Thrifting: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Sekadar Gaya-Gayaan?
Oleh Nadia
Oleh: Paulina Setyawati
Mahasiswa.co.id - Tren pakaian bekas atau thrifting kini sedang naik daun, terutama di kalangan anak muda urban. Kegiatan yang dulunya dipandang sebagai “pilihan terakhir” karena keterbatasan ekonomi, kini justru dianggap keren dan bahkan disebut sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan. Tagar seperti #ThriftHaul, #ThriftFlip, hingga #SecondhandStyle ramai di media sosial, memperlihatkan betapa masifnya tren ini menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Namun, dalam euforia tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah semua yang terlibat dalam tren ini benar-benar peduli lingkungan, atau hanya ingin terlihat "sadar lingkungan" demi pencitraan dan validasi sosial?
Secara ideal, thrifting adalah bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Industri mode cepat (fast fashion) menyumbang limbah tekstil dalam jumlah besar, mencemari air, serta menyumbang emisi karbon yang signifikan. Dengan membeli pakaian bekas, kita memperpanjang usia pakai sebuah barang, mengurangi permintaan terhadap produk baru, serta menekan jumlah pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Di Indonesia sendiri, permasalahan sampah tekstil semakin nyata. Banyak kota menghadapi krisis lahan untuk pembuangan sampah, termasuk limbah pakaian. Dalam konteks ini, thrifting memang bisa menjadi alternatif positif bagi lingkungan. Ini bisa menjadi bentuk nyata dari kepedulian terhadap bumi dan penolakan terhadap budaya konsumtif yang rakus sumber daya.
Namun, dalam praktiknya, makna ideal thrifting sering kali menyimpang. Tidak sedikit pelaku thrifting yang membeli pakaian bekas secara besar-besaran hanya karena murah, lucu, atau sedang tren. Beberapa bahkan memanfaatkan fenomena ini sebagai ajang unjuk diri di media sosial, menjadikan pakaian bekas sebagai komoditas gaya, bukan lagi bentuk kesadaran lingkungan.
Ini menimbulkan ironi. Ketika seseorang membeli puluhan pakaian bekas namun hanya satu-dua yang benar-benar digunakan, bukankah itu sama saja dengan perilaku konsumtif dalam fast fashion? Konsumsi berlebihan tetaplah konsumsi berlebihan, terlepas dari apakah barangnya baru atau bekas. Jika membeli pakaian hanya demi konten, bukan kebutuhan, maka tujuan keberlanjutan yang diusung thrifting menjadi kehilangan makna.
Lebih jauh, efek domino dari tren ini juga mulai terasa di pasar-pasar lokal. Harga pakaian bekas di beberapa tempat meningkat karena permintaan yang melonjak, menjadikannya tidak lagi terjangkau bagi kalangan yang dahulu mengandalkannya sebagai kebutuhan, bukan sekadar pilihan gaya hidup. Thrifting, yang dulunya menjadi solusi ekonomi, kini berubah menjadi komoditas eksklusif untuk tampil berbeda.
Agar tidak terjebak dalam sikap munafik yang membungkus konsumsi dengan label “ramah lingkungan”, perlu ada refleksi kritis dari kita semua. Apakah kita membeli pakaian bekas karena sadar akan krisis lingkungan, atau hanya mengikuti arus tren agar tidak ketinggalan zaman? Apakah kita membeli barang karena butuh, atau karena ingin tampil estetik di linimasa?
Thrifting seharusnya menjadi gerakan sadar, bukan sekadar simbol gaya hidup. Ia mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap konsumsi: dari membeli secara impulsif menjadi selektif, dari memperbanyak kepemilikan menjadi memaksimalkan pemanfaatan. Lebih penting lagi, thrifting mestinya menjadi jembatan menuju ekonomi sirkular—di mana barang terus digunakan, diperbaiki, dan dihargai, bukan dibuang.
Jika dilakukan dengan hati dan kesadaran penuh, thrifting bisa menjadi langkah kecil namun bermakna dalam melawan krisis iklim. Namun jika hanya dilakukan demi pengakuan, maka sejatinya kita sedang berbohong pada diri sendiri—dan pada bumi yang sedang menjerit.
Sudah waktunya kita memilih dengan bijak. Bukan sekadar berpakaian bekas, tapi berpikir ulang tentang cara kita hidup dan mengonsumsi. Thrifting bukan tentang terlihat sadar, melainkan benar-benar peduli.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0