Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Bukan Sekedar Pindah Tempat, Tapi Pindah Cara Pandang: Cerita Anak Desa di Dunia Kampus

thumb

Mahasiswa.co.id - Masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di kota, itu terjadi saat mengikuti ujian seleksi perguruan tinggi. Kali pertama datang langsung di sambut dengan hirup pikuk kota yang berbeda jauh dengan tempat asalku. Jalan ramai dipenuhi kendaraan. Semua orang terburu-buru seperti dikejar ketakutan.

Kehidupan di desaku begitu sederhana. Pemandangan indah memukau dipagi hari yang menyegarkan mata. Sementara di kota, semua berjalan cepat. Di antara gedung dan lalu lintas padat, semua orang berlomba-lomba mengejar waktu.

Perjalanan ini bukan sekedar perpindahan tempat. Ini adalah perjalanan menemukan cara pandang baru tentang hidup, pendidikan, dan makna perjuangan. Kuliah bukan hanya soal mengejar gelar, tapi juga tentang memahami arti manusia yang terus belajar.

Antara Harapan dan Kenyataan
Tak semua anak desa memiliki kesempatan yang sama. Akses pendidikan di desa masih sangat timpang dibandingkan di kota. Di banyak desa fasilitas belajar masih terbatas. Internet sering hanya samar atau bahkan tidak ada sinyal.

Banyak siswa berprestasi yang terpaksa berhenti karena jeratan ekonomi dan jarak menuju kota. Padahal, banyak dari mereka yang punya semangat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ketimpangan ini memperlihatkan jurang lebar antara desa dan kota dalam hal kesempatan pendidikan.

Belajar Menemukan Diri di Dunia Kampus
Hari-hari pertama di kampus menjadi ujian besar. Teman-teman terasa sangat cepat memahami materi. Gaya bicara dengan bahasa yang tinggi. Terkadang aku merasa enggan untuk ikut mengobrol.

Sering ketika dosen bertanya, “Apa pendapatmu?” sementara aku hanya diam, rasanya sangat binggung bagaimana aku menungkapkan pendapat. Muncul ketakutan bagaimana jika pendapatku salah. Ternyata ini lah yang menghambatku untuk berkembang.

Sampai, suatu ketika aku menemukan materi yang ku suka dan merasa nyaman saat mengikuti mata kuliah tersebut. Dari situ mulai muncul kembali rasa ingin tau, dan menyadari bahwa aku ada disini datang dengan alasan yang pasti. Hanya butuh sebuah pemantik untuk mengidupkan api yang hilang.

Perubahan Cara Pandang
Perjalanan ini baru dimulai, dan perlahan-lahan membuka pikiranku tentang berbagai pengetahuan baru yang baru kusadari setelah berada disini. Awalnya aku mengira keberhasilan sesorang akan terukur dengan pasti dari nilai yang didapat. Tapi sekarang aku mulai belajar bahwa sebuah keberhasilan bukan semata tentang nilai tinggi. Tetapi lebih penting keberanian, kejujuran, dan niat untuk belajar.

“orang berilmu bukan tentang siapa yang paling banyak tau, tapi yang mau berbagi ilmu yang di miliki”. Kalimat ini menjadi pengingat. Ilmu tak seharusnya berhenti di kampus. Ilmu itu harus hidup dalam tindakan nyata, tentang kepedulian terhadap sesama.

Lingkungan di kampus membuatku lebih peka terdapat kesenjangan. Di sini sebuah keberhasilan pribadi belum lengkap tanpa kontribusi bagi orang lain. Ada keinginan untuk dapat berguna untuk sesama.

Menemukan diri
Perjalanan dari desa ke bangku kuliah adalah perjalanan menemukan jati diri. Disini belajar melihat dunia dengan mata yang lebih luas. Pendidikan bukan sekedar tangga sosial, tetapi juga jendela memahami kehidupan.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata “ Pendidikan menuntuk segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Kalimat ini mengigatkanku bahwa pendidikan bukan untuk meninggalkan desa, tapi untuk kembali membawa perubahan. Untuk semua anak desa jangan takut untuk bermimpi tinggi. Jangan biarkan jarak mematahkan semangat.

Avira Flora Astia Zuliana
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.