam sistem kaderisasi. Para senior dianggap sebagai sosok yang lebih dulu merasakan pahit-manisnya perjuangan, menyimpan pengalaman, sekaligus memiliki otoritas dalam menilai layak atau tidaknya seorang kader baru. Mereka dipandang sebagai penjaga tradisi seperti menjaga kesinambungan organisasi dari generasi ke generasi.
Senior idealnya bukan sekadar orang yang lebih dulu masuk, melainkan sosok penyemangat serta mampu menjadi role model bagi kader di bawahnya. Senior bukan lagi figur yang menuntut penghormatan hanya karena status, tetapi menimbulkan pribadi teladan melalui sikap, integritas, dan tanggung jawab.
Sekarang, budaya senioritas masih dianggap suci. Senior ditempatkan seolah-olah sosok istimewa, punya hak lebih hanya karena lebih dulu masuk. Mereka dipandang sebagai penentu arah, penjaga tradisi. Namun, realitas yang sering terjadi jauh dari ideal: banyak senior hanya sibuk dengan pragmatisme sempit, mengutamakan kepentingan pribadi, mencari panggung, dan mengamankan posisi. Alih-alih memberi teladan, mereka justru memperlakukan junior seperti budak. Setiap kali ada perintah abangda, kader harus tunduk tanpa berpikir, digiring layaknya domba yang hanya tahu ikut tanpa berani bersuara.
Padahal, senior bukanlah penguasa kecil dalam organisasi. Mereka seharusnya menjadi teladan, pembimbing, sekaligus pengarah. Junior membutuhkan sosok yang mampu menunjukkan jalan, memberi contoh sikap berintegritas, serta memastikan idealisme mahasiswa tersalurkan pada tujuan yang tepat. Namun, ketika peran ini dilupakan, kaderisasi kehilangan ruhnya. Junior merasa tertekan, semangat belajar melemah, bahkan kepercayaan terhadap organisasi bisa runtuh.
Lebih jauh, pola senioritas pragmatis ini berbahaya. Mereka membunuh daya pikir kritis kader baru. Junior yang mestinya belajar bertanya, berdiskusi, dan menguji nilai justru dilatih untuk tunduk. Loyalitas yang diminta pun bukan pada nilai perjuangan, melainkan pada ego senior. Dengan demikian, organisasi tidak lagi menjadi ruang dialektika, tapi berubah jadi ladang feodalisme kecil yang mengulang pola lama: siapa yang lebih dulu masuk, dialah yang berkuasa.
Jika ditelusuri lebih dalam, masalah ini muncul dari mentalitas senior yang terjebak pada gengsi status. Mereka merasa lebih berhak hanya karena lebih dulu masuk. Padahal, masuk lebih awal tidak otomatis menjadikan seseorang lebih bermoral, lebih bijak, apalagi lebih layak dihormati. Ironisnya, sebagian senior lebih sibuk menuntut penghormatan ketimbang menunjukkan perilaku yang layak dihormati. Keteladanan hilang, diganti dengan otoritarianisme.
Lebih parah lagi, ada senior yang menjadikan organisasi sekadar panggung pribadi. Mereka berjuang bukan untuk menegakkan nilai, melainkan untuk mengamankan posisi, memupuk jaringan, atau sekadar mencari pengakuan. Dalam logika semacam ini, kader baru tidak pernah benar-benar dipandang sebagai penerus perjuangan, melainkan hanya alat untuk memenuhi kepentingan sang senior. Di sinilah akar dari budaya pragmatisme itu tumbuh: kaderisasi bukan lagi proses pembentukan, melainkan proses perintah, patuh, tunduk, dan setia pada “abangda.”
Namun, tidak semua senior terjebak pada pola busuk ini. Ada sebagian kecil yang benar-benar memahami makna menjadi teladan. Mereka sadar bahwa menjadi senior bukan soal menumpuk hak istimewa, tetapi tentang memikul tanggung jawab lebih besar. Senior yang ideal bukan hanya memberi arahan, tetapi ikut terjun, membimbing, bahkan siap dikritik. Mereka menjadi figur yang layak diteladani, bukan sekadar ditakuti.
Oleh karena itu, penting untuk mengingat kembali esensi kaderisasi: membentuk pribadi kritis, berdaya, dan loyal pada nilai-nilai organisasi, bukan pada ego individu. Jika organisasi masih terus mempertahankan pola senioritas pragmatis, kader baru hanya akan tumbuh sebagai pengikut buta. Organisasi kehilangan daya kritis, kehilangan regenerasi, dan akhirnya kehilangan makna perjuangan itu sendiri.
Maka, jika kita ingin organisasi kampus tetap hidup, budaya senioritas harus diredefinisi. Senior tidak boleh hanya duduk di kursi kehormatan, sibuk memberi perintah, sementara kader baru dijadikan domba. Senior harus hadir sebagai role model sejati: memberi teladan lewat sikap, menjaga integritas, dan membimbing junior untuk berani berpikir, bukan sekadar tunduk. Hanya dengan cara itu kaderisasi bisa melahirkan generasi yang benar-benar siap melanjutkan estafet perjuangan.
Oleh: Zainul Abidin Jurusan: Ekonomi Kampus: Universitas Nurul Jadid
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0