Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Menata Langkah Sejak Bangku Kuliah, Perjalanan Muhammad Rizki Membaca Arah Komunikasi Publik dan Tantangan Media Digital Generasi Baru

Rizki

Mahasiswa.Co.Id, Jakarta, (20/1/2026) - Langkah awal sering kali menentukan arah perjalanan. Kesadaran itulah yang mendorong Muhammad Rizki, mahasiswa angkatan 2025 Fakultas Manajemen Komunikasi Institut STIAMI, untuk tidak sekadar menjalani masa perkuliahan sebagai rutinitas akademik. Sejak awal memasuki dunia kampus, Rizki melihat bangku kuliah sebagai ruang pembentukan karakter, keberanian, dan keterampilan komunikasi yang kelak akan membentuk identitas profesionalnya. Pilihan untuk aktif bukan lahir dari tuntutan, melainkan dari dorongan pribadi untuk bertumbuh dan menemukan pijakan di dunia komunikasi yang terus bergerak dinamis.

Muhammad Rizki merupakan mahasiswa muda yang menaruh minat besar pada bidang komunikasi publik dan media digital kreatif. Sebagai mahasiswa baru Institut STIAMI, Rizki dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap praktik komunikasi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif. Karakter tenang, reflektif, dan berorientasi pada proses membuatnya cepat beradaptasi dalam lingkungan pembelajaran yang menuntut keberanian tampil serta ketajaman analisis. Identitasnya sebagai mahasiswa manajemen komunikasi mulai terbentuk bukan sekadar dari ruang kelas, melainkan dari keberaniannya mengambil peran dalam aktivitas pengembangan diri sejak awal masa studi.

Kesadaran akan pentingnya ruang belajar nonformal mendorong Rizki bergabung dengan Production House Communication atau PHC, sebuah klub pengembangan minat dan bakat mahasiswa yang berfokus pada pelatihan komunikasi serta media digital kreatif. Melalui PHC, Rizki mulai mengenal dunia produksi konten, penguatan soft skill komunikasi, hingga penguasaan hard skill yang relevan dengan kebutuhan industri media masa kini. Lingkungan ini menjadi laboratorium awal baginya untuk belajar menyampaikan gagasan secara terstruktur, membangun kepercayaan diri, serta memahami dinamika kerja tim dalam dunia kreatif.

Dalam waktu relatif singkat, konsistensi dan keseriusan Rizki membuahkan kepercayaan. Ia terpilih sebagai salah satu kandidat yang mewakili Institut STIAMI pada ajang Communication In Action atau COMIC 2025 yang diselenggarakan Universitas BINUS. Kesempatan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya, bukan hanya sebagai ajang kompetisi antarkampus, tetapi juga sebagai ruang uji mental dan profesionalisme. Rizki tidak melihat kompetisi sebagai semata-mata perlombaan, melainkan sebagai ruang belajar yang menuntut kesiapan intelektual sekaligus ketenangan emosional.

Muhammad Rizki

Pada kompetisi tersebut, Rizki memilih mata lomba newscaster dengan tema kehidupan darat. Melalui pilihan itu, ia mengangkat isu kemacetan ibu kota Jakarta tahun 2025, membandingkannya dengan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya. Analisis yang disampaikan mencakup faktor penyebab utama kemacetan, dinamika pertumbuhan kendaraan, hingga langkah penanganan yang ditempuh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif, lugas, dan berorientasi pada data, mencerminkan upaya Rizki menggabungkan kemampuan berbicara dengan kepekaan terhadap isu publik.

Pengalaman mengikuti COMIC 2025 memberikan pelajaran penting bagi Rizki tentang makna komunikasi yang efektif. Bagi dirinya, hasil akhir perlombaan bukanlah tolok ukur tunggal atas kemampuan personal. Proses persiapan, keberanian tampil, serta evaluasi diri justru menjadi nilai utama yang membentuk kematangan berpikir dan bersikap. Rizki memaknai ketenangan pikiran sebagai fondasi komunikasi yang baik, sebuah prinsip yang kini menjadi bagian dari personal brandingnya sebagai mahasiswa komunikasi yang reflektif, terukur, dan berorientasi pada substansi.

Melalui perjalanan singkat namun bermakna tersebut, Muhammad Rizki mulai membangun identitas sebagai mahasiswa yang tidak menunggu kesempatan datang, melainkan aktif menjemput ruang belajar. Konsistensi, keberanian mencoba, serta kesediaan untuk terus mengevaluasi diri menjadi ciri yang melekat dalam langkahnya. Jalan masih panjang, tetapi pijakan awal telah terbentuk, mengarah pada satu keyakinan bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan seni mengelola pikiran, data, dan ketenangan dalam satu kesatuan utuh.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.