Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Polemik Film “Pesta Babi”, Alumni BEM se-Indonesia Desak Pemerintah Dengar Aspirasi Masyarakat Adat

Pesta Babi

Mahasiswa.co.id - Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” masih menuai polemik di sejumlah daerah. Isu ini mencuat setelah adanya pembubaran hingga pelarangan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film tersebut di beberapa wilayah.

Situasi itu memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat, meski pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, telah menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang kegiatan nobar maupun diskusi film tersebut.

Menanggapi polemik tersebut, alumni organisasi Ikatan Senat/BEM Mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Nasional Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Seluruh Indonesia (PENA ISMSI) meminta pemerintah lebih peka terhadap aspirasi masyarakat adat, khususnya terkait persoalan di Papua.

Ketua Umum PENA ISMSI, Fuad B, menyatakan negara tidak boleh pasif dalam menyikapi realita sosial yang terjadi di Papua. Menurutnya, eksploitasi lahan adat oleh korporasi dan pemegang kekuasaan dinilai kerap mengabaikan hak masyarakat pemilik ulayat.

“Pemerintah harus lebih peka dalam mendengarkan aspirasi masyarakat adat karena ketergantungan masyarakat terhadap tanah adat sangat besar,” ujarnya dalam pernyataan sikap.

PENA ISMSI juga menyoroti pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai harus mempertimbangkan aspek keberlangsungan hidup masyarakat adat. Mereka menilai pembangunan yang diklaim demi kesejahteraan justru berpotensi menjadi ancaman konversi hutan, termasuk yang terjadi di Papua Selatan.

Karena itu, mereka meminta keterlibatan aktif masyarakat adat dalam setiap perencanaan pembangunan agar tidak menimbulkan keterisolasian maupun konflik sosial di kemudian hari.

Selain itu, PENA ISMSI menegaskan persoalan di Papua Selatan hanya sebagian kecil dari persoalan eksploitasi lahan adat yang terjadi di Indonesia. Mereka pun menolak adanya pembatasan terhadap diskusi ilmiah maupun kegiatan nobar yang dianggap sebagai ruang telaah kritis terhadap realita sosial.

“Tak boleh ada upaya pembatasan terhadap setiap diskusi ilmiah maupun nonton bareng sebagai bentuk telaah kritis terhadap realita sosial,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai sikap PENA ISMSI dalam menyikapi polemik film dokumenter “Pesta Babi” yang belakangan menjadi perbincangan publik.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.