Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Sains Bukan Sihir: Walau Sama-Sama Bikin Orang Bingung

Sains

Penulis:
Xenia Agatha
Program Studi Psikologi Islam
UIN Raden Mas Said Surakarta

Mahasiswa.co.id - Bayangin kalian lagi duduk santai di ruang tamu, minum kopi sambil scroll TikTok, terus tiba tiba muncul video: “Alasan kenapa kamu harus tidur dengan bawang merah di kaos kaki agar racun tubuh keluar”. Kalian terus mikir: loh bawang kok jadi exfoliating foot mask? Disaat yang sama, ponsel kalian menerima notifikasi Wi-Fi dari router yang bahkan tidak kalian lihat kabelnya. Kalau dipikir-pikir, hidup kita penuh hal yang membingungkan, mulai dari tips kesehatan random dari TikTok sampai teknologi yang kayaknya pakai kekuatan gaib. Dri dua hal sederhana itu saja kadang kita sulit membedakan mana sains, mana sihir, dan mana sekedar konten yang sengaja dibuat agar fyp.

Padahal, kalau dipikir-pikir ada satu kesamaan lucu antara sains dan sihir: keduanya sama-sama bikin bingung. Bedanya, sihir sengaja bikin orang-orang bingung agar terlihat seru, sementara sains bikin orang-orang bingung karena ya memang gitu prosesnya. Kadang seorang ilmuwan aja bingung, apalagi kita yang cuman numpang lewat di dunia pengetahuan. Tapi mari kita bahas dengan santai. Agar sains tidak terasa seperti ujian fisika di hari Senin jam 7 pagi.

Kalau kalian pernah nonton pertunjukan sulap, kalian pasti tahu rasanya: satu menit pesulap itu memegang kain putih, menit berikutnya kain putih itu sudah berubah menjadi burung merpati. Terus kalian bengong, penonton lain bengong. Bahkan burungnya juga bingung kenapa ikut pertunjukan sulap tanpa kontrak kerja. Tidak ada yang marah karena bingung. Bingung adalah tujuannya, dan “tidak tahu” adalah bagian dari hiburan.

Anehnya, perasaan bengong yang sama juga muncul ketika kita melihat hal-hal yang ilmiah. Contohnya: pintu di mall yang kebuka sendiri, kita jalan ke arah pintu kaca itu, whoosh, pintu terbuka tanpa disentuh, dulu kita mengira itu adalah jin CS yang sedang lembur, sekarang kita tahu bahwa itu adalah sensor gerak. Pesawat terbang, benda raksasa yang beratnya berton-ton, tapi bisa melayang di udara. Logikanya dimana? Tapi katanya itu namanya aerodinamika.

Buat orang yang ngga tahu cara kerjanya, semua ini kelihatan seperti sihir. Dan itu wajar. Bahkan Arthur C. Clarke pernah bilang, “Teknologi yang cukup maju akan terlihat seperti sihir”. Dan jujur saja, banyak teknologi modern memang cocok disebut “Ilmu sulap edisi teknologi”.

Tapi mari kita jujur: sains sama sihir itu beda banget. Walau sama-sama bikin kepala geleng-geleng, sains dan sihir punya tujuan yang berbeda. Sihir ingin membuat kita terpukau, sementara sains ingin membuat kita paham. Ya, meski kadang penjelasannya membuat kita menanyakan kemampuan otak sendiri.

Bedanya? Gini:
1. Sihir: “percaya aja”
Kalau pesulap ngeluarin kelinci dari topi, kita ngga nanya gimana itu bisa terjadi, Kita sekedar tepuk tangan. Kita kagum. Kita juga ngga minta arus kerja keluarnya kelinci.

2. Sains: “Tunjukkan buktinya”.
Sains ngga akan bilang “percaya aja”. Ilmuwan juga harus mengamati, membuat hipotesis, eksperimen (yang sering gagal), mencatat data, analisis, dan akhirnya menarik kesimpulan yang mungkin juga belum tentu benar.

Secara psikologis, manusia memang lebih mudah percaya dengan hal yang sederhana dan dramatis. Sihir menawarkan itu semua: cerita yang rapi, hasil cepat, penjelasan instan. Sedangkan sains sering memaksa kita untuk menerima kenyataan bahwa dunia tidak sesederhana itu. Banyak, orang yang lebih banyak menerima jawaban imajinatif, daripada menerima bahwa sesuatu perlu penelitian berahun-tahun dan belum tentu punya kepastian.

Sihir bekerja dengan ilusi. Pesulap menutupi hal penting, dan mereka mengalihkan perhatian ke tempat yang salah, dan membuatmu fokus pada apa yang terlihat spektakuler. Dan itu tidak masalah, karena kita datang untuk melihat pertunjukan, bukan untuk membongkarnya. Sihir tidak meminta kita berpikir, tapi meminta kita untuk percaya.
Berbeda dengan sihir, sains justru ingin kita tahu. Ingin kita mengerti, Ingin kita bertanya. Sains tidak bekerja dengan trik tangan atau jari, tetapi dengan bukti, pengulangan, eksperimen, dan logika yang kadang membuat orang awam menyerah.

Sihir selesai ketika pertujukan berakhir. Penonton pulang, pesulap istirahat, dan misteri tetap dibiarkan menjadi misteri. Sains tidak pernah berhenti, Ketika satu ekperimen selesai, eksperiemen lain dimulai. Ketika satu ilmuwan meninggal, peneliti lain melanjutkan. Sains tidak puas hanya dengan membuat orang kagum sesaat, tapi mereka ingin memberi fondasi pengetahuan yang bisa dipakai generasi selanjutnya.

Jadi kalau sulap cuma butuh tongkat dan latihan jari cepat, sains butuh laboratorium, alat mahal, kertas buat laporan berkali-kali revisi.

Kalau sihir bekerja dalam hitungan detik saja, sains bekerja dalam hitungan yang kadang bertahun-tahun. Bahkan Einstein aja butuh waktu lama buat teori nya. Apalagi kita yang kadang salah ngitung kembalian Indomaret.

Dan rumitnya lagi, dalam sains tidak ada yang benar selamanya. Semua bisa berubah seiring munculnya bukti baru. Sains tidak selalu benar. Justru keindahannya terletak pada kemampuannya mengakui kesalahan. Ketika teori lama terbukti tidak akurat, sains merevisinya. Itulah kekuatan sains dalam berkembang. Sihir tidak pernah berubah, trik yang sama bisa dipakai berulang kali, sains justru berkembang karena ketidaksempurnaan itu. Itulah mengapa sains terihat seperti membingungkan untuk sebagian orang, dan tidak menjanjikan kepastian yang instan.

Tapi justru karena sifatnya yang rumit, sains memampukan kita untuk memahami dunia jauh lebih dalam dibandingkan sihir.

Kenapa banyak orang tetap bingung dengan sains? Nah, ini bagian seru sekaligus sedih. Meskipun sains tujuannya baik, memberikan penjelasan yang logis tentang dunia, tapi tetap saja banyak manusia yang bingung, salah mengartikan, bahkan bikin takut duluan. Kenapa begitu? Ada beberapa alasan lucu:

1. Bahasa Ilmiah Itu Ribet
Jujur saja, kadang ilmuwan pakai bahasa seperti alien yang turun dari pesawat luar angkasa. Seperti “natrium klorida” yang berarti “garam”, “dihidrogen monoksida” yang berarti “air”. Padahal kita pengen tahu kenapa seragam kesayangan kita muat buat adik kelas. Bahasa ilmiah itu sendiri lah yang membuat sains itu sendiri keliatan susah, padahal kalau dijelaskan dengan bahasa yang simple, semua orang bisa ngerti.

2. Informasi Palsu Lebih Menarik Dari Pada Fakta
Entah mengapa kabar hoaks itu lebih cepat menyebar dari pada Wi-Fi mall. Beberapa contohnya: minum air garam bisa menyembuhkan semua penyakit, kalau garam bisa ngapain ada S1 Kedokteran. Kenyataan pahitnya adalah informasi yang tidak masuk akal sering kali lebih “wah” dan lebih diterima daripada penjelasan yang jujur tapi rumit. Sains harus pakai bukti, hoaks cukup pakai dramatisasi.

3. Sains Prosesnya Panjang Hasilnya Lama
Orang zaman sekarang pengennya instan, pengennya langsung “cling” dah didepan mata. Pesan makanan 20 menit dateng sendiri. Nonton film tinggal bayar langganan 2 bulan. Sains? Butuh proses, butuh waktu, butuh waktu panjang, dan manusia terkadang tidak sabar. Padahal hasil teknologi instan hari ini adalah hasil penelitian panjang kemarin-kemarin.
Sebenarnya kalau kita lihat sekitar kita. Banyak hal yang sebenarnya ilmiah, tapi kalau diceritakan konteks nya bisa terdengar seperti mantra sihir. Magnet, benda kecil yang bisa menarik tanpa menyentuhnya, kalau saja ini ada di zaman kerajaan, mungkin pemiliknya sudah dipanggil raja, dan dituduh punya kekuatan gaib. Atau internet tanpa kabel: gelombang elektromagnetik yang membuat kita bisa nonton video, kirim chat, dan mengobrol sampai lupa waktu. Bahkan mesin cuci pun terasa seperti benda kotak sihir modern, yang dimasukkan baju kotor bisa keluar baju, dalam kedaan bersih dan wangi. Sains menciptakan teknologi yang kalau kita tunjukkan ke orang abad pertengahan, mungkin sudah dianggap punya ilmu hitam. GPS, misalnya yang berfungsi ketika kita memahami teori relativitas Einstein, teori yang bahkan banyak mahasiswa fisika yang membutuhkan waktu lama untuk memahaminya. Apa yang kita anggap biasa hari ini sebenarnya Adalah “sihir” versi nenek moyang kita.

Namun justru karena dunia sering penuh dengan informasi aneh, berpikir ilmiah jadi penting. Bukan berarti kita harus jadi ilmuwan dengan berbaju lab putih, punya mikroskop pribadi, atau hafal rumus panjang. Cukup dengan tidak menelan mentah-mentah apapun informasi yang kita dapatkan, bertanya “kenapa” dan “buktinya mana”, tidak langsung percaya hanya karena sesuatu itu sedang viral. Berpikir ilmiah itu seperti memakai helm, terasa ribet, tapi menyelamatkan kita dari sesuatu dari banyaknya bahaya. Kebingungan bukan tanda kalau kita itu bodoh, itu adalah tanda bahwa otak kita sedang mencoba untuk memproses informasi baru. Bahkan ilmuwan sering bingung, tapi bingungnya itulah yang membuat teori-teori baru lahir, dan mereka bangga karena itu berarti ada hal yang menarik yang perlu dijelaskan. Bingung tentang sains itu normal, yang penting bukan tidak bingung, tapi apa yang harus kita lakukan setelah bingung. Antara menyerah atau penasaran dan cari tahu. Kalau memilih yang kedua, selamat kalian sudah mulai berpikir seperti ilmuwan, meskipun mungkin nilai IPA kalian dulu pas-pasan.

Pada akhirnya, sains dan sihir sama-sama membuat kita berkata “Hah? Kok bisa”. Bedanya di sihir kita hanya bisa takjub, sedangkan sains mulai dari rasa takjub, bingung, dan berakhir pada pemahaman. Sihir ingin membuat kita heran, sains membuat kita ingin tahu. Sihir bekerja hanya dengan ilusi, sains bekerja dengan bukti. Jadi, kalau suatu hari nanti kalian melihat teknologi yang membuat kalian ingin teriak “abakadabraa” ingatlah mungkin itu adalah sains yang belum sempat kita pelajari. Dan kalau kalian masih bingung setelah belajar. Tenang saja, kebingungan adalah tahap awal menuju pengetahuan, atau minimal kalian punya kesadaran untuk googling setelah kalian bingung.

 

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.