Pelatihan Media Sosial dan Marketplace Enam Mahasiswa UMBY Dukung Digitalisasi Pengrajin Bambu di Desa Brajan
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Sleman 29 Juni, enam mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) tengah menjalani program pelatihan bersama pengrajin bambu di Desa Brajan, Sendangagung, Minggir, Sleman. Kegiatan ini merupakan pleatihan dari mata kuliah Kapita Selekta Komunikasi dan bertujuan untuk mendukung pengrajin local dalam pemasaran digital melalui sosial media dan platform e commerce.
Selama pelatihan di Desa Brajan, enam mahasiswa melakukan observasi dan di temukan bahwa Sebagian besar pengrajin belum memiliki akun sosial media, dan ada beberapa mempunyai akun sosial media tetapi tidak aktif. Padahal potensi visual dari kerajinan bambu baik dari sisi estetika maupun proses pembuatannya sangat menjual jika di presentasikan dengan baik di platform seperti Instagram dan TikTok.
Enam mahasiswa UMBY ini tak hanya berperan sebagai pelatih tetapi juga menjadi pendamping yang komunikatif. Mereka menyusun materi pelatihan dari awal, disesuaikan dengan situasi serta tingkat pemahaman para pengrajin. Pelatihan dilakukan dengan cara-cara sederhana, seperti praktik langsung, diskusi dalam kelompok kecil, hingga sesi tanya jawab santai di rumah warga.
Untuk mengatasi keterbatasan dalam hal teknologi, para mahasiswa juga membantu dalam mengunduh aplikasi, mengatur akun, hingga membuatkan contoh konten awal. Bahkan, beberapa pengrajin yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan smartphone kini mulai aktif mengunggah konten mereka sendiri.
Melalui pelatihan yang di susun, para pengrajin di ajarkan untuk membuat dan mengoptimalkan akkun Instagram bisnis, mengenal fitur-fitur yang ada di Instagram bisnis seperti fitur ADS, Reels, serta bagaimana Menyusun konten visual yang menarik audiens. Mahasiswa juga mengenalkan tentang TikTok dan strategi pembuatan video singkat yang dapat menjangkau lebih banyak audiens, seperti cara mengiklan yang menarik, proses pembuatan produk.
Tidak hanya sosial media, pelatihan ini juga mencangkup dan cara mengupload produk di marketplace Shopee. Enam mahasiswa tersebut membantu membuatkan akun toko, mengunggah katalog produk lengkap dengan deskripsi dan harga, serta menggunaka fitur promosi gratis ongkir dan voucher toko.
Salah satu keunggulan dari kegiatan ini adalah terciptanya kolaborasi antar generasi mahasiswa sebagai representasi generasi digital dan para pengrajin sebagai pelestari kearifan lokal. Proses yang terjadi bukan sekadar alih pengetahuan, melainkan juga pertukaran nilai. Mahasiswa belajar mengenai filosofi bambu, proses kerja manual yang menuntut kesabaran, serta kehidupan komunitas yang hangat dan menjunjung gotong royong.
Sebaliknya para pengrajin mulai terbuka terhadap pendekatan serta gagasan baru. Mereka mulai menyadari pentingnya identitas visual, konsistensi dalam branding, serta peran storytelling dalam memasarkan produk. Saat ini beberapa pengrajin sudah memiliki akun Instagram dan TikTok aktif dengan nama usaha masing-masing.
Pelatihan yang di jalankan oleh ke enam mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) di Desa Brajan bukan hanya sekedar kegiatan untuk memenuhi tugas mata kuliah saja. Di balik setiap unggahan yang di upload di sosial media, serta setiap unggahan etalase Shopee yang di susun, tersimpan semangat pemberdayaan yang nyata. Sebuah semngaty untuk menghubungkan antara generasi dan mendekatkan masa depan dengan akar tradisi.
Pra pengrajin bambu di Desa Brajan telah lama melestarikan kearifan local lewat kerajinan tangan yang serat makna. Kini berkat sentuhan digital yang ramah dan terarah mereka tidak hanya tetap relevan di Tengah perubahan zaman tetapi juga menemukan peluang baru yang sebelumnya tampak jauh. Media sosial tak lagi hanya menjadi tempat hiburan, melainkan menjadi jendela baru yang mempertemukan keunikan local dengan permintaan global.
Bagi para ke enam mahasiswa pengalaman ini tidak hanya semata soal sharing dan pelatihan tetapi juga proses belajar. Belajar bagaimana teknologi dapat di gunakan secara manusiawi. Belajar bahwa perubahan yang berkelanjutan lahir bukan dari proyek-proyek besar, melainkan dari interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten, dari dialog yang saling mendengar.
Langkah awal telah dimulai. Masih banyak tantangan yang menanti, namun fondasi telah dibangun. Dengan kolaborasi antara semangat generasi muda, kemampuan teknologi, dan kekayaan budaya lokal, masa depan pengrajin bambu Brajan akan terus bertumbuh juga melalui jangkauan digital yang menembus batas geografis.
Sebab di era ini menjaga warisan bukan berarti menolak kemajuan, justru sebalikanya warisan akan terus hidup jika di beri ruang untuk berkembang.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0