Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Menyusun Kembali Harapan Masa Depan Setelah Putus Cinta

Putus Cinta

Mahasiswa.co.id - Beberapa tahun lalu aku adalah perempuan yang merasa memiliki hidup sempurna karena aku memiliki keluarga yang lengkap, pertemanan yang sehat, dan kekasih yang sangat menyayangiku. Namun, semua itu berubah ketika ada kejadian yang tidak bisa kuterima, saat seolah dunia runtuh di hadapanku.

“Kok ada ya orang sejahat itu, aku kurang apa?” hal yang selalu berputar di kepalaku bahkan selalu merasa menjadi manusia yang tidak pantas untuk siapapun. Ketika langit favoritku berubah menjadi hujan badai menyeramkan, hari hari penuh warna berubah menjadi hari penuh tangisan, saat seseorang dengan wajah teduh periang yang selalu kubanggakan dan begitu terlihat menyayangiku yang bahkan tidak pernah terlintas dipikiranku untuknya melakukan pengkhianatan.

“Mengapa ada perempuan yang tega mengambil kebahagiaan perempuan lain?” pikiran yang sampai saat ini masih selalu ku pertanyakan, sesama perempuan yang seharusnya mengerti akan perasaan malah bahkan terkesan menganggap hal itu sepele. Bukankah perempuan baik tidak akan mengambil milik perempuan lain, tetapi mengapa langit favoritku lebih memilih perempuan itu. Permintaan maaf sedikitpun tidak pernah keluar dari mereka semakin menambah rasa sakit yang kurasakan. Saat aku masih mencoba untuk mengembalikan hidupku ceria seperti dulu lagi, tidak jarang terdengar kabar mereka justru telah bahagia merayakan kebersamaan.

“Mengapa tuhan seperti tidak adil padaku?” bahkan aku sempat mempertanyakan hal seperti seorang hamba yang tidak memiliki rasa percaya kepada tuhannya sendiri. setahun lebih pikiran pikiran itu melingkari kepalaku, sakit. “Sampai kapan kamu akan seperti ini?” tanya seorang sahabat kepadaku, benar juga bukankah ada pepatah mengatakan akan ada pelangi setelah badai.

Imam Syafi’i berkata, Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah akan timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Hal itu supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia.

Hidupku tidak boleh terhenti hanya karena satu kegagalan, mencoba untuk bangkit dari segala kesedihan, namun masih terasa berat jika aku harus tetap berada di kota tempat kita sering menghabiskan waktu. Dilema terasa saat aku berpikir untuk meninggalkan kota, tetapi tuhan menjawab semua kegelisahan didalam hatiku dengan memberikanku kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku di luar kota. Sebaik itu tuhan padaku, padahal aku sempat menyalahkannya perihal yang terjadi padaku kemarin.

Memulai perpindahan ke kota baru, aku berpisah dengan teman temanku bahkan orang tuaku sendiri. Sedih, tapi ini mungkin jalan satu satunya agar aku tidak terus terbayang dengan kejadian yang merusak mental itu.

Hari baru di kampus terasa sangat canggung dan sedikit takut, namun semua langkah yang kuambil ialah langkah pemulihan proses penyembuhan luka batin. Kehidupanku di kota baru terasa lebih membaik, aku menemukan manusia manusia baru yang peduli padaku meskipun sesekali aku masih sering merindukan hal hal lama. Aku memilih untuk fokus pada pendidikanku, fokus pada sesuatu yang membuatku lebih bahagia menghidupkan kembali hobi hobi lamaku seperti menulis yang juga sebagai alternatif untuk menyampaikan emosiku. Sesekali aku juga berjalan jalan sendiri menikmati keindahan kota baruku ini, duduk di tepian kota melihat manusia berlalu lalang ketika pikiran sedang kalut. Aku Pun memilih untuk terlibat dalam organisasi yang cukup terkenal di kampusku, bertemu dengan banyak orang yang selalu memberi harapan dan motivasi untuk terus maju.

Kesibukan dan kegiatan positif di organisasi membuatku merasa lebih berarti, semua anggota organisasi berteman tulus juga membuatku menemukan keluarga baru yang saling mendukung, berbagi kebahagiaan, dan kesedihan hingga merayakan pencapaian bersama.

Lambat laun rasa sakit itu mulai memudar, entah karena waktu atau aku yang sudah mulai sibuk dengan kegiatan lain. Bahkan ketika perempuan itu datang meminta maaf kepadaku setelah satu setengah tahun, hatiku tidak merasakan apapun lagi. Harusnya aku senang saat perempuan itu menyadari kesalahannya, namun semua sudah terasa biasa saja.

Aku baru menyadari bahwa melupakan seseorang bukanlah tentang menghapus kenangan atau menghindari rasa sakit. Melainkan tentang menemukan kembali diri sendiri, menjalani hidup dengan tujuan yang lebih besar, dan menyadari bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat yang tidak terduga. Dengan semangat baru dan hati yang telah pulih, aku ternyata lebih siap menghadapi masa depan dengan keyakinan dan optimisme yang lebih besar. Mengikhlaskan seseorang yang pernah hadir dan penting dalam hidup kita adalah sebuah proses yang penuh dengan tantangan, namun juga sangat melegakan. Ketika kita belajar untuk melepaskan, kita memberikan ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang. Mengikhlaskan bukan berarti melupakan atau mengabaikan kenangan, tetapi menerima kenyataan bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Patah hati dan rasa pengkhianatan memang bisa merenggut kebahagiaan serta semangat hidup. Namun, di balik setiap kesulitan, selalu ada peluang untuk bangkit dan menemukan kebahagiaan baru. Kehilangan mungkin telah merenggut kebahagiaan sementara, tetapi bukan berarti kehilangan masa depan pula. Dengan keberanian, ketekunan, dan cinta untuk diri sendiri bisa membangun kembali hidup yang lebih kuat dan lebih bahagia. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menemukan cahaya di tengah kegelapan. Teruslah berjalan maju, dan percayalah bahwa masa depan yang cerah menanti.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.