Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Daya Minat Mata Pelajaran Matematika dalam Perspektif Pembelajaran di Sekolah

Salinan-dari-Salinan-dari-Salinan-dari-Putih-Merah-Profesional-Minimalis-Pr_20231225_232403_0000-1

PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Mata pelajaran ini dianggap penting karena merupakan dasar dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti sains, teknik, dan ekonomi. Pada hari ini, pembelajaran matematika di kalangan generasi Z (Gen Z) menjadi sorotan utama dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan perubahan paradigma pendidikan. Data dari berbagai jurnal menunjukkan bahwa minat terhadap mata pelajaran matematika cenderung rendah di kalangan Gen Z, menggambarkan sebuah permasalahan yang perlu dicermati secara mendalam. Mengutip penelitian yang dilakukan oleh Smith et al. (2019), sekitar 70% siswa Gen Z kurang antusias terhadap matematika, menandakan urgensi perlunya inovasi dalam strategi pembelajaran. Dan dari hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial (Puslitjak Kemsos) pada tahun 2022. Survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 38,2% siswa/i SMA di Indonesia yang menyatakan menyukai mata pelajaran matematika.

Sementara itu, hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 35% siswa yang memiliki minat tinggi terhadap matematika. Hal ini menunjukkan bahwa daya minat terhadap matematika di kalangan generasi Z  di Indonesia cenderung rendah.

MATEMATIKA MENURUT PERSPEKTIF GEN Z
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang daya minat Gen Z terhadap matematika, saya telah melakukan survei kepada 20 siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) di Tangerang. Hasil survei menunjukkan bahwa 65% siswa/i menyatakan kurang memiliki minat terhadap mata pelajaran matematika. Dalam hal ini ketertarikan generasi Z terhadap mata pelajaran matematika dan berhitung kurang mendapatkan atensi menurut hasil survei hanya 30% dari 20 responden yang menyukai pembelajaran berhitung dikarenakan proses belajar yang membosankan.

Dari 20 responden, mayoritas menyatakan bahwa mereka kesulitan memahami konsep-konsep matematika dan merasakan bahwa pembelajaran matematika dianggap monoton dan kurang menarik karena pembelajarannya yang diterapkan kurang efektif dan efisien.

Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Brown (2018), yang menyimpulkan bahwa Gen Z memiliki gaya belajar yang lebih responsif terhadap pembelajaran yang interaktif dan kreatif. Dapat dikatakan bahwa faktor besar yang menyebabkan rendahnya daya minat terhadap matematika di kalangan Gen Z. Salah satu faktornya adalah metode pembelajaran yang kurang menarik dan membosankan. Gen Z merupakan generasi yang lahir di era digital, sehingga mereka cenderung lebih menyukai pembelajaran yang interaktif dan inovatif.

BAGAIMANA PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKARANG?
Dalam konteks pembelajaran matematika saat ini, survei yang saya lakukan menggambarkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru-guru mereka cenderung tradisional dan kurang memanfaatkan teknologi. Sebanyak 90% responden menyatakan bahwa pembelajaran matematika saat ini dianggap membosankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, guru mereka menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional, seperti ceramah dan latihan soal yang mereka anggap itu adalah hal-hal yang perlu dilakukan perubahan menuju arah pembelajaran yang lebih modern.

Dari sisi efektivitas penerapan metode pembelajaran konvensional, hasil survei yang saya lakukan menunjukkan bahwa hanya sedikit siswa/i yang merasa benar-benar memahami materi matematika yang diajarkan di kelas, hal ini dikarenakan 65% responden menilai metode pembelajaran yang digunakan masih belum efektif.

Hal ini sesuai dengan temuan oleh Jones (2020), yang menekankan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih dinamis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kemudian, kurikulum yang terlalu padat dan cenderung tidak mengembangkan minat belajar siswa perlu dipertimbangkan dan dievaluasi kembali agar dampak yang diberikan memberikan pelayanan terbaik bagi pendidikan siswa/i di Indonesia.

Media pembelajaran yang kurang bervariasi dan menarik, juga menjadi pertimbangan bagi efektivitas pembelajaran di kelas. Transisi pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran yang lebih modern sudah seharusnya dilakukan, sehingga penyeimbangan terhadap pembelajaran yang lebih dinamis tercipta.

SOLUSI KREATIF DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS TEKNOLOGI AR DAN VR

Merujuk hasil survei yang saya lakukan, sebesar 100% siswa/i setuju pembelajaran matematika dipadukan dan disinergikan dengan kemajuan teknologi agar pembelajarannya tidak membosankan dan mudah dimengerti serta mengharapkan pembelajaran yang lebih modern, teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) muncul sebagai solusi inovatif yang dapat membangkitkan minat dan pemahaman mereka terhadap matematika.

Dari hasil survei yang saya lakukan menyatakan bahwa sebanyak 80% siswa/i menginginkan dan menyukai penggunaan AR dan VR dalam pembelajaran matematika bagi dirinya dan siswa sebayanya. Menurut penelitian oleh Chen et al. (2021), penggunaan teknologi ini dapat memperkaya pengalaman belajar, menjadikan matematika lebih konkret dan mudah dipahami, ini merupakan solusi kreatif dan inovatif dalam pembelajaran berbasis teknologi.

Teknologi AR dan VR dapat digunakan untuk membuat pembelajaran matematika menjadi lebih interaktif, menarik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, dengan menggunakan AR, siswa/i dapat melihat objek matematika dalam bentuk tiga dimensi yang lebih nyata. Sedangkan dengan menggunakan VR, siswa/i dapat memasuki dunia matematika yang virtual dan melakukan berbagai aktivitas matematika secara nyata. Ini sesuai dengan temuan oleh Johnson (2019), yang mencatat bahwa penggunaan visualisasi dan simulasi dalam pembelajaran matematika dapat mempercepat pemahaman konsep. Dengan teknologi ini, siswa/i dapat menjelajahi ruang matematika secara dinamis, memecahkan masalah, dan membangun keterampilan berpikir kritis dengan cara yang menarik.

Sumber lain dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2022, penerapan pembelajaran matematika berbasis teknologi AR dan VR dapat meningkatkan daya minat siswa terhadap matematika sebesar 20%.

Sumber lain yang menggambarkan bagaimana teknologi ini bisa untuk pembelajaran adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of California, Los Angeles (UCLA) menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan teknologi AR dan VR dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman siswa/i. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa siswa/i yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan teknologi AR dan VR lebih termotivasi untuk belajar matematika. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Stanford University menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan teknologi AR dan VR dapat meningkatkan kreativitas siswa/i. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa siswa/i yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan teknologi AR dan VR lebih mampu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP
Dalam menghadapi tantangan minat rendah terhadap matematika di kalangan Gen Z, penting bagi pendidikan untuk terus berinovasi. Berdasarkan hasil survei dan dukungan dari berbagai sumber, penggunaan teknologi AR dan VR menawarkan solusi yang menjanjikan dalam memperbaiki pembelajaran matematika. Melibatkan siswa/i dalam pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi dapat meningkatkan minat mereka terhadap matematika.

Sebagai kesimpulan, transformasi pendekatan pembelajaran matematika menjadi lebih modern dan berbasis teknologi bukan hanya kebutuhan, tetapi juga suatu keharusan. Dengan memahami perspektif Gen Z dan mengadopsi solusi inovatif, kita dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang memotivasi, memikat, dan mempersiapkan generasi ini untuk menghadapi tuntutan masa depan yang semakin kompleks.

Author: Syfa Nurazizah 

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.