Penjahit Gampang Sakit Leher dan Pinggang, lalu Harus Apa?
Oleh Febryant
Mahasiswa.co.id - Sakit leher dan pinggang merupakan bagian dari keluhan muskuloskeletal. Apa itu keluhan muskuloskeletal? Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), keluhan muskuloskeletal (musculoskeletal disorders) adalah cedera atau gangguan pada otot, saraf, tendon, sendi, tulang rawan, dan cakram tulang belakang. Keluhan muskuloskeletal erat kaitannya dengan ergonomi. Keluhan ini bersifat kronis atau bisa diderita dalam waktu yang lama dan dampaknya terakumulasi seiring berjalannya waktu. Berdasarkan data terbaru yang tercatat oleh Global Burden of Disease di tahun 2019, terdapat sekitar 1,71 miliar orang di dunia yang memiliki keluhan muskuloskeletal (WHO, 2022). Keluhan muskuloskeletal dapat terjadi pada berbagai jenis pekerjaan, salah satunya pada penjahit.
Penjahit merupakan salah satu pekerjaan sektor informal yang berisiko terhadap gangguan muskuloskeletal. Hal ini dikarenakan sektor informal secara umum masih belum banyak terpapar informasi terkait ergonomi dan pekerjaan penjahit yang sebagian besar waktunya dihabiskan dalam posisi duduk sehingga posisi pekerja menjadi monoton dan repetitif yang dapat menimbulkan nyeri pada tubuh.
Penelitian dari India, Bangladesh, Pakistan, Iran, dan negara lainnya menunjukkan dampak dari pekerjaan penjahit yaitu kurangnya suplai darah ke otot sehingga menyebabkan kelelahan otot, kram, kesemutan, hingga menyebabkan nyeri pada otot. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan keluhan muskuloskeletal, yaitu pegal, nyeri, sakit, rasa tidak nyaman, ketidakpekaan, hingga iritasi. Area tubuh yang paling banyak dirasakan yaitu leher, punggung, dan diikuti oleh pinggang.
Lalu, apa sih penyebab keluhan muskuloskeletal pada penjahit? Keluhan yang dirasakan pada leher disebabkan oleh postur pekerja yang menunduk dalam waktu yang lama ketika melakukan aktivitas menjahit. Keluhan pada punggung dan pinggang disebabkan oleh tidak adanya sandaran kursi, desain kursi dan meja yang tidak sesuai dengan kondisi fisik pekerja (terlalu tinggi, rendah), tata letak tempat kerja yang membatasi gerak, serta postur pekerja yang membungkuk dengan sebagian punggung atau pinggang miring ke samping sehingga menimbulkan ketegangan otot, postur lengan yang tertekuk dalam waktu lama hingga menyebabkan kelelahan, dan pergelangan tangan yang menekuk dengan sesekali memutar hingga menyebabkan timbulnya rasa sakit.
Selain itu, ada faktor lain nih, yaitu pencahayaan yang kurang sehingga penjahit perlu menunduk dan membungkuk agar dapat melihat pola jahitan lebih dekat dan jelas. Kira-kira apa yang harus dilakukan untuk mencegah keluhan muskuloskeletal menjadi lebih parah? Jadi, langkah pencegahannya ada 2, bisa dilakukan oleh pemberi kerja dan oleh pekerja penjahit itu sendiri. Jika kamu adalah seorang pemberi kerja yang mempekerjakan para penjahit, berikut langkah yang dapat kamu lakukan:
a. Memfasilitasi pelatihan dan edukasi terkait keluhan muskuloskeletal pada pekerja, termasuk dampak jangka panjang dan cara pencegahannya. b. Menyediakan fasilitas kerja dengan desain yang ergonomis, seperti kursi dengan sandaran punggung dilengkapi dengan bantalan dan meja yang tidak terlalu rendah. c. Menyediakan layout kerja yang sesuai dengan kondisi fisik pekerja, seperti penempatan alat dan bahan jahit yang jaraknya tidak terlalu jauh agar pekerja dapat menjangkau dengan mudah tanpa memutar tubuh. d. Menyediakan penerangan yang memadai di tempat kerja untuk menghindari postur leher yang menunduk. e. Memberikan waktu istirahat singkat untuk peregangan di sela-sela jam kerja. f. Menyediakan fasilitas atau akses ke pelayanan kesehatan bagi pekerja yang memiliki keluhan terkait muskuloskeletal. g. Membuat program workplace exercise group setiap 2 kali seminggu. Nah, jika kamu merupakan seorang penjahit, berikut langkah yang dapat kamu lakukan: a. Melakukan peregangan dan istirahat sejenak setiap 20-30 menit terutama pada bagian leher, punggung, dan pinggang. b. Melakukan senam punggung sebelum tidur. c. Memahami kapasitas diri dan menyesuaikannya dengan beban kerja yang dimiliki agar dapat melakukan pengaturan dan jeda kerja sesuai dengan kebutuhan. d. Melancarkan peredaran darah dengan minum air putih 2L/hari. e. Memeriksakan diri ke profesional kesehatan apabila merasakan keluhan berlanjut.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0