Mahasiswa.co.id - Juanita Maxwell, seorang karyawan berusia 23 tahun di salah satu hotel di Florida dituduh sebagai tersangka pembunuhan mengenaskan seorang tamu perempuan 72 tahun bernama Inez Kelley berdasarkan bukti bekas darah. Walau kemudian Juanita Maxwell dibebaskan, ia kembali ditangkap pada 1988 karena perampokan dua bank. Namun lagi-lagi Juanita dibebaskan dari tuduhan, mengapa? Berkat kepribadian dirinya yang berganda.
Menurut Nevis, Rathus dan Greene (Abnormal Psychology, 2005), kepribadian ganda terjadi ketika seseorang atau individu mempunyai dua atau lebih kepribadian yang berbeda, atau bisa juga disebut kepribadian alternatif. Ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan kepribadian ganda yaitu trauma berat, ketidakstabilan lingkungan, dan tidak mampu menangani stres. Hal ini terjadi karena pernah mengalami trauma fisik, seksual, atau emosional yang parah pada masa kanak-kanak atau masa remaja bisa memicu kondisi ini. Mereka yang mengalami peristiwa traumatis mungkin mengembangkan identitas yang berbeda sebagai mekanisme koping untuk melindungi diri dari ingatan dan rasa sakit tersebut. Kemudian didukung oleh lingkungan yang tidak stabil, disfungsional, atau berbahaya juga dapat berperan dalam perkembangan kondisi ini. Contohnya, seperti berada dalam keluarga yang terlibat dalam pelecehan, kekerasan, atau konflik kronis.
Suatu kondisi keluarga disfungsional tentu dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. Peran didefinisikan sebagai harapan sosial dan harapan masyarakat adalah bagian dari dirimu sendiri. Self atau ego dapat mengambil sejumlah peran dalam dimainkan oleh individu. Teori peran dapat dipahami dari sudut pandang psikologis dan bersifat sosial. Serangkaian peran dalam masyarakat terbentuk suatu struktur di mana interaksi sosial dapat terjadi secara teratur. Perilaku kita merupakan pertimbangan konteks spesifik tentang apa yang kita harapkan dalam situasi tertentu. Peran orang lain dalam kehidupan lampau (masa kanak-kanak) merupakan bagian dari pengalaman. Sangat sulit bagi kita untuk berubah seiring bertambahnya usia, hal ini juga disebut sebagai trauma.
Mayoritas film bergenre Thriller mengangkat karakter antagonis yang didasari oleh penyakit psikososial. Psikopati menjadi perhatian khusus dalam studi horor film karena hubungannya yang penting dengan rasa takut. Psikopat sering kali demikian dicirikan sebagai tidak memiliki rasa takut (Hosker-Field, Gauthier & Book, 2016) Tokoh Dinda (Laura Basuki) di film thriller Sleep Call (2023) yang disutradarai oleh Fajar Nugros dengan jelas menggambarkan seseorang yang mengalami gangguan psikososial akibat trauma dari lingkungan keluarganya, yang didasari sedari kecil. Film ini tak hanya menggambarkan dampak dari penyakit akibat trauma sosial yang dialami Dinda, namun juga mengenai dampaknya yang mengguncang jika seseorang dengan penyakit psikososial tidak mendapatkan penanganan dan lingkungan suportif yang seharusnya didapatkan.
Sumber : Inversi.id
Menurut George Herbert Mead, proses sosialisasi yang terjadi antar individu dalam masyarakat melalui tiga tahap, yaitu tahap peniruan (play stage), tahap tindakan (game stage), dan penerimaan norma kolektif (generalized other).
Watch Out Spoiler!
Awal dari klimaks film Sleep Call muncul pada pertengahan alur, ketika HP Dinda mendapatkan notifikasi dari nomor tak dikenal mengirimkan foto Bayu (Kristo Imanuel), atasannya yang muka serta badan telah dipenuhi darah dan tak sadarkan diri. Dinda terguncang dan sangat terheran-heran karena dirinya baru saja bertemu dengan Bayu. Penonton kemudian digiring bersama Dinda untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang ganjal ini, ketika kemudian Pak Tommy (Bront Palare) yang selanjutnya meninggal dalam keadaan mengenaskan oleh figur yang tidak ditunjukan identitasnya. Secara otomatis Dinda (dan penonton) menyimpulkan bahwa Rama (Juan Bio One) yang selalu memanjakan Dinda di sesi pertemuan daring malam adalah pelaku dibalik kedua pembunuhan tersebut dengan motivasi untuk melindungi atau “menyelamatkan” Dinda dari kedua tokoh yang telah menganiaya dan melecehkannya. Secara perlahan kemudian penyelidikan dan pencarian lokasi Rama dilakukan oleh Dinda. Semua ini dilakukan oleh Dinda dalam tahap generalized others yang merupakan hasil dari tahap play stage dan game stage. Tahap ini merupakan tahap generalized other dalam hidup Dinda karena dirinya yang sudah bertindak secara mandiri tanpa dibantu oleh agen sosialisasi sehingga sudah menerima norma secara kolektif.
Curiga, Dinda mengamati gerak-gerik Rama di dalam rumahnya bersama seorang perempuan asing yang tak dikenalnya. Perempuan tersebut kemudian mencium pipi Rama dengan lembutnya, Dinda sadar dan dipenuhi oleh amarah. Tak lama kemudian Dinda menyembunyikan dirinya di balik jaket hitam yang memiliki tudung, dan dengan pisau di tangan ia masuk dengan begitu saja ke rumah Rama untuk membunuhnya dengan mengenaskan. Terdengar familiar? Dinda sendirilah yang mempunyai dua HP berbeda untuk mengirimkan foto Bayu. Dinda menciptakan suatu kepribadian yang berbeda untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menjadi pembunuh berantai. Dinda tidak memiliki siapa-siapa, hal itu sudah dirinya pelajari sejak kecil. Sejak Ayahnya meninggalkan rumah dan sejak Ibunya mengajak Dinda untuk bersama mengakhiri hidup.
Dalam tahapan play stage dan game stage pada teori peran, Dinda mendapatkan sosialisasi yang sangat buruk melalui lingkungan keluarganya. Contohnya ketika ayah Dinda melakukan kekerasan terhadap ibunya yang kemudian mengajak Dinda untuk bunuh diri bersama lewat minuman yang sudah diracik sedemikian rupa seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Sosialisasi melalui keluarga yang buruk saat play stage kemudian berakibat menghasilkan perilaku Dinda yang tak wajar namun merupakan hasil dari lingkungannya tersebut. Ketika kecil ia sering bermain bersama bonekanya, namun anehnya ketika ia bermain dengan bonekanya ia justru memperlakukan bonekanya seolah-olah ingin diikat. Hal ini mungkin saja karena Dinda meniru perilaku Ayahnya yang penuh kekerasan terhadap Ibunya, menyebabkan Dinda yang secara tak sadar memiliki sifat agresif dalam psikisnya.

Komentar 0