PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Mata pelajaran ini dianggap penting karena merupakan dasar dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti sains, teknik, dan ekonomi. Pada hari ini, pembelajaran matematika di kalangan generasi Z (Gen Z) menjadi sorotan utama dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan perubahan paradigma pendidikan. Data dari berbagai jurnal menunjukkan bahwa minat terhadap mata pelajaran matematika cenderung rendah di kalangan Gen Z, menggambarkan sebuah permasalahan yang perlu dicermati secara mendalam. Mengutip penelitian yang dilakukan oleh Smith et al. (2019), sekitar 70% siswa Gen Z kurang antusias terhadap matematika, menandakan urgensi perlunya inovasi dalam strategi pembelajaran. Dan dari hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial (Puslitjak Kemsos) pada tahun 2022. Survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 38,2% siswa/i SMA di Indonesia yang menyatakan menyukai mata pelajaran matematika.
Sementara itu, hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 35% siswa yang memiliki minat tinggi terhadap matematika. Hal ini menunjukkan bahwa daya minat terhadap matematika di kalangan generasi Z di Indonesia cenderung rendah.
MATEMATIKA MENURUT PERSPEKTIF GEN Z
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang daya minat Gen Z terhadap matematika, saya telah melakukan survei kepada 20 siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) di Tangerang. Hasil survei menunjukkan bahwa 65% siswa/i menyatakan kurang memiliki minat terhadap mata pelajaran matematika. Dalam hal ini ketertarikan generasi Z terhadap mata pelajaran matematika dan berhitung kurang mendapatkan atensi menurut hasil survei hanya 30% dari 20 responden yang menyukai pembelajaran berhitung dikarenakan proses belajar yang membosankan.
Dari 20 responden, mayoritas menyatakan bahwa mereka kesulitan memahami konsep-konsep matematika dan merasakan bahwa pembelajaran matematika dianggap monoton dan kurang menarik karena pembelajarannya yang diterapkan kurang efektif dan efisien.
Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Brown (2018), yang menyimpulkan bahwa Gen Z memiliki gaya belajar yang lebih responsif terhadap pembelajaran yang interaktif dan kreatif. Dapat dikatakan bahwa faktor besar yang menyebabkan rendahnya daya minat terhadap matematika di kalangan Gen Z. Salah satu faktornya adalah metode pembelajaran yang kurang menarik dan membosankan. Gen Z merupakan generasi yang lahir di era digital, sehingga mereka cenderung lebih menyukai pembelajaran yang interaktif dan inovatif.
BAGAIMANA PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKARANG?
Dalam konteks pembelajaran matematika saat ini, survei yang saya lakukan menggambarkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru-guru mereka cenderung tradisional dan kurang memanfaatkan teknologi. Sebanyak 90% responden menyatakan bahwa pembelajaran matematika saat ini dianggap membosankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, guru mereka menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional, seperti ceramah dan latihan soal yang mereka anggap itu adalah hal-hal yang perlu dilakukan perubahan menuju arah pembelajaran yang lebih modern.
Dari sisi efektivitas penerapan metode pembelajaran konvensional, hasil survei yang saya lakukan menunjukkan bahwa hanya sedikit siswa/i yang merasa benar-benar memahami materi matematika yang diajarkan di kelas, hal ini dikarenakan 65% responden menilai metode pembelajaran yang digunakan masih belum efektif.
Hal ini sesuai dengan temuan oleh Jones (2020), yang menekankan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih dinamis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kemudian, kurikulum yang terlalu padat dan cenderung tidak mengembangkan minat belajar siswa perlu dipertimbangkan dan dievaluasi kembali agar dampak yang diberikan memberikan pelayanan terbaik bagi pendidikan siswa/i di Indonesia.
Media pembelajaran yang kurang bervariasi dan menarik, juga menjadi pertimbangan bagi efektivitas pembelajaran di kelas. Transisi pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran yang lebih modern sudah seharusnya dilakukan, sehingga penyeimbangan terhadap pembelajaran yang lebih dinamis tercipta.

Komentar 0