Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Sekolah Inklusi di Surakarta Masih Butuh Dukungan Guru Pendamping Khusus

Universitas-Sebelas-Maret

Surakarta, Mahasiswa.co.id – Implementasi pendidikan inklusi di Kota Surakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. Hal itu terungkap dalam hasil penelitian Tim Hibah Pembelajaran Berdampak Riset Pendidikan Inklusi 2026 Universitas Sebelas Maret (UNS) yang disosialisasikan di Taman Cerdas, Kecamatan Jebres, Surakarta, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan sosialisasi tersebut menjadi wadah bagi tim peneliti untuk memaparkan hasil riset yang telah dilakukan selama enam bulan. Penelitian menyasar enam sekolah di Kota Surakarta, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat, baik sekolah negeri maupun swasta.

Tim peneliti diketuai oleh Rama Aji Prasetya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Ia bersama enam anggota tim melakukan kajian untuk melihat sejauh mana pendidikan inklusi diterapkan di sekolah-sekolah reguler yang berlabel sekolah inklusi.

Dari hasil penelitian, tim menemukan bahwa sebagian sekolah masih belum memiliki Guru Pendamping Khusus (GPK). Dari enam sekolah yang menjadi lokasi penelitian, tiga di antaranya tidak memiliki GPK. Kondisi ini membuat layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) banyak bergantung pada guru reguler maupun guru bimbingan konseling.

Selain persoalan GPK, keterbatasan fasilitas juga menjadi salah satu kendala utama. Sejumlah sekolah belum memiliki sarana yang sepenuhnya ramah disabilitas, seperti ramp, toilet aksesibel, ruang sumber, maupun alat peraga adaptif. Pada beberapa kondisi, siswa bahkan masih harus membawa alat bantu sendiri.

Tim peneliti juga menemukan bahwa adaptasi kurikulum telah dilakukan di beberapa sekolah, meskipun belum merata. Bentuk adaptasi tersebut antara lain pembuatan soal ujian terpisah, penggunaan rapor berbeda, hingga penyesuaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bagi ABK.

Meski masih menghadapi berbagai kendala, penelitian ini juga mencatat adanya perkembangan positif. Interaksi sosial antara siswa reguler dan ABK secara umum berjalan baik. Di sekolah yang telah lebih lama menerapkan pendidikan inklusi, budaya saling membantu dan menghargai mulai terbentuk di lingkungan sekolah.

Dalam kegiatan sosialisasi, tim turut memaparkan pentingnya pendidikan inklusi, landasan hukum yang mengaturnya, serta berbagai model layanan yang dapat diterapkan sekolah. Beberapa di antaranya adalah Program Pembelajaran Individual (PPI), model pull-out, Pelangi Center, program life skill, hingga pengembangan diri bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 mahasiswa FKIP UNS. Para peserta juga diajak berdiskusi mengenai pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan agar pendidikan inklusi dapat berjalan lebih optimal.

Rama berharap hasil penelitian tersebut dapat memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan inklusi di Kota Surakarta.

“Semoga penelitian yang kami lakukan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan inklusi di Kota Surakarta,” ujar Rama.

Tim peneliti merekomendasikan agar sekolah yang belum memiliki GPK mendapat pelatihan khusus dalam menangani ABK. Pemerintah daerah juga diharapkan lebih memperhatikan penyediaan fasilitas ramah disabilitas serta dukungan anggaran bagi sekolah inklusi.

Selain itu, praktik baik dari sekolah yang telah memiliki GPK, PPI terstruktur, program life skill, serta kemitraan dengan lembaga seperti Pelangi Center, SLBN, psikolog, dan program kerja sama JICA/J-NET dinilai dapat menjadi contoh bagi sekolah lain.

Hasil penelitian ini rencananya akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah pada jurnal terakreditasi Sinta 3. Publikasi tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah maupun pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pendidikan inklusi yang lebih berpihak pada peserta didik berkebutuhan khusus.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.