Perbandingan Teori Belajar Behavioristik dan Humanistik dalam Psikologi Pendidikan
Oleh Nadia
Oleh : Qori Adelia
Mahasiswa.co.id - Dalam psikologi pendidikan, proses belajar dipandang lebih dari sekadar kegiatan menyerap pengetahuan dari guru ke peserta didik. Belajar merupakan perjalanan menyeluruh yang melibatkan pengalaman, pikiran, emosi, hingga cara seseorang membangun makna hidupnya. Setiap peserta didik membawa cerita dan prosesnya masing-masing, ada yang cepat memahami materi, ada yang lambat tapi teliti, ada yang tenang dan ada pula yang banyak bertanya. Oleh karena itu, muncul berbagai teori belajar sebagai upaya memahami bagaimana manusia berkembang melalui pendidikan. Dua di antaranya yang paling sering diperbandingkan adalah teori behavioristik dan humanistik, karena keduanya memandang proses belajar dari sudut yang sangat berbeda.
Teori behavioristik melihat belajar sebagai perubahan perilaku yang bisa diamati secara nyata. Tokoh-tokoh seperti Watson, Pavlov, dan Skinner percaya bahwa lingkungan merupakan faktor utama yang membentuk kebiasaan seseorang. Dalam pendekatan ini, fokus pendidikan lebih diarahkan pada stimulus dan respon. Peserta didik diberi rangsangan, dan respons yang muncul dievaluasi. Jika sesuai harapan, diberi penguatan positif seperti pujian atau nilai; sebaliknya, jika melanggar aturan, diberikan konsekuensi. Model seperti ini mudah ditemui di sekolah: guru memberi poin tambahan untuk siswa yang disiplin, memberikan hukuman ringan bagi yang terlambat, atau melakukan latihan soal berulang agar siswa terbiasa dengan pola tertentu. Cara ini memang efektif membentuk kedisiplinan dan keteraturan, terutama pada anak-anak yang masih butuh arahan jelas. Namun, behavioristik sering dikritik karena terlalu fokus pada tampilan luar tanpa melihat kondisi emosional atau makna pengalaman belajar bagi peserta didik.
Berbeda dengan itu, pendekatan humanistik menempatkan manusia sebagai individu utuh yang memiliki perasaan, harapan, dan potensi untuk berkembang. Tokoh seperti Carl Rogers dan Maslow menekankan bahwa pembelajaran akan maksimal jika peserta didik merasa aman, dihargai, dan dipercaya. Dalam kelas yang humanistik, guru tidak hanya berperan sebagai sumber pengetahuan, melainkan pendamping yang membimbing peserta didik menemukan makna sendiri dari proses belajar. Dialog, rasa penerimaan, kebebasan bertanya, dan suasana emosional yang aman menjadi fondasi utama. Seorang siswa yang awalnya ketakutan bertanya, misalnya, bisa berubah jauh lebih percaya diri ketika guru memberi ruang untuk salah, menghargai setiap usaha, dan tidak langsung menilai. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang mampu mengenali dirinya sendiri, percaya pada kemampuannya, serta punya motivasi belajar dari dalam diri, bukan sekadar demi nilai.
Pandangan humanistik juga berkaitan erat dengan teori kebutuhan Maslow. Dalam hierarki tersebut, seseorang tidak mungkin mencapai potensi tertinggi jika kebutuhan dasar seperti rasa aman, kasih sayang, atau penghargaan belum terpenuhi. Di kelas, kita sering melihat kenyataan ini. Siswa yang datang dengan perut kosong sulit berkonsentrasi, anak yang sering disindir temannya ragu bicara di depan kelas, sementara mereka yang ide dan perasaannya didengarkan cenderung tumbuh lebih percaya diri. Dengan memahami hal ini, guru dituntut tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pencipta lingkungan belajar yang suportif dan manusiawi.
Salah satu contoh nyata penerapan dua pendekatan ini terlihat pada sebuah sekolah dasar di Depok pada awal tahun ajaran 2025. Guru kelas IV menghadapi situasi menarik: ada sekelompok siswa yang sering ribut dan sulit berkonsentrasi, sementara beberapa lainnya cenderung pendiam dan menarik diri. Pada awalnya, guru menerapkan pendekatan behavioristik seperti memberikan aturan kelas, hukuman ringan bagi yang mengganggu teman, serta poin penghargaan bagi siswa yang disiplin. Hasilnya cukup terlihat: kelas menjadi lebih teratur, siswa mengikuti instruksi, dan tugas selesai tepat waktu. Namun, dalam prosesnya, guru menyadari bahwa dua siswa tetap sulit fokus dan cenderung pasif meskipun tidak melanggar aturan.
Setelah melakukan pendekatan personal, terungkap bahwa salah satu siswa sedang menghadapi masalah keluarga dan kehilangan motivasi belajar, sementara siswa lainnya merasa takut salah dan kurang percaya diri. Dari titik itu, guru mulai menggabungkan pendekatan humanistik dengan menyediakan sesi percakapan santai, memberikan dorongan positif, dan memberi ruang bagi mereka untuk belajar dengan ritme yang sesuai. Lambat laun, kedua siswa mulai menunjukkan perubahan: bukan karena takut hukuman, tetapi karena merasa diperhatikan dan dihargai.
Dari dinamika tersebut terlihat bahwa behavioristik memberi fondasi kedisiplinan dan struktur pembelajaran, sedangkan humanistik memberikan nyawa pada proses belajar itu sendiri. Ketika peserta didik hanya diarahkan melalui aturan, mereka mungkin patuh, tetapi belum tentu berkembang secara emosional. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu bebas tanpa arahan juga dapat membuat proses belajar tidak terarah. Di sinilah pendidik perlu bijak memilih strategi, menggabungkan kekuatan kedua pendekatan sesuai keadaan. Pendidikan yang efektif bukan hanya memastikan siswa mampu mengerjakan soal, tetapi juga menumbuhkan manusia yang peka, percaya diri, dan mampu mengaktualisasikan potensi dirinya.
Pada akhirnya, hakikat pendidikan adalah membantu peserta didik tumbuh secara menyeluruh, baik dalam pemikiran, hati, maupun tindakan. Pendekatan behavioristik membekali mereka dengan kedisiplinan dan kebiasaan baik, sedangkan humanistik membantu mereka menemukan makna dan tujuan dalam proses belajar. Ketika keduanya dipadukan secara tepat, proses pendidikan menjadi lebih manusiawi, bermakna, dan berdampak panjang dalam kehidupan peserta didik.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0