Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Dari Kampus Untuk Sekolah: Mahasiswa Mercu Buana Yogyakarta Ajak Remaja Kenali HIV

Mercu Buana Yogyakarta

SLEMAN, Mahasiswa.co.id - Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Mercu Buana Yogyakarta membentuk kelompok dengan nama BATION “Brave Caring Generation”. Kelompok ini menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dengan sistem hybird, yakni luring berlokasi di SMAN 1 Cangkringan dan daring melalui zoom meeting. Bation mengangkat judul “Memahami HIV dari Dasar Hingga Dinamika Remaja”. Bation berfokus pada pengenalan pencegahan HIV karena terpantik kenaikan kasus HIV terutama di Yogyakarta.  Bation melakukan kolaborasi dengan Yayasan Vesta dengan menghadirkan Hendra S. Ahmad sebagai narasumber. Acara ini dilaksanakan pada hari Kamis 19 Juni 2025 pukul 10:20 WIB. Dalam acara ini juga turut bergabung Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Meinardus Ledo Leu Eha, S.I.Kom., M.A., selaku pengampu mata kuliah Kampanye Public Relations.

Acara diawali dengan sambutan oleh ketua pelaksana Novana Fitria. Sebagai dosen pengampu mata kuliah Kak Meinardus Ledo Leu Eha, S.I.Kom., M.A. juga memberikan sambutan sebagai penanda acara dimulai. Dalam sambutannya beliau mengatakan “ Dengan adanya webinar pagi hari ini semoga menjadi pembelajaran untuk adik-adik semua kedepannya dan menjadi modal mereka untuk memulai hidup baru”  dilanjutkan dengan harapan kepada Yayasan Vesta Indonesia “ semoga Yayasan Vesta Indonesia terus berkembang karena program ini merupakan program yang bagus semoga pembelajaran ini menjadi sesuatu yang berguna”.

Acara berlanjut dan memasuki sesi materi yang di sampaikan oleh Hendra S. Ahmad Paralegal Officer Yayasan Vesta Indonesia. Dalam materi yang dibawakan Kak hendra menekankan pada pengenalan HIV/AIDS dari pencegahan hinggan peran remaja sebagai generasi selanjutnya. Selain itu data kasus HIV/AIDS di Yogyakarta juga ditampilkan terlebih Sleman menjadi yang tertinggi. Sleman menduduki peringkat pertama dengan 2157 kasus HIV pada tahun 2024 dan AIDS sebanyak 550. Untuk itu Kak Hendra menyampaikan "Pendidikan Sexual menjadi prioritas untuk generasi mendatang". Serta beliau memaparkan bahwa remaja harus mengenali paling tidak bagaimana cara mencegah dan bagaimana penularan HIV secara mendasar. Penyampaian materi dilakukan dengan santai agar menarik audiens baik yang berada di SMAN 1 Cangkringan maupun peserta yang tergabung dalam zoom meeting.

Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan sesi tanya-jawab atau diskusi antara peserta dengan narasumber. Kegiatan ini dipandu oleh Alya Febri selaku MC pada acara ini. Tingkat antusiasme audiens sangat tinggi, terlihat dari ramainya reaction serta banyaknya pertanyaan yang dikirimkan melalui kolom chat. Salah satu pertanyaan menarik dari salah satu audiens adalah mengenai pendidikan sexual bagi remaja. “Bagaimana Peran Pendidikan Sexsual dalam Menekan Kenaikan Kasus HIV serta bagaimana cara mendampingi orang yang sudah terjangkit virus tersebut”. Pertanyaan tersebut menarik sehingga audiens mendapatkan rewards berupa saldo e-money. Kak Hendra menjawab dengan lugas dan santai sehingga audiens merasa nyaman dengan sesi diskusi yang dilaksanakan. Dilanjutkan dengan acara dokumentasi yang dilaksanakan di sekolah SMAN 1 Cangkingan serta pada zoom meeting. Selanjutnya tim juga bertemu dengan guru-guru guna mengucapkan terimakasih atas izin melaksanakan sosialisasi.

Dengan adanya sosialisasi ini Bation berharap pengetahuan HIV di kalangan remaja sebaiknya dimulai dengan memberikan pemahaman yang benar sejak dini mengenai apa itu HIV, bagaimana penularannya, serta cara-cara pencegahannya. Pemahaman ini tidak hanya penting disampaikan secara ilmiah, tetapi juga harus dikemas dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh remaja. Salah satu kunci utamanya adalah menciptakan ruang komunikasi yang terbuka, baik dalam lingkungan keluarga maupun di sekolah, agar remaja merasa aman dan nyaman untuk bertanya serta berbagi pengalaman atau kekhawatiran mereka. Selain itu, penting untuk menanamkan nilai-nilai empati terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV. Dukungan sosial dari lingkungan sekitar, terutama dari teman sebaya, sangat diperlukan agar mereka yang terdiagnosis tidak merasa dikucilkan atau diasingkan. Membangun kesadaran kolektif bahwa orang dengan HIV berhak untuk hidup layaknya orang lain, tanpa stigma dan diskriminasi, merupakan langkah penting dalam membentuk lingkungan yang inklusif dan peduli. Dengan pendekatan yang menyeluruh ini, diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang berpengetahuan, peduli, dan mampu menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan HIV di masyarakat.

Penulis: Lisa Nurul Syifa
Kelompok: Bation

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.