Oleh:
Muhammad Abid A Syakur
Mahasiswa.co.id - Hari ini, kita sedang bergerak di dunia yang seringkali membuat kita kehilangan kendali, kehilangan makna refleksi - itulah dunia media sosial. Banyak yang mengatakan kalau dunia maya atau media sosial adalah representasi dari dunia realitas. Namun, jangan salah sangka bahwa itu hanyalah "representasi", bukan identitas primer. Artinya, apa yang ada di dunia maya tidak bisa kita paksakan dalam dunia realitas. Kita butuh filter, dan alat filter itu adalah akal sehat.
Ada satu tren di TikTok yang menurutku bersifat patriarki, yaitu
standar TikTok. Mungkin teman-teman yang main TikTok sudah paham ya tentang standar ini. Buat yang belum main, aku jelasin dikit aja. Intinya, standar TikTok ini merujuk pada kriteria atau semacam norma yang dibentuk oleh tren, preferensi, dan ekspektasi yang berkembang di TikTok - sering kali mempengaruhi pola pikir pengguna, terutama generasi muda. Standar ini mencakup banyak aspek: penampilan fisik, gaya hidup, hubungan, dan ideal pasangan. Yang akan aku bahas di sini adalah tentang
ideal pasangan dan hubungan.
Ada rumor seperti:
"Cewe banyak menuntut cowo harus begini-begitu", dan
"Cowo sering terbebani dengan itu". Rumor seperti inilah yang membuatku terbangun untuk menulis ini. Mari kita kupas mulai dari stigma yang beredar.
Stigma yang Beredar di Standar TikTok
- Stigma terhadap Perempuan
Yang sering dijumpai adalah label
gold digger atau materialistik (matre). Konten TikTok seperti
"Cowo tuh harus bayarin semua" membuat perempuan yang punya ekspektasi finansial langsung dicap matre. Kalau kita tanya alasannya, jawabannya biasanya:
"Ya realistis aja sih". Akibatnya, perempuan yang sebenarnya ingin mandiri pun ikut kena stereotipe ini.
- Stigma terhadap Laki-Laki
Yang kerap dijumpai adalah:
- "Laki-laki harga rendah" → cowo yang simp (mengorbankan diri untuk cewe) dianggap lemah atau tidak maskulin.
- "Laki-laki harus mapan lebih dulu" → banyak konten seperti "Gaji cowo harus di atas UMR", "Gaji cowo harus 10x lipat cewe", "Minimal daily use-nya mobil lah ya". Konten-konten seperti ini menciptakan tekanan bahwa nilai laki-laki hanya diukur dari uang.
- Stigma dalam Hubungan
Pernah dengar kalimat seperti:
"Kalau nggak bisa beliin iPhone, jangan ajak ngedate deh"? Standar materialistik seperti ini
mengurangi hubungan jadi sekadar transaksi materi. Ada juga konten
"cek-cekan" atau
"ujian kesetiaan" yang secara tidak langsung menampilkan bahwa hubungan sehat itu membosankan, sehingga harus dibuat dramatis.
Meski kita tahu itu cuma konten, dampaknya nyata: pola pikir anak muda mulai menganggap konflik adalah norma dalam pacaran. Stigma ini akan terus berkembang di platform media sosial, terutama TikTok, karena
algoritmanya memprioritaskan konten kontroversial yang memicu engagement (komentar pedas, viral, dll.).
Standar TikTok akan Terus Berlanjut Selama Ada Pelaku Patriarki
Patriarki tidak hanya dilakukan oleh laki-laki—perempuan juga bisa menjadi pelakunya. Fenomena ini disebut:
- Patriarki Internalized (patriarki yang diadopsi oleh perempuan sendiri).
- Female Misogyny (perempuan yang menindas perempuan lain).
Biasanya, perempuan yang terjebak dalam patriarki internalized berada di lingkungan maskulin, sehingga energi patriarki merasuki mereka, lalu mereka menindas perempuan lain. Perempuan seperti ini disebut
Queen Bee Syndrome.
Kita sering terkecoh, lho. Ada influencer perempuan yang terlihat menyuarakan feminisme, tapi sebenarnya misoginis. Jadi,
pelaku patriarki bukan cuma laki-laki, tapi juga perempuan.
Nah, di sinilah gerakan feminisme menjadi benteng utama untuk menghalangi dan membatalkan gerakan patriarki di aspek mana pun.
Pandangan Feminis terhadap Standar TikTok
Aku nggak akan jelasin panjang lebar tentang apa itu feminisme atau sejarahnya. Yang akan dibahas di sini adalah
bagaimana feminisme memandang standar TikTok.
- Problem Awal: Peran Gender Tradisional
Di feminisme, problem utamanya adalah:
- Laki-laki sebagai pencari nafkah.
- Perempuan sebagai penerima.
Di TikTok, masalahnya mirip, cuma beda bungkusnya. Contoh:
- "Laki-laki harus bayarin biaya ngedate/kencan" → ini adalah produk patriarki lama yang mewarisi peran tradisional (laki-laki = pemberi, perempuan = penerima).
- Kasus-Kasus Standar TikTok dari Kacamata Feminis
- "Cowo harus kaya", "Cowo harus mapan"
Ini mengandung unsur materialistik. Konsep ini bertentangan dengan
feminisme liberal yang berfokus pada kesetaraan hak individu dan otonomi. Kenapa?
- Menciptakan ketergantungan ekonomi perempuan pada laki-laki (padahal feminisme memperjuangkan kemandirian).
- Mengabaikan hak laki-laki untuk tidak diukur dari materi.
"Kalau feminis menolak tugas di dapur, maka tidak adil menugaskan laki-laki tugasnya mencari uang."
- "Cewe harus cantik", "Cowo harus tinggi"
Tidak salah punya preferensi, tapi masalah muncul ketika
objektifikasi tubuh diutamakan. Standar fisik mengubah tubuh jadi komoditas. Contoh tren:
rating pasangan berdasarkan penampilan.
Feminisme Gelombang Ketiga akan bilang:
"Ketika kita memberi nilai pada tubuh seseorang, kita menghilangkan nilai mereka sebagai manusia utuh."
Belum lagi
filter TikTok dan standar kecantikan tidak realistis yang menyebabkan:
- Body dysmorphia → perempuan merasa wajahnya kurang tanpa filter.
- Toxic masculinity → laki-laki merasa kurang jantan kalau tidak tinggi/berotot.
- "Cowo harus ngalah", "Cewe harus dimanja"
Standar seperti ini sebenarnya:
- Patriarki terselubung → mengganti dominasi laki-laki dengan dominasi perempuan, bukan menghapus hierarki.
- Komodifikasi emosi → laki-laki diharapkan memberi cinta dengan materi, perempuan "menjual" kasih sayang.
Contoh konten:
"Kalau nggak mau bayarin semuanya atau split bill, berarti bukan laki-laki sejati/gentleman."
Feminis Radikal akan bilang:
"Ini bukan empowerment, tapi eksploitasi balik."
Feminisme
bukan tentang perempuan vs. laki-laki, tapi tentang
membebaskan semua gender dari belenggu standar tidak manusiawi menuju otonomi dan keutuhan diri.
Siapa yang Membentuk Standar TikTok?
Setelah paham bahwa standar TikTok adalah hasil konstruksi sosial, pertanyaannya:
siapa yang membentuknya?
Hipotesis 1: Perempuan yang Membentuk
Jika perempuan aktif membentuk standar TikTok yang materialistik/patriarkal, feminisme melihat ini sebagai
strategi bertahan hidup dalam sistem patriarki. Beberapa alasannya:
- Patriarchal Bargain (Tawar-menawar dengan Patriarki)
Perempuan mengadopsi nilai patriarkal untuk dapat keuntungan jangka pendek. Biasanya dilakukan oleh perempuan yang berada di posisi "tengah" dalam lingkungan patriarkal. Ketika ada perempuan lain yang berhasil, ia menjaga statusnya dengan menegakkan aturan lama (nilai patriarkal) agar tidak dikritik.
Di TikTok, kita bisa lihat influencer/kreator yang kontennya terlihat membela perempuan, tapi sebenarnya menyusupi norma patriarkal. Contoh:
"Kita bukan matre, tapi realistis."
→ Realistis itu artinya apa adanya, bukan
"cowo harus gaji minimal 20 juta". Itu mah preferensi pribadi, yang ujung-ujungnya malah memproduksi norma patriarki.
- Internalized Misogyny
Perempuan yang ikut menyuarakan standar toxic sering:
- Merendahkan perempuan lain ("Jangan jadi feminis, nggak bakal laku!").
- Menganggap diri istimewa karena bisa memanipulasi sistem ("Aku bisa dapet cowo kaya karena aku cantik").
- Pengaruh Kapitalisme
Kita hidup dikelilingi nilai kapitalisme dan patriarki. Yang bisa kita lakukan adalah
membatasi penyebarannya, termasuk di standar TikTok. Contoh:
- Standar diciptakan untuk transaksi materi ("Pasangan ideal minimal pakai iPhone").
- Perempuan diajak jadi agen kapitalis tanpa sadar (lewat affiliate marketing, endorse).
Kritik Feminis terhadap Peran Perempuan Ini
- Feminis Liberal:
"Jika feminisme memperjuangkan otonomi, tidak konsisten menuntut pasangan memenuhi standar sepihak."
Contoh: Konten
"Cewe boleh boros, cowo harus hemat" justru memperkuat ketimpangan.
- Feminis Radikal:
"Mengganti patriarki dengan matriarki yang sama opresifnya bukan solusi."
Contoh: Standar
"Cowo harus simp" tetap merendahkan laki-laki sebagai objek.
- Feminis Interseksional:
"Ini mengabaikan privilege."
Perempuan yang menuntut
"cowo harus kaya" sering berasal dari kelas menengah-atas, mengabaikan realita:
- Perempuan miskin yang sulit dapat pasangan "ideal".
- Laki-laki pekerja yang gajinya pas-pasan.
Hipotesis 2: Laki-Laki yang Membentuk
Standar TikTok yang terlihat datang dari perempuan bisa jadi hasil permintaan laki-laki misoginis—dikemas seolah itu keinginan alami perempuan.
- Pasar Patriarkal
Laki-laki misoginis (sadar/tidak) menciptakan "pasar" untuk standar tertentu:
- Mereka ingin perempuan yang "cantik tapi rendah hati", "pintar tapi tidak menyaingi", "seksi tapi tidak vulgar".
- Konten TikTok yang memenuhi fantasi ini dibuat oleh laki-laki (atau perempuan terinternalisasi misogini) dan dijadikan tren.
Contoh:
"Laki-laki melarang pacarnya pakai baju seksi, tapi sendiri suka like konten cewe joget seksi."
- Reverse Victim Blaming
Laki-laki misoginis memproyeksikan keinginan mereka seolah-olah perempuan yang menuntut. Contoh konten:
- "Cewe sekarang materialis, maunya cowo kaya!" (Padahal, banyak laki-laki yang insecure kalau pasangannya lebih sukses.)
- "Cewe feminis nggak laku!" (Padahal, yang menolak cewe feminis biasanya laki-laki yang takut kehilangan dominasi.)
- Algoritma Bias
- Konten misoginis (redpill, alpha male, "women belong in the kitchen") lebih banyak dibuat laki-laki dan dijadikan tren.
- Perempuan yang menolak standar ini malah di-bully ("Feminazi!"), sementara laki-laki yang menuntut standar ganda dianggap "berhak memilih".
Kritik Feminis terhadap Ini
- Perempuan Dijadikan Kambing Hitam
Standar seolah datang dari perempuan, padahal laki-laki yang menikmati sistem ini. Contoh:
- "Cewe maunya dimanja!" (Tapi laki-laki yang menolak perempuan mandiri).
- "Cewe suka bad boys!" (Tapi laki-laki yang mengidealkan toxic masculinity).
- Memperkuat Victim Blaming
Ketika perempuan protes (
"Kok cowo maunya cewe cantik, kaya, tapi nurutin mereka?"), jawabannya:
- "Ya lo juga yang mau!" (Padahal, banyak perempuan nggak setuju).
- Membunuh Otonomi Perempuan
Perempuan dipaksa memenuhi
standar yang tidak mereka buat sendiri, lalu disalahkan ketika menolak.
Hari Kartini: Bagaimana Kartini Menanggapi Standar TikTok?
Kebetulan hari ini Hari Kartini, jadi aku akan kasih pandangan beliau tentang standar TikTok.
- Kartini vs. Materialisme
Dalam surat-suratnya, Kartini menekankan
pentingnya pendidikan dan kemandirian, bukan ketergantungan pada laki-laki. Beberapa kutipan relevan:
- "Kami ingin diakui sebagai manusia yang berpikir." → Kartini akan menolak standar yang mengurangi perempuan jadi "penerima manfaat" atau laki-laki jadi "penyedia materi".
- "Bukanlah kekayaan, bukanlah gelar, melainkan karakterlah yang menjadikan manusia mulia." → Dia akan kritik standar TikTok yang mengukur nilai seseorang dari materi/penampilan.
Tanggapan terhadap "Cowo harus kaya":
"Jika perempuan menuntut laki-laki harus kaya, lalu di mana usaha kita untuk mandiri? Emansipasi bukan tentang mengganti belenggu, tapi membebaskan diri dari segala belenggu."
- Kartini dan Kesetaraan Hak
Kartini memperjuangkan
kesetaraan manusia, bukan pembalikan kekuasaan.
- Dia menentang poligami dan perkawinan paksa, tapi juga tidak akan mendukung hubungan yang menindas laki-laki secara material.
- Dalam suratnya: "Kita harus menjadi manusia sebelum menjadi perempuan atau laki-laki." → Standar TikTok yang timpang (seperti tuntutan finansial sepihak) justru mengkotakkan gender lebih dalam.
Tanggapan terhadap "Cewe adalah queen yang harus dilayani":
"Jika perempuan ingin dihormati sebagai ratu, apakah mereka juga siap menghormati laki-laki sebagai raja? Atau lebih baik saling menghargai sebagai manusia sederajat?"
- Kartini vs. Kesenjangan Sosial
Kartini peduli pada
akses pendidikan untuk semua kalangan, termasuk rakyat jelata.
- Dia akan prihatin melihat standar TikTok yang elitis ("Gaji minimal 10 juta") karena mengabaikan realita masyarakat kelas pekerja.
- Analoginya: Dia menentang feodalisme Jawa, jadi dia juga akan lawan "feodalisme baru" di TikTok yang menciptakan hierarki berdasarkan materi.
Tanggapan terhadap konten kelas sosial:
"Bagaimana bisa kita bicara cinta kalau ukurannya cuma harta? Di desa-desa, banyak perempuan dan laki-laki yang berjuang bersama tanpa syarat duniawi seperti ini."
Kesimpulan
"Jadilah seperti Kartini: Berani berpikir, berani menolak, dan berani merdeka—bahkan dari tren TikTok sekalipun."
Komentar 0