Stunting: Ancaman Serius bagi Generasi Masa Depan yang Harus Dicegah Sejak Dini
Oleh Redaksi
Oleh: Viona Rezky Rahmadani Sihaloho, S.GzMahasiswa Profesi Dietisien Universitas Esa UnggulMahasiswa.co.id - Di balik pertumbuhan anak yang tampak sehat, sering kali tersembunyi ancaman yang tidak kasat mata. Salah satunya adalah stunting, sebuah kondisi akibat kekurangan gizi kronis yang bisa terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Meski tidak selalu langsung terlihat, stunting memiliki dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kemampuan belajar anak. Lebih dari sekadar masalah tinggi badan, stunting mencerminkan kualitas sumber daya manusia dan menjadi tantangan besar bagi masa depan bangsa.
Apa Itu Stunting?
Stunting atau perawakan pendek adalah kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi selama kehamilan atau 1000 hari pertama kehidupan anak mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun. Anak yang stunting biasanya memiliki tinggi badan di bawah standar usianya. Penentuan stunting dilakukan dengan mengukur panjang/tinggi badan berdasarkan usia. Seorang anak dikatakan stunting jika didapatkan nilai panjang/tinggi badan berdasarkan usia berada di bawah nilai standar deviasi -2SD.
Mengapa Stunting Terjadi?
Stunting terjadi karena berbagai faktor, termasuk kurangnya asupan gizi yang tepat, infeksi yang berulang, serta faktor lingkungan dan sosial ekonomi. Pola makan yang tidak seimbang, kurangnya akses ke makanan bergizi, serta kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi juga berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Selain itu, kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan saat menyusui juga sangat mempengaruhi; jika ibu mengalami malnutrisi, maka bayi yang dilahirkan juga berisiko tinggi mengalami stunting.
Dampaknya Tak Hanya Sekadar Pendek
Stunting bukan sekadar soal tinggi badan. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki:
1. Keterlambatan perkembangan otak dan belajar, bahkan hingga sulit berprestasi di sekolah.
2. Kesulitan dalam dunia kerja di masa depan, karena kemampuan fisik dan kognitif yang terbatas.
3. Risiko lebih tinggi terkena penyakit seperti diabetes dan obesitas di usia dewasa.
Tren Stunting di Indonesia (2023–2025)
Penanganan stunting di Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun masih menghadapi banyak tantangan.
1. Tahun 2023: Prevalensi stunting nasional mencapai 21,5% atau sekitar 4,8 juta anak balita.
2. Tahun 2024: Angka ini turun menjadi 19,8%, melebihi target tahunan yang ditetapkan pemerintah (20,1%). Penurunan ini setara dengan 357 ribu kasus stunting lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
3. Target tahun 2025: Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun hingga 18,8%.
“Target ini tidak mudah, tapi cukup menantang untuk dikejar. Dari angka 21,5% di 2023, kita harus turun ke 14,2% di 2029 sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun bersama Sekretariat Wakil Presiden dan Bappenas, artinya kita harus menurunkan sekitar 7,3% dalam lima tahun,” ujar Menkes Budi (dikutip dari rilis resmi Kemenkes Republik Indonesia pada tanggal 26 Mei 2025).
Upaya Pencegahan: Mulai dari Ibu, Keluarga, hingga Negara
Pencegahan stunting membutuhkan intervensi menyeluruh dari hulu hingga hilir:
1. Pemenuhan Gizi Ibu Hamil dan Menyusui
Konsumsi makanan bergizi seimbang, suplemen zat besi, asam folat, dan pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting untuk mendukung pertumbuhan janin secara optimal.
2. Pemberian ASI Eksklusif dan MPASI Bergizi
Bayi sebaiknya diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, setelah usia > 6 bulan tetap dilanjutkan ASI dengan pemberian makanan pendamping ASI yang aman dan bergizi.
3. Imunisasi dan Perawatan Dasar Kesehatan
Untuk mencegah infeksi yang bisa memperburuk status gizi anak. Selain itu, akses terhadap layanan Kesehatan seperti pemantauan pertumbuhan anak di Posyandu membantu mendeteksi masalah kesehatan sedini mungkin.
4. Perbaikan Sanitasi dan Akses Air Bersih
Termasuk kebiasaan cuci tangan pakai sabun, sanitasi layak, dan pengelolaan limbah rumah tangga.
5. Edukasi Pola Asuh dan Gizi untuk Orang Tua
Meningkatkan pengetahuan ibu tentang nutrisi anak dan pentingnya pemantauan tumbuh kembang.
Kebijakan dan Program Pemerintah yang Mendukung
Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program untuk mengakselerasi penurunan stunting:
1. Program Makan Bergizi Gratis (2025): Menyasar anak sekolah dan ibu hamil untuk memperbaiki asupan gizi.
2. Pembentukan Badan Gizi Nasional (2024): Lembaga khusus yang mengelola anggaran Rp 71 triliun untuk menjalankan program gizi, termasuk suplai nutrisi dan edukasi.
3. Intervensi Pra-kelahiran: Fokus pada remaja putri dan ibu hamil melalui suplemen gizi dan pemantauan ke posyandu.
4. Pendekatan Wilayah Spesifik: Menyesuaikan strategi dengan kondisi tiap provinsi, terutama wilayah dengan prevalensi tinggi.
Sumber:
Aprilyawan, G., & Wibowo, T. S. (2024). The influence of health education on mother's knowledge about stunting prevention in toddler age children: Literature review. Open Access Health Scientific Journal, 5(1), 43. https://doi.org/10.55700/oahsj.v5i1.43
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2024). Capaian SSGI 2024 ungkap tren positif dan tantangan wilayah. Diakses dari https://www.badankebijakan.kemkes.go.id
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen berdasarkan hasil SSGI 2024. Diakses dari https://kemkes.go.id
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2024). Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting. Diakses dari https://kemenkopmk.go.id
Rambe, N. L., Hutabarat, E. N., & Hafifah, R. (2023). The effect of stunting on children's cognitive development: Systematic review. Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health, 5(2), 14807. https://doi.org/10.30829/contagion.v5i2.14807
Rini, M. T., Suryani, K., Hardika, B. D., & Widiastari, N. K. (2023). Analisis faktor penyebab kejadian stunting. Jurnal Keperawatan Florence Nightingale (JKFN), 6(1), 8–12. https://doi.org/10.52774/jkfn.v6i1.1128
Santoso, P., & Pujianto, T. (2024). The analysis of factors that influence stunting. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 11(2), 200–208. https://doi.org/10.26699/jnk.v11i2.art.p200-208
Stunting.go.id. (2024). 11 intervensi spesifik dan sensitif dalam pencegahan stunting. Diakses dari https://stunting.go.id
Wardani, L. K., Aulia, V., Hadhikul, M., & Kardila, M. (2023). Risks of stunting and interventions to prevent stunting. Journal of Community Engagement in Health, 6(2), 241–245. https://doi.org/10.30994/jceh.v6i2.528
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0