Penulis : Niken Sulistyaningsih, S.Gz – Mahasiswi Profesi Pendidikan Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul Jakarta
Mahasiswa.co.id Berat badan balita yang sulit naik atau sering disebut “BB seret” masih menjadi masalah gizi yang banyak ditemukan di Indonesia. Kondisi ini sering kali membuat orang tua merasa khawatir karena anak tampak sulit bertambah berat badannya meskipun sudah makan setiap hari. Dalam praktiknya, penyebab berat badan balita yang tidak optimal berkaitan dengan jumlah makanan. Selain itu juga kualitas MPASI, cara pemberian makan, frekuensi makan, hingga respons orang tua saat anak makan.
Menurut pedoman World Health Organization (WHO) (2003) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), periode usia 6–23 bulan merupakan fase kritis pertumbuhan anak karena kebutuhan energi dan zat gizi lain mulai tidak dapat dipenuhi hanya dari ASI. Oleh sebab itu, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat menjadi penentu penting status gizi balita. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik MPASI yang kurang tepat berhubungan dengan kejadian berat badan kurang (underweight), stunting, maupun gangguan pertumbuhan lainnya. Salah satu kesalahan yang juga sering ditemukan adalah pemberian MPASI terlalu dini atau justru terlambat.
Pedoman WHO dan Kemenkes menegaskan bahwa MPASI dianjurkan mulai usia 6 bulan karena setelah usia tersebut kebutuhan energi dan zat besi anak meningkat, sedangkan ASI saja tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan kalorinya. Jika MPASI diberikan terlalu cepat, sistem pencernaan bayi belum siap sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran cerna dan diare. Sebaliknya, keterlambatan pemberian MPASI menyebabkan anak kekurangan energi dan protein yang dibutuhkan untuk tumbuh. Selain waktu pemberian, kualitas MPASI juga menentukan kenaikan berat badan balita. Banyak orang tua masih memberikan MPASI dengan tekstur terlalu cair seperti bubur encer atau hanya dominan karbohidrat tanpa protein hewani. Padahal, penelitian dan pedoman WHO menekankan pentingnya protein hewani seperti telur, ikan, ayam, hati, daging, dan susu sebagai sumber zat besi serta protein berkualitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan berat badan anak.
Kemenkes RI tahun 2024 menjelaskan bahwa MPASI yang baik harus memenuhi empat prinsip utama, yaitu tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan dengan cara yang benar. Adekuat berarti makanan mampu memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral sesuai usia anak. Dalam praktiknya, masih banyak balita makan dengan porsi kecil, frekuensi makan kurang, atau menu tidak bervariasi sehingga kebutuhan gizinya belum tercapai. Permasalahan lain yang mulai banyak dibahas dalam penelitian terbaru adalah praktik responsive feeding. Responsive feeding merupakan cara pemberian makan dengan memperhatikan sinyal lapar dan kenyang anak, memberi makan secara sabar, tanpa paksaan, dan menciptakan suasana makan yang menyenangkan. WHO menekankan bahwa waktu makan seharusnya menjadi momen interaksi positif antara anak dan ibu/pengasuh.
Penelitian SY Sri Devi dkk (2026) menunjukkan bahwa praktik responsive feeding berhubungan dengan status gizi balita. Anak yang sering dipaksa makan, makan sambil bermain games, atau makan dalam suasana tidak nyaman cenderung mengalami kesulitan makan dan asupan gizinya menjadi tidak optimal. Sebaliknya, pemberian makan yang responsif membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami sehingga pola makannya lebih baik. Namun demikian, berat badan balita yang seret tidak selalu hanya disebabkan oleh MPASI. Faktor lain seperti infeksi berulang (ISPA, diare, tuberkulosis), sanitasi yang buruk, kurangnya stimulasi, kondisi sosial ekonomi keluarga, hingga rendahnya pengetahuan gizi ibu juga berperan terhadap pertumbuhan anak. Oleh karena itu, evaluasi berat badan balita perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pemantauan rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan.
Dalam konteks pencegahan masalah gizi, edukasi mengenai praktik MPASI yang tepat menjadi sangat penting. Orang tua perlu memahami bahwa kenaikan berat badan anak bukan hanya dipengaruhi oleh banyaknya makanan, tetapi juga kualitas menu, jadwal/frekuensi pemberian makan, suasana makan yang nyaman, serta konsistensi pola asuh dalam pemberian makan sehari-hari. Pendekatan berbasis keluarga dan pendampingan kader kesehatan juga terbukti membantu meningkatkan praktik pemberian makan bayi dan anak di Masyarakat. Beberapa panduan menghadapi anak ketika sulit makan antara lain :
1. Memperkenalkan jenis-jenis makanan baru, terkadang anak-anak dapat menerima makanan baru ketika ditawarkan 10-15 kali 2. Variasikan pilihan rasa, jenis makanan sehat dan sajikan dalam bentuk menarik 3. Kombinasikan makanan favorit anak dengan menu baru 4. Menawarkan finger foods (makanan yang dapat digenggam oleh anak) yang sehat 5. Jangan memaksa anak makan, tetap tawarkan dengan konsisten 6. Batasi waktu makan maksimal 30 menit 7. Ciptakan rutinitas bahwa makan adalah kegiatan yang dikerjakan pada waktu yang sama setiap hari 8. Jadikan makan sebagai kegiatan yang menyenangkan 9. Hindari kegiatan lain saat makan (mindful eating)
Dengan demikian, “BB balita seret karena MPASI” merupakan kondisi yang dapat terjadi apabila praktik pemberian MPASI belum sesuai rekomendasi. MPASI yang tidak adekuat, kurang protein hewani, frekuensi makan yang tidak sesuai, serta cara pemberian makan yang kurang responsif dapat menyebabkan kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi optimal. Oleh karena itu, perbaikan kualitas MPASI dan edukasi pemberian makan yang tepat menjadi langkah penting untuk mendukung pertumbuhan dan mencegah masalah gizi pada balita.
Penulis : Niken Sulistyaningsih, S.Gz – Mahasiswi Profesi Pendidikan Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul Jakarta
Referensi : 1. IDAI. 208. Pemberian Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Indonesia: UKK Nutrisi Metabolik dan Penyakit Metabolik IDAI 2. Devi, SY Sri dkk. 2026. Hubungan Responsive Feeding Ibu dengan Status Gizi Anak Usia 12-24 Bulan. Sumatera: Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 8(2), pp.75-82 3. Kementerian Kesehatan RI. 2024. Petunjuk Teknis Pemantauan praktik MP-ASI anak Usia 6-23 bulan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI 4. Novi Aryanti dkk. 2024. Edukasi dan Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak dari Bahan Lokal bagi Ibu Balita dan Ibu Hamil. JAGRI: Salnesia, 5(2), pp. 453-460 5. World Health Organization. 2023. Infant and Young Child Feeding. Geneva: World Health Organization
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0