PENDAHULUAN Perkembangan zaman pada era abad 21 mengubah pola hidup dan pola konsumsi secara pesat. Kenyataannya aktivitas yang dirasakan saat ini, semuanya akan gampang untuk dilakukan. Pola tingkah laku serta pola konsumsi berbeda dari masa ke masa. Selain itu, sekarang ini sangat mudah mengetahui kehidupan seseorang. Ambisi melakukan keinginan mengikuti era abad 21 melahirkan daya tarik mengakibatkan perubahan pola hidup berfokus pada konsumsi (Safuwan,2007).
Jejaring sosial teknologi abad 21 yang semakin pesat. Tidak bisa dipungkiri faedahnya dalam kehidupan, baik dalam kegiatan sosialisasi maupun pendidikan. Bisa saja yang bermula kecil bisa menjadi besar dengan jejaring sosial, bagi masyarakat khususnya kalangan remaja. Jejaring sosial sudah mencandu yang berdampak ke penggunanya, tidak ada hari tanpa membuka jejaring sosial (Wilga Secsio Ratsja Putri, Nunung Nurwati, Meilanny Budiarti Santoso,2016).
Pemanfaatkaan teknologi memberikan arahan, dapat mempunyai pemahaman dan keahlian yang bermatabat. Kebiasaan pamer kekayaan sesekali dilakukan di jejaring sosial dianggap tidak elok dilakukan. Menjadi penikmat jejaring sosial harus pandai dan mahir memilah yang layak untuk ditonton. Harta bukan menjadi nilai keunggulan seseorang. Dalam agama pun melarang melakukan perbuatan pamer atau riya (Anisatul Mardiah, 2022).
Perbuatan dan tindakan flexing kebanyakan kebalikan dari seorang yang benar-benar kaya. Orang kaya sungguhan tidak mengharapkan dirinya menjadi daya tarik. Pada akhirnya kenyataannya kemiskinan berkoar-koar,tetapi kekayaan menutup mulut (Rahardjo, 2009).
PEMBAHASAN a. Perkembangan Zaman dalam Perubahan Pola Hidup Adanya perkembangan menghasilkan pola hidup baru bagi masyarakat yang seiring waktu berganti. Keberadaan perilaku pola hidup baru, diakibatkan keberadaan perkembangan teknologi. Disisi lain, keberadaan jejaring sosial sudah menjadi bagian yang paling penting. Namun, juga berpengaruh dalam perubahan gaya hidup masyarakat pada zaman ini (Muhamad Ngafifi, 2014).
Gaya hidup pada zaman ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, gaya hidup pada saat ini digunakan sebagai ajang panggung sosial. Sikap konsumerisme menjadikan awal mula sikap orang-orang pada zaman ini yaitu menggunakan suatu produk sebagai penggambaran kepribadian seseorang untuk mengetahui status sosial.
Keberadaan jejaring sosial dengan perkembangan teknologi informasi menciptakan peralihan pada masyarakat. Keberadaan jejaring sosial menyebabkan pola perilaku masyarakat mendapati perubahan budaya, etika dan norma. Indonesia yang menyimpan berbagai kultur,sangat berpotensi besar mengalami perubahan sosial. Jejaring sosial tidak memandang latar belakang serta usia.
b. Fenomena Flexing Pada Jejaring Sosial Ragam kehidupan kontemporer berdampak dengan kefanatikan dalam konsumsi dan pola hidup. Menjadikan masyarakat sebagai konsemer dan social cliber. Perilaku sosial yang bermakna kausal seperti perubahan pengetahuan, sikap dan nilai terjadi diranah masyarakat di dunia maya. Sealur dengan fenomena masyarakat posmodern yang gemar memperlihatkan kekayaan di ruang dunia maya sebagai tindakan sosial interaktif. Polaritas baru menjadi gejala sebuah realitas sosial dengan memuja serta benturan mendapatkan identitas sosial, menjadi hal penting. Selalu menjadi strategi aktulisasi untuk melintasi kehidupan yang nyata (mahyuddin mahyuddin, 2019).
Jejaring sosial sering kali digunakan oleh masyarakat luas sebagai ruang untuk membagikan informasi serta aktivitas sosialnya. Melalui jejaring sosial, individu memiliki kendali penuh dalam membagikan informasi yang akan diunggah sehingga dapat mengelola kesan orang lain terhadapnya agar sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan tidak jarang informasi yang ditampilkan bertujuan mendapatakan pengakuan dengan cara memamerkan kekayaan ( Novelix Galih Kurniawan, 2022).
Kehadiran kehidupan di dunia maya, memberi kesempatan bagi orang-orang untuk berbuat flexing. Diberbagai jejaring sosial sepeti instagram,tiktok,facebook,youtube, dan jejaring sosial lainnya banyak orang-orang yang berlomba-berlomba untuk membuat konten flexing atau pamer kemewahan. Beberapa contoh flexing seperti barang mewah, liburan di luar negeri dan lain lainnya. Terdapat konten kreator yang menjadikan flexing sebagai konten yang sedang viral akhir-akhir ini.
Kehidupam di dunia maya sering digunakan menjadi fasilitator berbagai informasi kegiatan sosial. Memiliki kendali terhadap informasi untuk mengolah kesan sesuai dengan harapan. Pamer kemewahan termasuk krisis kepribadian biasanya mengalamai self esteem berdampak kehidupan sosial. Ketidak percayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki, sehingga menunjukan materi sebagai eksistensi dan pengakuan akan ketenaran dan kekayaannya ( Ety Nurhayat, Rakhmaditya Dewi Noorrizki,2022).
c. Ketenaran dan Konsumsi Publik Ketenaran pada zaman ini sangat tidak terduga, karena keberadaan jejaring sosial. Sudah sering kita ketahui,fenomena pamer di jejaring sosial tidak hanya dalam bentuk fisik. Namun, juga bentuk nonfisik sepeti aksi gengsi. Sikap gengsi menghasilkan orang-orang berlomba memamerkan barang-barang mewah yang mereka miliki. Seseorang yang flexing menyebarkan ke jejaring sosial, seperti menyebar video atau foto diakun jejaring sosial untuk umum agar dilihat banyak orang. Dengan demikian, mereka menjadikan dirinya sebagai konsumsi publik yang disegani dan mempentingkan gengsi untuk memiliki status sosial yang tinggi.
Untuk memahami perkaitan kesepian dengan kecenderungan narsisistik pada pemakai jejaring sosial. Dilihat dari pemakai jejaring sosial didominasi berusia 18-24 tahun. Dampak mengalami narsisti menjadikan jejaring sosial wadah menunjukkan kehebatan-kehebatan terdapat pada dirinya. Selain itu, mengharapkan pujian dan pengakuan dari orang lain. Seorang narsistik sering merendahkan dan meremehkan (Umul Sakinah, M Fahli Zatrahadi, Darmawati Darmawati,2019).
Perilaku konsumerisme didominan masyarakat menggambarkan karakteristik memenuhi kebutuhan dengan tuntutan gaya hidup kekinian agar dipandang sebagai orang yang kaya raya (Suci Agustianti, Rahma Amir, 2020). Perubahan-perubahan yang terjadi terkait dengan perilaku konsumen dalam masyarakat merupakan bukti bahwa konsumsi dalam masyarakat modern berada pada batas kewajarannya. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena flexing sering dilakukan oleh kalangan kelas sosial atas. Menjadikan konsumsi publik untuk berbagai kalangan atau golongan, termasuk juga di kalangan menengah kebawah. Pada dampak memamerkan kekayaan di jejaring sosial, pada dasarnya tidak mengubah struktur masyarakat. Namun, ada persaingan di masyarakat.
PENUTUPAN Fenomena flexing sering diangap pembohongan karena yang ditunjukan tidak bener-bener sesuai dengan kenyataannya. Perilaku flexing dilakukan agar diakui bahwa status sosialnya lebih tinggi. Kegiatan pamer harta juga tidak hanya secara lagsung, tetapi bisa juga menggunakan jejaring sosial. Seseorang jika sudah melakukan flexing dan akan terus melakukan berulang-ulang kali. Hidup kita saat ini tidak terlepas dari flexing. Sikap konsumtif dan konsumerisme ditimbulkan dengan memamerkan kekayaan dijejaring sosial. flexing menjadikan banyak orang yang ragu akan kemampuan dirinya sendiri.
Oleh : Anes Berlliana Permatasari Universitas Muhammadiyah Malang
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0