Alumni Magister Promosi Kesehatan Undip Ajak Masyarakat Rutin Berdonor
Oleh TIM Redaksi
Karyawan Klinik HA-Medika Raih Penghargaan PMI Foto: Dok Pribadi
KENDAL — Donor darah selama ini kerap dipahami sebagai aksi kemanusiaan yang dilakukan ketika terjadi kondisi darurat, bencana, atau adanya permintaan khusus. Padahal, kebutuhan darah untuk pelayanan kesehatan berlangsung setiap hari.
Darah dibutuhkan untuk membantu penanganan pasien kecelakaan, ibu melahirkan, penderita talasemia, pasien kanker, hingga pasien yang menjalani operasi besar. Oleh karena itu, pemenuhan stok darah tidak dapat hanya bergantung pada kegiatan donor yang bersifat insidental.
Diperlukan partisipasi masyarakat secara konsisten dengan menjadikan donor darah sebagai kebiasaan sekaligus bagian dari budaya hidup sehat.
Semangat tersebut ditunjukkan oleh alumni Magister Promosi Kesehatan (MPK) Universitas Diponegoro (Undip), Dani Satria, M.Kes., yang telah mendonorkan darah sebanyak 30 kali.
Bagi Dani, donor darah bukan hanya bentuk kepedulian terhadap sesama, tetapi juga merupakan praktik nyata penerapan perilaku hidup sehat secara konsisten.
Pengalamannya menjadi bukti bahwa donor darah dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat yang memenuhi persyaratan kesehatan. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa promosi kesehatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian edukasi, tetapi juga melalui keteladanan.
“Dalam perspektif ilmu promosi kesehatan, perubahan perilaku masyarakat tidak cukup dicapai melalui penyampaian informasi semata. Diperlukan pembiasaan, dukungan lingkungan, serta hadirnya figur yang mampu menjadi teladan,” kata Dani di Kendal, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026).
Dani yang juga menjabat sebagai Manajer Operasional Klinik HA-Medika Kendal menjelaskan bahwa donor darah merupakan salah satu perilaku kesehatan yang memberikan manfaat ganda bagi penerima maupun pendonor.
Di satu sisi, darah yang didonorkan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk mempertahankan hidup. Di sisi lain, pendonor akan terdorong untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat dan memenuhi persyaratan untuk mendonorkan darah secara berkala.
“Kebiasaan ini secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan, kualitas istirahat, aktivitas fisik, dan gaya hidup yang lebih sehat,” ujarnya.
Menurut Dani, membangun budaya donor darah juga merupakan bentuk investasi sosial dalam bidang kesehatan. Semakin banyak masyarakat yang menjadikan donor darah sebagai kebiasaan, semakin kuat pula ketahanan sistem pelayanan kesehatan karena ketersediaan darah menjadi lebih terjamin.
Hal tersebut dinilai penting karena kebutuhan darah terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan layanan medis, serta bertambahnya kasus penyakit yang membutuhkan transfusi darah secara rutin.
Karena itu, kegiatan promosi donor darah tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Gerakan tersebut perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dengan melibatkan institusi pendidikan, komunitas masyarakat, organisasi profesi, lembaga pemerintahan, hingga dunia usaha.
“Sebagai alumni Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro, upaya mengajak masyarakat membudayakan donor darah merupakan bagian dari implementasi keilmuan yang dipelajari selama masa pendidikan,” tuturnya.
Dani mengatakan promosi kesehatan pada hakikatnya bertujuan memberdayakan masyarakat agar mampu mengambil keputusan yang mendukung kesehatan diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.
Menjadikan donor darah sebagai budaya hidup sehat merupakan salah satu implementasi nyata dari tujuan tersebut.
“Dengan semakin banyak masyarakat yang mendonorkan darah secara sukarela dan rutin, bukan hanya stok darah yang semakin terjaga, tetapi juga tumbuh budaya saling peduli, gotong royong, dan solidaritas kemanusiaan yang menjadi fondasi penting bagi pembangunan kesehatan di Indonesia,” pungkas Dani.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0