Permulaan
“Cogito Ergo Sum” Tulisan ini sengaja diawali dengan salah satu kalimat reflektif oleh Descartes, “Aku berfikir maka aku ada” begitulah kira-kira artinya. Peradaban manusia yang kian modern ibarat kata pisau bermata dua. Begitu besar maslahat yang diterima, begitu melimpah manfaat yang diperoleh juga begitu banyak perubahan positf yang dihasilkan olehnya. Namun disisi lain, ia turut andil besar dalam proses pengikisan moral manusia, penerbaan perangai baik serta peruntuhan kemampuan tafakur mereka. Bagaimana tidak? kehidupan manusia yang kian modern memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai macam hal dengan cepat, mudah dan instan.
Jika kau ingin mengirim sebuah pesan, tak perlu lagi menerbangkan burung merpati ataupun menitipkannya kepada tukang pos, cukup dengan menekan tombol “kirim” maka dalam sepersekian detik pesan tersebut sudah masuk digadget penerima, atau kau ingin berpergian jauh dengan waktu yang singkat? Sudah tersedia berbagai macam kendaraan yang akan mengantarmu sampai tujuan dengan lebih efisien. Serta berbagai macam kemudahan lain yang tentu dapat diakses dengan mudah oleh manusia. Namun acapkali berbagai macam akses yang telah terbuka lebar malah menjadikan manusia abai dari tugas nan kewajiban mereka sebagai makhluk tuhan.
Persentase kejahatan yang kian meningkat, peperangan antar-negara yang menjadi topik utama perbincangan, juga berita kerusakan alam yang tiap hari memenuhi layar kaca. Jika kau hanya menganggap semua itu hanya sebuah ilusi belaka ataupun sekedar ancaman generasi tua kepada anak cucu mereka, maka alangkah baiknya bila kau mengetahui data yang diperoleh salah satu lembaga survei terkemuka, macrotrens. Tingkat kriminalitas didunia meningkat 0,74% tiap tahunnya, juga pernyataan dari Ecological Threat Register, bahwa bencana alam yang disebabkan ulah tangan manusia meningakt 10 kali lipat sejak tahun 1960 hingga saat ini.
Banyak faktor yang memengaruhi perubahan perilaku manusia, namun yang menjadi topik utama pembahasan kita ialah mereka lupa untuk berpikir. Berpikir bahwa menjadi manusia adalah amanat tuhan yang tak mestinya disalahgunakan, amanat tuhan yang berat nan tak boleh disia siakan. Prinsip ini merupakan salah satu tiang fundamental yang harus dibangun kokoh oleh manusia, agar tak keliru dalam berperilaku, tak salah dalam bertingkah.
Tegaknya tiang kokoh tersebut haruslah berdasar pada dua bahan utama yaitu keyakinan pada tuhan dan pengetahuan bijaksana akan keberadaannya. Keyakinan yang tumbuh dari nurani akan keberadaan Sang Penguasa, serta keingintahuan yang memunculkan jawaban rasional atas bukti keberadaan-Nya.
Dengan begitu manusia akan mampu menyetir kehidupan menuju lebih baik. Karena pada dasarnya keduanya, keyakinan Sebelum kita mengulik lebih dalam bentuk kolaborasi antara keyakinan dan pengetahuan yang dapat menentukan perilaku manusia, alangkah baiknya kita berkenalan dengan keduanya terlebih dahulu.
Agama Sebagai Dasar Utama Berkehidupan
Agama memainkan peran sentral sebagai dasar berkehidupan dalam berbagai masyarakat di seluruh dunia. Fungsi agama tidak terbatas pada aspek spiritual semata, tetapi juga mencakup aspek moral, etika, dan panduan praktis yang membentuk karakter individu serta dinamika sosial.
Dalam kerangka ini, agama memberikan suatu kerangka kerja nilai-nilai yang mengatur perilaku manusia, menawarkan pedoman moral yang memandu tindakan sehari-hari, dan mempromosikan keadilan serta persatuan di antara anggota masyarakat.
Secara lebih rinci, agama memberikan landasan moral yang mendalam dengan menyampaikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, dan kebajikan. Nilai-nilai ini, yang tercermin dalam ajaran- ajaran agama, membimbing individu untuk mengembangkan karakter yang kuat, berintegritas, dan bertanggung jawab. Misalnya, banyak agama mengajarkan pentingnya kejujuran, kasih sayang, kerendahan hati, dan sikap bertanggung jawab dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, agama juga sering memberikan panduan etika yang relevan dalam berbagai konteks kehidupan, seperti dalam lingkup pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Etika agama dapat membantu individu membuat keputusan moral yang tepat, mengatasi konflik, dan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.
Oleh karena itu, agama bukan hanya memberikan pandangan mengenai hubungan vertikal antara manusia dan keilahian, tetapi juga membentuk hubungan horizontal di antara manusia sendiri. Sebagai dasar berkehidupan, agama juga memberikan makna dan tujuan dalam eksistensi manusia. Dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai asal-usul, tujuan hidup, dan kehidupan setelah mati, agama memberikan suatu kerangka kerja yang memberikan stabilitas dan ketenangan batin. Ini menciptakan fondasi psikologis yang kuat untuk individu menghadapi tantangan hidup, mengatasi kesulitan, dan menemukan makna dalam setiap pengalaman.
Dalam konteks sosial, agama juga berperan sebagai perekat masyarakat. Masyarakat yang memiliki dasar agama yang kuat seringkali mengalami solidaritas sosial yang lebih tinggi. Ajaran - ajaran agama dapat menyatukan masyarakat melalui pembagian nilai-nilai bersama, ritual keagamaan, dan partisipasi dalam kegiatan sosial yang bertujuan baik. Oleh karena itu, agama tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga membentuk dinamika sosial dan budaya di suatu komunitas.
Dengan demikian, agama bukan hanya merupakan sistem kepercayaan spiritual semata, tetapi juga merupakan kerangka kerja komprehensif yang membentuk dan membimbing kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Dalam menghadapi tantangan kompleks kehidupan, peran agama sebagai dasar berkehidupan memberikan arti, nilai-nilai, dan panduan yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang adil, beretika, dan penuh makna.
Ilmu sebagai Kemudi Manusia
Ilmu, sebagai kemudi utama manusia, memiliki dampak yang signifikan pada perubahan perilaku individu dan masyarakat. Ketika manusia memperoleh pengetahuan melalui ilmu, hal itu seringkali memicu transformasi dalam cara mereka memandang diri mereka sendiri, lingkungan sekitar, dan keterkaitan mereka dengan dunia. Pertama-tama, ilmu memberikan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip dasar yang mengatur alam semesta, manusia, dan makhluk lainnya. Pengetahuan ini memotivasi perubahan perilaku melalui kesadaran akan tanggung jawab terhadap lingkungan dan makhluk hidup.
Ilmu juga merangsang perubahan dalam persepsi nilai dan norma-norma masyarakat. Ketika manusia menginternalisasi konsep-konsep ilmiah, seperti etika, keadilan, dan keberlanjutan, hal itu dapat memicu pergeseran nilai-nilai yang mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Contohnya, pemahaman mengenai dampak negatif dari perilaku konsumtif terhadap lingkungan dapat mendorong perubahan ke arah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Perubahan perilaku juga terjadi dalam konteks kesehatan. Ilmu kedokteran, misalnya, memberikan pengetahuan tentang cara menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Dengan pengetahuan ini, manusia dapat mengubah perilaku mereka terkait pola makan, olahraga, dan kebiasaan hidup lainnya untuk mencapai gaya hidup yang lebih sehat.
Selain itu, ilmu juga memiliki peran dalam membentuk sikap terhadap keragaman dan mengurangi ketidaksetaraan. Pengetahuan ilmiah tentang keragaman manusia, baik dari segi budaya maupun biologis, dapat merubah persepsi dan sikap manusia terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Ini dapat mempromosikan sikap inklusif, saling pengertian, dan kerjasama di antara masyarakat yang heterogen.

Komentar 0