Yogyakarta, Mahasiswa.co.id – Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta turun ke jalan dalam aksi "Indonesia Gelap" yang menggema di kawasan Malioboro hingga DPRD DIY. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah terkait pemangkasan anggaran pendidikan serta desakan pembubaran Kabinet Merah Putih yang dinilai gagal menyejahterakan rakyat.
"Rakyat Bersatu! Bangun Demokrasi Kerakyatan!" begitulah salah satu seruan yang tertulis dalam spanduk besar yang diarak oleh massa aksi. Demonstrasi ini bukan hanya sekadar bentuk kekecewaan, tetapi juga seruan akan perubahan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Dalam orasi yang disampaikan di depan gedung DPRD DIY, para mahasiswa menegaskan bahwa kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan sangat merugikan mahasiswa dan dunia akademik secara keseluruhan. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara malah semakin sulit dijangkau akibat kebijakan tersebut.
Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan:
*قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون*
Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS Az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai dasar kemajuan suatu bangsa. Pemotongan anggaran pendidikan bertentangan dengan prinsip tersebut, karena menghambat akses masyarakat terhadap ilmu.
Aksi ini juga menyoroti sikap pemerintah yang dianggap tidak demokratis serta mengekang kebebasan berpendapat. "Kami mahasiswa Jogja berdiri di sini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk masa depan Indonesia!" ujar salah satu orator di tengah aksi.
Ribuan mahasiswa yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol "Indonesia Gelap" menggelar long march dari Tugu Jogja hingga Malioboro. Mereka membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah.
Dari perspektif Islam, pemimpin yang adil seharusnya mengutamakan kepentingan rakyatnya, sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ:
*كلكم راعٍ وكلكم مسؤولٌ عن رعيته*
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menjadi pengingat bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan rakyat, termasuk dalam hal pendidikan.
Dalam aksi ini, mahasiswa juga mengajukan tuntutan konkret kepada pemerintah, antara lain: 1. Mengembalikan anggaran pendidikan yang telah dipangkas. 2. Menjamin akses pendidikan tinggi yang lebih terjangkau bagi seluruh masyarakat. 3. Memberikan ruang demokrasi yang lebih luas bagi rakyat dalam menyampaikan aspirasi. 4. Meninjau ulang kebijakan ekonomi yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Aksi "Indonesia Gelap" ini diakhiri dengan doa bersama di depan gedung DPRD DIY, sebagai simbol harapan akan perubahan. Mahasiswa menegaskan bahwa perjuangan ini tidak akan berhenti sampai tuntutan mereka didengar dan diimplementasikan oleh pemerintah. Mereka berjanji akan terus mengawal kebijakan negara agar tetap berpihak pada rakyat.
Gerakan ini menunjukkan bahwa mahasiswa tetap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan demokrasi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, mereka yakin bahwa Indonesia yang lebih baik masih dapat diperjuangkan. Takbir! Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0