Oleh: Adillia Husna Ra'ida
Mahasiswa.co.id - Menjadi mahasiswa yang ideal tidak hanya fokus pada mendapatkan nilai tinggi (IPK) atau berpartisipasi dalam organisasi. Lebih dari itu, seorang mahasiswa yang sempurna adalah individu yang dapat menyatukan pengetahuan, moralitas, dan aspek spiritual. Selama menjadi mahasiswa, kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga membentuk karakter kita. Ini adalah masa yang dimana dapat mendorong kita untuk mengenali diri sendiri, memperbaiki kelemahan, dan menyadari bahwa pendidikan harus diimbangi dengan akhlak yang baik.
Bagi saya, menjalani peran sebagai mahasiswa adalah tahap dimana menuju kedewasaan. Dalam perjalanan ini, saya memahami bahwa ada tiga komponen penting yang perlu diperhatikan untuk menjadi orang yang lebih baik yaitu komunikasi, perilaku, dan ibadah. Ketiga komponen ini dapat menciptakan identitas mahasiswa yang utuh. Jika salah satu diabaikan, maka keseimbangan dalam diri kita akan terpengaruh.
1. Berkomunikasi dengan Baik: Memperhatikan Ucapan, Mempertahankan Martabat
Bahasa memiliki peranan penting bukan hanya sekedar sebagai alat untuk berkomunikasi, tetepi juga mencerminkan karakter seseorang. Dengan cara kita berucap menunjukkan pola pikir dan penghargaan kita kepada orang lain. Sebagai mahasiswa, saya sering bertemu dengan berbagai individu seperti dosen, teman, bahkan masyarakat di luar kampus. Dari interaksi ini, saya menyadari bahwa kata-kata yang sopan dapat membuka peluang baru, sementara ucapan yang kasar bisa menutup kesempatan.
Dalam pelajaran PPKN, kami diajarkan bahwa etika berbicara mencerminkan nilai dari Sila Kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nilai ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, termasuk saat berbicara. Dengan menggunakan bahasa yang santun, seorang mahasiswa menunjukkan bahwa mereka bukan hanya cerdas tetapi juga memiliki etika dalam berkomunikasi.
Islam juga menekankan pentingnya bahasa dalam iman. Seperti di dalam QS. Al-Isra : 19 ayat 53 yang berbunyi :
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ٥
“Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia”.
Dan ada juga sabda Rasulullah SAW yaitu:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam potongan ayat alquran dan hadist tersebut mengingatkan saya tentang arti penting dari kata-kata. Satu kalimat yang dapat membawa ketenangan, tetapi juga dapat menyakiti. Di era digital saat ini, di mana media sosial memberikan kebebasan untuk berucap, untuk menjaga kata-kata dan tulisan menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menahan diri agar tidak mudah memberikan komentar negatif, tidak menyebarkan kebencian/ berita hoax, dan tidak menyakiti orang lain dengan ucapan.
Bersikap sopan dalam berbicara tidak berarti harus kaku, melainkan memahami kapan dan bagaimana menjaga sikap saat berbicara dengan hormat. Seorang mahasiswa yang menjaga bahasanya akan lebih dihargai, dipercaya, dan menjadi panutan bagi orang lain.
2. Berperilaku Santun: Cerminan Kehidupan Nyata dari Karakter yang Terbangun
berprilaku baik merupakan aksi nyata dari nilai-nilai moral yang diajarkan kepada kita. Dalam lingkungan kampus, ada banyak situasi yang menguji integritas kita, seperti memenuhi janji, bersikap jujur saat ujian, atau menghargai dosen dan teman. Perilaku bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat tetapi perilaku yang mencerminkan diri kita sendiri melalui kebiasaan sehari-hari.
Di dalam mata kuliah PPKN, mahasiswa diajarkan pentingnya membangun karakter sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Salah satu nilai yang sangat ditekankan adalah integritas kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Karakter ini sejalan dengan nilai Sila Ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia, yang mengedepankan pentingnya saling menghormati, bekerja sama, dan mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi.
Menurut ajaran Islam, perilaku baik dikenal sebagai akhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa moralitas merupakan elemen paling penting dari keimanan. Saya menyakini bahwa mahasiswa yang memiliki karakter baik akan mendapatkan penghormatan dari orang lain. Beberapa hal sederhana seperti: datang tepat waktu, jujur dalam menyelesaikan tugas, tidak melakukan kecurangan, membantu teman yang memerlukan, serta menghargai pandangan yang berbeda. Tindakan-tindakan kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk kebiasaan yang positif. Salah satu bentuk sopan santun lainnya adalah rasa peduli terhadap sesama.
Mahasiswa yang peka terhadap keadaan sekitarnya, seperti ikut dalam kegiatan sosial, menjadi relawan, atau membantu masyarakat saat kesulitan, menunjukkan penerapan nyata nilai-nilai Pancasila. Sikap saling tolong-menolong merupakan bagian dari budaya gotong royong yang menjadi keunikan bangsa Indonesia.
Namun, menjaga sikap baik tidaklah mudah. Terkadang ada keinginan untuk malas, menunda-nunda pekerjaan, atau bersikap acuh tak acuh terhadap peraturan. Tetapi setiap kali dorongan itu muncul, saya berusaha mengingat ajaran PPKN yang menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan pembawa perubahan yang diharapkan untuk membawa kebaikan bagi bangsa. Dengan kata lain, perubahan mesti dimulai dari diri kita sendiri melalui kebiasaan dalam sehari-hari kita.
3. Ibadah: Dasar Spiritual dalam Kehidupan Mahasiswa
Seringkali, mahasiswa mengabaikan ibadah karena lebih fokus pada kuliah maupun aktivitas organisasi. Namun, ibadah adalah sumber ketenangan dan kekuatan batin. Saya memahami bahwa tanpa menjalankan ibadah, seseorang dapat kehilangan arah dan tujuan dalam hidup.
Dalam PPKN, konsep ini sejalan dengan Sila Pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini mengajarkan bahwa manusia seharusnya menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, sebagai sumber moralitas, dan pedoman dalam bertindak. Mahasiswa yang menempatkan Tuhan di atas segalanya akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Dalam pandangan Islam, ibadah tidak hanya sebagai rutinitas, tetapi juga merupakan upaya untuk mengembangkan karakter. Dalam QS. Al-Ankabut : 29 ayat 45 Allah berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
"Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menjelaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga berfungsi sebagai pengendalian diri. Ketika seseorang secara rutin menunaikan salat, ia akan lebih mudah menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik (keji). Saya pribadi merasa bahwa ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa memberikan ketenangan di tengah kesibukan kegiatan di kampus.
Selain itu, dalam QS. Thaha ayat 132, Allah juga berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ١٣٢
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. At-Taha: 132)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya perintah, tapi juga cara untuk melatih kesabaran dan meningkatkan iman. Dari disni saya belajar bahwasanya ibadah harus di lakukan secara terus menerus meski dalam keadaan sibuk maupun lelah. Kesabaran dalam menjalankan shalat akan membawa ketenangan dalam hati dan memperkuat iman di dalam hati kita.
Ibadah juga memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional. Mahasiswa yang aktif beribadah cenderung lebih sabar, rendah hati, dan memiliki pola pikir yang positif. Dengan demikian, mereka dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat dari segi spiritual.
Selain beribadah, saya juga berusaha menjaga keseimbangan antara ibadah dan aktivitas perkuliahan dengan cara memperbanyak doa, dzikir, dan berbagi dengan orang lain. Keaktifan sederhana ini membantu saya tetap bersyukur dan tetap fokus pada tujuan hidup. Ibadah bukan hanya rutinitas sehari-hari, tetapi juga sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Dalam mata kuliah PPKN, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa juga mengajarkan pentingnya saling menghormati antarumat beragama. Seorang mahasiswa yang beriman tidak hanya aktif beribadah, tetapi juga menghargai keyakinan orang lain dan menjaga ketenangan dalam pergaulan. Saya percaya, suasana kampus yang harmonis dan saling menghargai dimulai dari sikap spiritual yang kuat dan hati yang tulus.
Komentar 0