MAHASISWA.CO.ID - Dilansir dari pernyataan ketua forum keuchik aceh barat daya yang menyatakan keberangkatan studi banding keuchik seluruh abdya yang akan digelar pada 15 juli mendatang. Dalam penyampaian nya, "Kegiatan tersebut pakai dana desa bukan APBD, akuinya. Dan juga Direktur Eksekutif Jaringan Survei Inisiatif (JSI), Ratnalia Indriasari kepada media mengatakan, kegiatan studi banding ke luar daerah sudah banyak dilakukan kepala desa di kabupaten/kota lain.

Menurut Zainul, PJ Gapelmabdya Studi banding bersumber dari DD selama ini masih ditunggangi oknum tertentu di daerah, dengan menggunakan perusahan Event organizer (EO) dari luar daerah. Ini mafia, miliaran sudah dihabiskan untuk studi banding atas kepentingan oknum tertentu.

Memang sepenuhnya menggunakan dari dana desa bukan dari APBD, justru dari dana desalah kades-kades lebih fokus pada program prioritas, terlebih yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun ketahanan pangan. Ini terkesan cuma menghamburkan uang negara dengan kucuran dana 15 juta rupiah. Zainul juga meminta agar pengusul menjelaskan secara rinci penggunaan anggaran tersebut. ujar PJ Gapelmabdya. ( gabungan pelajar mahasiswa abdya) meulaboh.

Pada dasarnya semangat dana desa ini lahir berangkat dari Undang Undang No 6 Tahun 2014 bertujuan supaya dapat meningkatkan ekonomi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat bukan kesejahteraan para oknum yang sudah di gaji oleh Negara, apalagi dengan dalih studi banding yang outputnya tidak bisa di rasionalkan.

Aktivis mahasiswa ini menekankan Jangan sampai studi banding ini hanya agenda wisata dengan memanfaatkan uang rakyat,” sebutnya.