Mahasiswa.co.id - Matahari senja menyapu perlahan di atas genteng masjid pesantren, menebar cahaya keemasan yang menyentuh tiap sudut. Di pelataran, puluhan santri duduk melingkar, tangan mereka bergantian menyendok nasi dan lauk dari wadah-wadah besar yang sama. Senyum yang terkembang, dan tawa yang sesekali terdengar, menyatu dalam harmoni kebersamaan. Tak ada yang merasa lebih berhak, tak ada yang merasa kurang. Semuanya sederhana, namun penuh makna.
Di setiap dengung azan maghrib yang keluar dari langgar-langgar pesantren, tercipta sebuah ruang yang lain. Sebuah ruang di mana kebersamaan selalu hadir, sebuah ruang di mana makan, tidur di satu tempat yang sama, dan menuntut ilmu dengan hati yang tawadhu adalah keseharian. Ruang ini tentu akrab bagi setiap santri. Ruang ini adalah sublimasi dari sebuah gagasan besar, yaitu sosialisme Islam. Inilah wajah sosialisme yang sesungguhnya, yang hidup dan bernafas, jauh sebelum kata sosialisme sendiri menjadi wacana di ruang-ruang akademik.
Namun, sosialisme di sini bukanlah yang berwajah ateis yang orang-orang kira. Sosialisme bukanlah yang antiagama yang orang anggap. Di sini, sosialisme memiliki wajah yang berbeda, berjiwa tauhid, yang berakar pada ukhuwah Islamiyah, dan yang bertujuan untuk meraih keadilan yang diridhai Allah. Dalam narasi inilah, santri seharusnya menemukan peran historisnya yang paling otentik, serta menggunakan legacynya dalam menjalankan peran tersebut.
Di balik tembok pesantren, waktu berjalan dengan nadanya sendiri. Di sini, logika kapitalisme yang mengagungkan akumulasi harta dan kompetisi individual ternyata tak berlaku. Yang ada hanyalah denyut jantung kolektivitas yang kental, yang terasa di setiap nafas kehidupan. Sebuah republik kecil yang berdiri tegak di atas prinsip-prinsip keadilan ekonomi yang bersumber langsung dari ajaran Islam.
Pesantren: Sebuah Republik yang Sosialis-Relijius
Sebelum Karl Marx menulis Das Kapital, pesantren di Nusantara telah lama mempraktikkan prinsip-prinsip kolektivisme yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. Prinsip-prinsip itu melebur dalam elemen masyarakat sosial, berupa:
Kooperasi ilmu dan ekonomi, yang mana ilmu didistribusikan secara gratis atau hampir gratis. Ini adalah sebuah sistem pendidikan yang menolak komersialisasi bahkan kapitalisasi. Sumber daya ekonomi, mulai dari makanan hingga buku, semua dikelola secara kolektif. Sistem ini adalah bentuk pengejawantahan dari sabda Nabi, "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api," yang kemudian diperluas maknanya menjadi ilmu dan sandang-pangan.
Selain itu, zakat dapat dikatakan sebagai revolusi sosial. Mekanisme zakat, infak, dan sedekah bukanlah amal yang bersifat karitatif semata, melainkan sebuah alat redistribusi kekayaan yang sistematis dan revolusioner. Kapitalis sendiri tidak akan memiliki pikiran yang seperti ini. Mekanisme ini memastikan tidak ada satupun anggota komunitas yang tertinggal, sebagaimana sebuah konsep welfare state dalam skala mikro.

Komentar 0