Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Trotoar Pinggir Jalan Menjadi Saksi Langkah Pijakan Kaki Seorang yang Selalu Bersyukur

Langkah Pijakan

Oleh: Habby Nabil Bilali
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Cirebon, Mahasiswa.co.id - Mereka 2 orang sahabat yang sudah lama bersama dan mencari penghasilan bersama. Saya sebut saja namanya Ali dan Abdul (Ini nama samaran karena saya tidak ingin nama asli mereka tau). Mereka mencari uang dengan mencari botol bekas dan menjadi badut dengan hanya bermodalkan kepala badut yang dipegangnya.

Di sore hari yang cukup cerah saya sedang jalan-jalan sore bersama teman saya sambil mencari perlengkapan untuk acara di rumah. Kami mencari perlengkapan itu yaitu kamera digital untuk dokumentasi acara di rumah. Sudah hampir memutari 1 kota Cirebon kami untuk mencari tempat penyewaan kamera digital. Dan seetelah kami dapat kamera itu, kami menyempatkan untuk beristirahat sejenak sebelum nantinya kami akan pulang ke rumah.

Saat kami kami beristirahat sambil meminum minuman yang sudah kita bawa sebelumnya dan sambil membuka kamera yang sudah kita sewa tadi kami tidak sengaja saat sedang ingin memotret suasana dijalan itu. Saya melihat di trotoar sebrang jalan ada beberapa anak yang sedang mencari botol bekas sambil membawa kepala badut dan cup minuman teh bekas yang dibawanya dengan uang receh di dalamnya.

Kami ingin menghampirinya, namun karena kami juga lelah sehabis perjalanan memutari kota Cirebon jadi kami hanya duduk menikmati suasana skitar yang ada. “Huufttthhh...” aku menghela nafas sambil menikmati suasana dan uadara yang meski “uhuk uhuuk” sambil batuk-batuk karena debu jalanan dan asap kendaraan.

Kami sengaja menunggu mereka untuk jmelewati trotoar yang sedang kami tempati. Karena biasanya mereka akan berkeliling di jalan yang berbeda juga akan melewati trotoar yang kami tempati ini. “Slurrpp...” suara seruputan minumanku yang sudah habis. Menandakan bahwa waktu istirahat kami sudah selesai. Namun ketika saya sedang beres-beres dan bergegas pulang, anak-anak itu lewat di hadapan kami dan kamu mengurungkan niat untuk pulang. Karena ingin sedikit bertanya dan berbincang dengan mereka diantaranya adalah Ali dan Abdul tadi.

“Dee, sini foto dulu, Cekreek” bunyi kamera yang aku pegang sambil memotret mereka yang sambil menutupi muka mereka. Aku bertanya “Kenapa dititup gitu mukana?” dia menjawab “Malu om” sambil sedikit tertawa dan merasa malu. Aku menyuruh kepada mereka “Sini duluu, om mau nanya” “Nanya apa om?”

Disini aku mencoba melakukan pendekatan interpersonal dengan meraka dengan mulai bertanya kepada mereka, namun hanya beberapa saja dari mereka yang mau menjawab pertanyaan dariku. Salah satunya adalah Ali dan Abdul. “Kalian namanya siapa?” Aku bertanya kepada mereka berdua dan mereka menjawab “Kami dari belakang daerah sini om deket kok itu di daerah P*******n” tanyaku “ouhh daerah yang banyak jajanan itu yaa” “Plakk” suara Ali nepak pundak si Abdul yang sedang menjawab “iya om”.

Aku mencoba masuk lebih dalam kepada mereka dan aku iseng bertanya “Trus kalian kelas berapa? Tapi kamu sekolah dimana? masih sekolah kan?” “Aku kelas 4 om, mau naik ke kelas 5 iya om, aku masih sekolah kok” jawab si Abdul. Akupun bertanya kembali “Emang ada yg ga sekolah?” “Iya ada om, aku ga sekolah om :) ” jawab ali tersenyum terpaksa sambil mennahan sedih. Akupun segera meminta maaf kepada si Ali “Maaf ya Ali..”. Jawab si Ali dengan pasrah “Iya om gapapaa”. “Ali kelas berapa harusnya?” tanyaku pada si Ali “aku harusnya kelas 3 dan harusnya naik ke kelas 4 om tapi ali baru aja kluar dari sekolah :( ”. Akupun langsung bertanya “Lohh kenapaa?” “iya om, aku buat makan aja susah, Ali makan kalo dapet uang dari hasil nyari uang aja om” aku bertanya kembali pura-pura tidak tahu “Berarti jadi badut yaa biar dapt uang?” “iya om” kata si Ali.

“Trus kalian jam berapa mulai keluar cari uang?” “Aku habis pulang sekolah om” jawab si Abdul “Kalo Ali? Dari pagi?” tanyaku pada si Ali “Engga om aku nungguin temen aku (maksudnya si Abdul itu) pulang sekolah dulu om soalnya aku ga berani sendirian” jawab si Ali dengan nada tegas. Akupun sedikit meneneteskan air mata ketika mendengar jawaban si Ali yang dengan tegasnya tanpa ada melibatkan kesedihan meskipun aku tau pasti dia merasakan kesiidihan yang begitu dalam.

Aku penasaran dan semakin tertarik dengan mereka. Jadi aku mencoba bertanya lebih jauh lagi kepada Abdul dan Ali. “Sebentar yaa hehee” aku bilang kepada temanku yang sedari tadi aku bersamanya. “Iya gapapa bil santai aja, ya saya juga jadi ikut tersentuh bil jadinya”. Aku bertanyalah kepada mereka “Trus kalian tingal di P*******n sama siapa?” “Aku sama ibu sama bapak om” jawab si Abdul “Lalu bapak ibu kamu kemana dul?”. Tanyaku kepada Abdul. “Iya om bapak sm ibu lagi nyari nyari botol bekas ya apa aja om yang bisa dijual, barang rongsokan gitu om” si Abdul menjawab dengan tenang. Dan lagi aku hampir meneteskan air mataku ketika mendengar jawaban si Abdul itu. Aku bertanya juga ke si Ali “Kalo Ali? tinggal sama siapa?”. Dengan wajah yang sedikit menunduk si Ali menjawab “Aku di rumah tinggal sama nenek om”. Langsung bertanya aku kepada si Ali “Trus nenek ali lagi di rumah sekarang?” “Iya om di rumah sambil jualan karedok om”. Aku berkata kepada Ali “Jangan nunduk gitu lii, kenapa? Ali sedih yaa?”. “Iya om sedih” jawab Ali.

Aku penasaran dengan keberadaan orang tua Ali, akupun bertanya kepadanya “Trus ibu ali? bapak ali? kemana?” Ali menjawab debgan sedikit sedih “Ibu berangkat om ke luar negri baru berangkat pas aku putus sekolah om. Karna gaada penghasilan jadi ibu harus pergi cari uang di luar negri om” “Trus bapak kamu?!” tanyaku dengan shok. “Bapak gatau kemana om”. Tanyaku langsung kepada si Ali “Emang bapak kenapa?”. Si Ali menundukan kepalanya sambil menjawab dengan sedikit kecewa “Bapak sama ibu aku udah cere om”. “Cere?” tanyaku pada si Ali “Iya om udah pisah setahunan yang lalu”.

Aku melihat ke arah jam tanganku dan melihat ke sekitar bahwa ini sudah mulai sore. Lalu aku sedikit menitipkan spatah dua patah kata penyemanget untuk mereka agar mereka selalu semangat dalam menjalani keidupan dan agar jangan kalah dengan kesedihan. Dan aku memberikan sedikit uang sakuku yang ada pada dompetku, sedikit dan tidak banyak cukup untuk mereka membeli makan saja.

Jadi disini dapat kita ambil pelajaran bahwa kehidupan yang kita jalani dan yang itu bagi kita tidak menyenangkan, tapi apa? Kita harus lebih melihat lagi sesuatu yang lain yang di luar lingkungan kita. Bahwa masih banyak yang merasakan kehidupan yang jauh lebih tidak enak dari apa yang kita punya. Jadi pada intinya kita harus selalu bersyukur terhadap apa yang sudah Tuhan Yang Maha Esa kasih kepada kita.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.