Mahasiswa.co.id - Bagi masyarakat Banjar terutama yang tinggal di kota Banjarmasin, dapat kita temui sejumlah kuburan yang dianggap keramat, terutama kuburan-kuburan para alim ulama. Hal ini sudah menjadi suatu tradisi di mana masyarakat Banjar selalu meluangkan waktu mereka untuk menziarahi tempat-tempat tersebut. Perilaku masyarakat Banjar terhadap tempat-tempat keramat atau kuburan yang diyakini di dalamnya berisi wali Allah begitu beragam[1].
Perilaku mereka ada yang memiliki landasan berupa dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah dan ada juga perilaku yang tidak bersumber dari dalil Islam. Adapun ritual yang berlandaskan dalil-dalil Islam di antaranya adalah membaca Yasin, salam kepada ahli kubur, membaca Al-fatihah dan membaca tahlil. Namun tidak bisa dipungkiri juga ada perilaku yang dilakukan masyarakat Banjar yang tidak memiliki landasan dari ajaran agama Islam, di antaranya adalah mengambil batu yang berada di sekitar makam untuk dijadikan sebagai jimat pelindung atau dengan tujuan yang beragam, melakukan mandi-mandi tertentu, meletakkan kain kuning daan meletakkan batu akik terhadap hal-hal yang dianggap memiliki kekuatan di kuburan tersebut.
Secara umum masyarakat Banjar percaya bahwasanya kuburan-kuburan tadi memiliki keberkahan, kekeramatan serta kekuatan gaib. Mereka menjadikannya wasilah sebagai perantara doa mereka, agar lebih cepat dikabulkan oleh Tuhan. Masyarakat Banjar memiliki keyakinan bahwasanya para wali tadi memiliki kemampuan untuk menyambungkan antara peziarah dengan Tuhan, harapannya dengan mediasi tadi hajat mereka dikabulkan dengan lebih cepat.
Beberapa motif yang ditemukan dalam masyarakat Banjar ketika melakukan ziarah kubur ke makam yang dianggap keramat atau memiliki keberkahan, diantaranya adalah untuk menunaikan nazar, ingin memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit, ingin mempercepat datangnya jodoh dan ingin mendapat keberkahan dari shohibul wilayah di kuburan tersebut[2].
Dalam fenomena ziarah kubur ini kita dapat mengamati interaksi sosial mereka menggunakan landasan teori yang digagas oleh Ibnu Khaldun yaitu ashabiyah. Ashabiyah berasal dari kata bahasa Arab yang artinya semangat golongan atau semangat suatu kelompok. Dalam terminologinya Ibnu Khaldun menyatakan bahwasanya ashabiyah merupakan suatu sikap fanatisme atau kecintaan seseorang terhadap keturunan keluarga dan golongannya. Dalam sisi psikologis hal ini mampu mengikat masyarakat dalam menjalin hubungan yang emosional serta saling menyayangi dan hormat di antara mereka.
Dalam hal ini masyarakat Banjar melihat tuan Guru atau kuburan wali tersebut sebagai satu hal yang mengikat di antara hati mereka, Karena rasa cinta mereka terhadap sosok tersebut. Sehingga menimbulkan adanya dorongan untuk memuliakan tempat tersebut. Tidak dipungkiri pula bahwasanya tidak sebatas makam wali tersebut yang dihormati pada benak masyarakat Banjar, zuriyah atau keluarga serta keturunan mereka juga akan dimuliakan dan dicintai sebagaimana ulama atau wali yang telah dimakamkan di tempat keramat tersebut.
Menurut Ibnu Khaldun peranan ashabiyah ini dalam interaksi sosial mampu menjalin ikatan persaudaraan dan kekeluargaan yang dilandaskan atas kecintaan terhadap suatu tokoh. Dalam hal ini kita dapat melihat praktiknya bagaimana rombongan peziarah kubur itu kebanyakan berasal dari majelis taklim yang ada di Banjarmasin hingga luar kota Banjarmasin.
Walaupun mereka tidak memiliki ikatan darah, tetapi mereka memiliki keterpanggilan cinta yang sama terhadap tokoh yang akan diziarahi, sehingga mereka meluangkan waktu, materi dan tenaga untuk bersama-sama berkumpul melakukan wisata religi ke kuburan wali-wali yang dianggap memiliki keberkahan dan memiliki ruang di hati para peziarah. Hal ini selaras dengan apa yang telah penulis temukan ketika mengobservasi kuburan tuan Guru Zuhdi.[3].
Dari seluruh narasumber yang penulis temui ketika melakukan wawancara, penulis menemukan fakta bahwasannya setelah melakukan ziarah, mereka merasa memiliki ketenangan hati dan berdampak baik bagi mereka dalam menjalani kehidupan sosial. Perilaku ritual mereka jika kita lihat secara kolektif, biasanya ziarah yang dilakukan secara rombongan akan dipimpin oleh ustadz atau tuan Guru dari majelis tersebut. Rangkaian doa-doa akan dipimpin serta dibimbing oleh tuan Guru atau ustadz dalam rombongan tadi.[4].
Setelah kita melihat bagaimana interaksi sosial mereka, dapat dikatakan ashabiyah yang terjadi di masyarakat Banjar terutama dalam ziarah kubur ke makam wali khususnya ke kubah Guru Zuhdi, jikalau mengacu terhadap teori Ibnu Khaldun, hal ini termasuk kategori ashabiyah yang baik, artinya membangun interaksi sosial masyarakat menjadi lebih rekat dan bersatu. Bukti empirisnya kita dapat lihat ketika haul abah guru Zuhdi, begitu begitu banyak masyarakat yang antusias saling bahu membahu mewujudkan haul tersebut dengan menyumbangkan bantuan berupa uang tunai, makanan, minuman dan lain-lain.
Oleh: Nurjannah (Mahasiswi semester 5, Program Khusus Ulama, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Antasari Banjarmasin)
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0