Inovasi Mahasiswa UGM Kembangkan Komunal Inkubator Berbasis IoT untuk Tekan Angka Mortalitas Anak Domba Prematur
Oleh Redaksi
Sumber: Dokumentasi Tim PKM-PI UGM Thermosheep
Penulis : Chintia Amalia
Yogyakarta, Mahasiswa.co.id – Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan ajang nasional yang diinisiasi oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) di bawah naungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Program ini bertujuan untuk mengembangkan potensi mahasiswa Indonesia dalam bidang kreativitas dan inovasi, serta mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara nyata demi kemajuan masyarakat. Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu perguruan tinggi yang secara konsisten berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Pada tahun 2025, UGM kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meloloskan 56 tim PKM hingga tahap pendanaan, yang berasal dari berbagai fakultas dan bidang kajian, sebagai bentuk komitmen universitas dalam mendukung pengembangan inovasi mahasiswa yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu tim tersebut adalah tim PKM-Penerapan Iptek (PKM-PI) yang berhasil menghadirkan inovasi di bidang peternakan, bekerja sama dengan mitra CV Cipta Visi Group yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Tim yang diketuai oleh Chintia Amalia (Kimia) dengan anggota Sri Jayanti (Kedokteran Hewan), Ni Ajeng Sekar Arum (Peternakan), Arthur Isa Nararia (Elektronika dan Instrumentasi), serta Nurhidayat Amarudin (Teknik Mesin), mengembangkan sebuah komunal inkubator berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk menekan angka kematian anak domba prematur.
Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah tingginya tingkat mortalitas anak domba. Berdasarkan data tahun 2024, dari setiap kelahiran enam ekor anak domba dengan kondisi prematur, ditelantarkan induknya, atau kehilangan induk akibat kematian, sekitar tiga ekor mengalami kematian. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan tenaga kerja dalam memberikan perawatan intensif, termasuk pemberian susu secara manual setiap dua hingga tiga jam sekali, serta kesulitan dalam menjaga suhu dan kelembapan lingkungan kandang agar tetap stabil.
Menanggapi kondisi tersebut, tim PKM-PI UGM merancang inovasi komunal inkubator berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu menampung hingga empat anak domba sekaligus. Seluruh bagian inkubator dilapisi kaca transparan guna mencegah stres pada anak domba, sehingga mereka tetap dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ventilasi dirancang untuk memastikan sirkulasi udara berjalan optimal, sekaligus memungkinkan anak domba sesekali mendapatkan paparan udara luar. Alat ini juga dilengkapi dengan sistem pengaturan suhu dan kelembapan otomatis yang menyesuaikan kebutuhan fisiologis anak domba, serta sistem pemberian susu otomatis berbasis ad libitum yang memastikan kebutuhan kolostrum terpenuhi secara konsisten. Inovasi ini terintegrasi dengan website pemantauan berbasis IoT, sehingga peternak dapat memantau kondisi inkubator dan melakukan pengaturan jarak jauh secara real time.
Dengan hadirnya alat ini, proses perawatan anak domba menjadi lebih efisien dan terukur, sementara tingkat kelangsungan hidup anak domba prematur dapat meningkat secara signifikan. Dalam jangka panjang, penggunaan komunal inkubator berbasis IoT tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi mitra, tetapi juga berpotensi diterapkan secara luas di berbagai peternakan domba di Indonesia sebagai langkah menuju sistem peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Penulis : Chintia Amalia
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0