Hari ini, peserta didik bisa mendapatkan penjelasan tentang ayat Al-Qur’an, memahami materi fikih, bahkan meminta AI menjelaskan persoalan agama dengan bahasa yang lebih sederhana. Semua itu bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Di satu sisi, perkembangan ini tentu menjadi peluang bagi dunia pendidikan. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu kita renungkan: jika peserta didik semakin mudah mendapatkan pengetahuan agama, apakah mereka juga semakin mudah memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama tersebut?
Sebab, Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekadar tentang mengetahui mana yang benar dan salah. PAI juga memiliki peran dalam membentuk akhlak, menumbuhkan kesadaran, dan membantu peserta didik menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut saya, tantangan pembelajaran PAI di era kecerdasan artifisial (AI) bukan hanya tentang bagaimana guru menggunakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan bahwa kemudahan memperoleh informasi tidak membuat proses belajar kehilangan maknanya.
UNESCO (2023) menekankan pentingnya penggunaan AI dalam pendidikan yang berpusat pada manusia, etis, dan bertanggung jawab. Artinya, teknologi perlu mendukung proses pendidikan, bukan menggantikan tujuan utamanya.
Lalu, model pembelajaran seperti apa yang dapat dikembangkan?
1. Project-Based Learning: Belajar Agama Melalui Kehidupan Nyata
Project-Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi salah satu pilihan. Melalui model ini, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga menerapkannya dalam kegiatan nyata.
Misalnya, ketika mempelajari materi tentang kepedulian sosial, peserta didik dapat membuat kampanye berbagi atau edukasi tentang etika bermedia sosial berdasarkan nilai-nilai Islam.
AI dapat membantu mencari ide, menyusun rancangan kegiatan, atau membuat materi edukasi. Namun, peserta didik tetap harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan proyek.
Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari bagusnya hasil karya, tetapi juga dari pemahaman dan nilai yang tumbuh selama prosesnya.
2. Problem-Based Learning: Belajar Memeriksa Kebenaran
Di era AI, mendapatkan jawaban bukan lagi persoalan yang sulit. Justru, kemampuan memeriksa kebenaran jawaban menjadi semakin penting.
AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu sepenuhnya tepat. Dalam konteks agama, hal ini perlu mendapat perhatian khusus.
Guru dapat menggunakan Problem-Based Learning (PBL) dengan mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Contohnya, penyebaran informasi keagamaan yang belum jelas sumbernya di media sosial.
Peserta didik dapat diminta memeriksa sumber informasi, mendiskusikan dampaknya, dan menghubungkannya dengan prinsip tabayyun dalam Islam. AI boleh digunakan untuk membantu analisis awal, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa melalui sumber keislaman yang kredibel.
Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak sekadar menerima jawaban, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas informasi yang mereka percaya dan sebarkan.
3. Flipped Classroom: Mengubah Kelas Menjadi Ruang Diskusi
Flipped Classroom memungkinkan peserta didik mempelajari materi dasar sebelum pertemuan kelas. Waktu di kelas kemudian dapat dimanfaatkan untuk diskusi, analisis kasus, dan refleksi.
Misalnya, sebelum pembelajaran tentang kejujuran, peserta didik mempelajari konsep dan dalil yang berkaitan. Di kelas, guru mengajak mereka mendiskusikan pertanyaan: apakah menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tanpa mengakui bantuan yang digunakan termasuk perilaku jujur?
Pertanyaan semacam ini membuat materi agama lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka tidak hanya menghafal definisi kejujuran, tetapi juga belajar menerapkannya dalam situasi baru.
Nugraha, Abdel Rahim, dan Lukman (2024) turut membahas integrasi PBL dan Flipped Classroom dalam pembelajaran PAI di perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan adanya ruang untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih aktif dan kontekstual.
Komentar 0