Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Fast Fashion Outdoor: Ketika Jaket Windproof Kehilangan Esensinya di Dunia Pendakian

Fast Fashion Outdoor
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mahasiswa.co.id - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendakian mengalami perubahan yang cukup terasa. Bukan hanya jumlah pendaki yang semakin meningkat, tetapi juga cara mereka memandang peralatan yang dibawa. Salah satu yang paling mencolok adalah tren pakaian outdoor yang berubah begitu cepat, terutama pada jaket windproof. Jaket yang dulu dikenal sebagai perlindungan penting kini lebih sering diperlakukan sebagai bagian dari gaya hidup yang mengikuti tren.

Fenomena ini membuat posisi jaket windproof bergeser: dari alat keselamatan, menjadi properti foto. Di media sosial, pendakian sering tampil sebagai aktivitas yang estetik. Banyak pendaki membeli jaket berdasarkan warna paling mencolok atau desain paling menarik, bukan dari kualitas perlindungan angin atau fungsinya menjaga suhu tubuh. Perlahan, fungsi utama jaket itu pun mulai dilupakan.

Masalah lain muncul dari maraknya produksi massal dengan harga murah. Banyak brand menghadirkan jaket windproof yang tampak keren, tetapi kualitasnya tidak memadai. Bahannya tipis, jahitan kurang kuat, dan fitur keamanannya minim—tidak cocok untuk kondisi gunung yang sering kali tidak terduga. Pendaki pemula rentan tertipu, mengira mereka sudah memakai perlengkapan mendaki, padahal hanya memakai produk yang sekadar “terlihat seperti” perlengkapan mendaki.

Dampak lingkungan dari tren konsumtif ini juga tidak bisa diabaikan. Kebiasaan membeli cepat—ganti jaket karena warna baru, membeli lagi karena model baru—menumpuk limbah tekstil. Ironisnya, banyak dari bahan sintetis seperti polyester dan nylon membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Sangat bertolak belakang dengan semangat mencintai alam yang seharusnya dimiliki para pendaki.

Media sosial semakin memperkuat fenomena ini. Puncak gunung berubah seperti panggung runway, tempat pendaki merasa perlu tampil dengan outfit berbeda di setiap pendakian. Pendakian yang seharusnya soal ketahanan diri dan hubungan dengan alam malah bergeser menjadi ajang update penampilan. Padahal, gunung bukan tempat untuk unjuk gaya, melainkan ruang alam yang layak dihormati.

Tentu, tidak ada yang salah jika ingin terlihat bagus di foto. Menunjukkan diri adalah hak setiap orang. Namun kebebasan itu seharusnya tidak mengorbankan keselamatan dan lingkungan. Kita tetap bisa tampil rapi tanpa terjebak dalam pola konsumsi yang merusak.

Fenomena fast outdoor fashion ini mengingatkan kita bahwa peralatan mendaki bukan sekadar aksesori. Jaket windproof seharusnya dipilih karena kualitas dan ketahanannya, bukan hanya warna atau tren yang sedang ramai. Pendaki perlu kembali ke prinsip dasar: membeli perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan, memilih yang berkualitas, dan merawatnya supaya awet. Dengan begitu, kita menjaga diri sekaligus menjaga alam.

Pada akhirnya, pendakian bukan tentang seberapa banyak jaket windproof yang kita punya, tetapi seberapa sadar dan bertanggung jawab kita sebagai pendaki. Mencintai alam bisa dimulai dari keputusan kecil—termasuk cara kita memilih jaket yang kita pakai.

Oleh: Imro'atin Nashihah (Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Tata Busana Universitas Negeri Yogyakarta)

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.