Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Belajar Tenang di Tengah Lelah: Menyelami Buku Aku Terlalu Lelah untuk Mengeluh

Buku Aku Terlalu Lelah
(Cover buku Aku Terlalu Lelah untuk Mengeluh/ Foto: Aliifah)

Mahasiswa.co.id - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, setiap orang senantiasa berlomba-lomba mengejar kesuksesan, baik dalam karir, pendidikan, hubungan dan lain sebagainya. Namun, dibalik itu semua, mereka menyimpan rasa lelah dan letih akan kehidupan yang terus bergulir tanpa henti. Ada kalanya kita ingin rehat sejenak, tetapi kehidupan justru menuntut kita untuk terus berjalan bahkan berlari.

Ingin rasanya mengeluh akan beban hidup yang begitu berat, tetapi bukankah semua orang juga merasakan rasa lelah yang sama? Lantas kepada siapa kita harus mencurahkan keluh kesah ini?

Buku Aku Terlalu Lelah untuk Mengeluh hadir sebagai jawaban, menemani langkah seseorang dalam berjuang melawan kelelahan. Buku ini menjadi tempat berpulang di kala seseorang bingung harus ke mana lagi mencurahkan penatnya.

Diterbitkan oleh Gagas Media, buku ini ditulis oleh Wisnu Widiatmoko, pemilik akun media sosial @penyambutsenja yang menjadi wadah baginya berkarya melalui tulisan, menyampaikan semua yang ia rasakan dan tidak bisa diungkapkan oleh ucapan. Dengan ketebalan 190 halaman, buku bergenre pengembangan diri ini mengupas rasa lelah yang tidak bisa hilang sekadar dengan beristirahat.

Buku yang Menemani di Tengah Kelelahan
Buku ini berisi kata-kata tentang realita kehidupan dalam bentuk motivasi yang tersusun rapi, mengulas bagaimana seseorang menghadapi dan berdamai dengan masalahnya, hingga berterima kasih terhadap dirinya sendiri. Di awal buku, banyak menceritakan tentang kelelahan, putus asa, dan beban hidup yang dialami seseorang. Namun, di akhir buku, pembaca diajak untuk senantiasa memaafkan dan berterima kasih terhadap diri sendiri, serta bangkit kembali dengan semangat baru untuk menjalani kehidupan yang masih panjang.

Setiap kata dalam buku ini seakan membuat pembaca merasakan dan tenggelam dalam kalimat yang seolah mengekspresikan keadaan pembaca saat itu. Di kala rasa lelah, putus asa, bingung, bimbang mereka pendam sendiri dalam dirinya. Buku ini hadir sebagai ruang bagi seseorang meluapkan rasa lelah tersebut.

“Tidak berharap usai
Tak apa sesuatu yang menyesakkan itu masih ada
Hanya berharap tenang meskipun sebentar
Hanya berharap kuat meskipun dipaksakan”
Itulah salah satu kalimat paling berkesan menurut saya dari buku self-improvement ini.

Buku ini memberikan pembelajaran sekaligus pelukan hangat bagi pembaca melalui kata-kata motivasi yang sangat relatable. Setiap kalimat seakan mewakili perasaan pembaca yang sedang terpuruk dan bingung untuk mencurahkan isi hatinya. Alur buku yang terbagi dalam beberapa sub bab juga sangat runtut.

Namun, ketiadaan daftar isi yang detail di bagian awal membuat saya kebingungan akan isi buku. Jika setiap sub bab dicantumkan dalam daftar isi, pembaca dapat langsung mencari kata-kata yang sesuai dengan suasana hati atau kondisi mereka saat itu. Hal itu memudahkan pembaca yang sedang berada dalam posisi emosional tertentu untuk menemukan bagian yang paling mereka butuhkan.

Buku ini mengajarkan kita bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, asalkan kita tetap memiliki motivasi untuk melanjutkan perjalanan kembali. Berikan jeda dan waktu pada diri sendiri untuk lebih memahami diri dan merasakan istirahat dari kehidupan dunia yang tiada henti.

Buku Aku Terlalu Lelah untuk Mengeluh cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang mengalami rasa lelah, burnout, atau kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya. Luangkan waktu sejenak untuk membaca buku ini yang dapat menenangkan kembali hati dan memberikan semangat baru untuk bangkit. Saat keheningan menjadi satu-satunya cara menenangkan kepala yang bising.

Oleh: Aliifah Rahmah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.