Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Video AI Jadi Peluang Baru Komunikasi K3 Industri, Praktisi AI Dorong Kembangkan Edukasi Keselamatan yang Lebih Efektif

Praktisi Video AI Jawa Timur Fahmi Adimara Memberikan Workshop Kepada Mahasiswa S2 K3 FKM Unair

SURABAYA, 9 Oktober 2026 - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang baru bagi profesional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk mengembangkan metode komunikasi keselamatan yang lebih visual, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pekerja. Salah satu pendekatan yang mulai dieksplorasi adalah produksi video edukasi K3 berbasis AI untuk mendukung program pencegahan kecelakaan dan penguatan budaya keselamatan di perusahaan.

Potensi tersebut menjadi salah satu materi dalam Kuliah Tamu Program Studi Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (S2 K3), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Airlangga, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti 50 mahasiswa selama 2,5 jam ini menghadirkan Ahadin Syarifudin Fahmi, SKM, M.KKK, atau sering disebut dengan nama Fahmi Adimara, praktisi teknologi kreatif, Founder Bumi Saga Studio, inisiator Komunitas AI East Java, dan Founder K3 Insight Indonesia, sekaligus alumni S2 K3 FKM Universitas Airlangga.

Dalam sesi praktik, peserta mempelajari tahapan pembuatan video edukasi berbasis AI, mulai dari pengembangan ide, penyusunan naskah, perancangan visual, hingga produksi video. Pada akhir sesi, mahasiswa menghasilkan video edukasi K3 masing-masing sebagai penerapan langsung teknologi yang dipelajari.

Kegiatan ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi kreatif dapat dipertemukan dengan kebutuhan komunikasi keselamatan. Bagi profesional K3, tantangannya bukan hanya menyusun prosedur dan mengidentifikasi bahaya, tetapi juga memastikan informasi tersebut dipahami serta diterapkan oleh pekerja dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Dari dokumen K3 menjadi komunikasi visual

Di berbagai sektor industri, komunikasi K3 menjadi bagian penting dalam penerapan sistem manajemen keselamatan. Materi seperti prosedur kerja aman, identifikasi bahaya, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengoperasian peralatan, dan tanggap darurat membutuhkan penyampaian yang jelas serta sesuai dengan karakteristik pekerjaan.

Video edukasi berbasis AI dapat menjadi alternatif untuk mengilustrasikan skenario bahaya, membandingkan perilaku aman dan tidak aman, serta menjelaskan langkah pencegahan melalui cerita visual. Materi tersebut berpotensi mendukung safety induction, toolbox meeting, kampanye keselamatan, pelatihan internal, dan komunikasi perubahan prosedur kerja.

“Profesional K3 memiliki pengetahuan tentang risiko dan cara pengendaliannya. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi pesan yang mudah dipahami pekerja. Video AI bisa menjadi salah satu alat bantu untuk membuat edukasi keselamatan lebih menarik dan fleksibel. Namun, setiap konten harus tetap berlandaskan analisis risiko, prosedur kerja yang benar, dan standar K3 yang berlaku,” ujar Fahmi Adimara.

Menurutnya, pemanfaatan AI juga membuka kesempatan bagi profesional K3 untuk berkolaborasi dengan kreator konten dan pelaku industri kreatif dalam mengembangkan media edukasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Proses produksi yang lebih fleksibel dapat membantu organisasi mengeksplorasi berbagai format komunikasi tanpa menghilangkan substansi keselamatan.

Relevan bagi HSE Manager dan Safety Officer

Praktisi Video AI Jawa Timur Fahmi Adimara Memberikan Workshop Kepada Mahasiswa S2 K3 FKM Unair

Bagi HSE Manager, Safety Officer, trainer, serta pengelola sumber daya manusia, inovasi komunikasi K3 perlu dilihat sebagai bagian dari strategi edukasi pekerja. Pemilihan media harus disesuaikan dengan jenis bahaya, karakteristik tenaga kerja, lingkungan operasional, dan tujuan pembelajaran.

Penggunaan Video AI dapat diawali dari topik yang spesifik, misalnya prosedur penggunaan APD, bahaya tersandung dan terpeleset, lockout-tagout, keselamatan berkendara di area kerja, atau respons awal dalam situasi darurat. Untuk pekerjaan berisiko tinggi, materi harus diperiksa secara ketat oleh personel kompeten dan tidak boleh menggantikan pelatihan langsung, simulasi, maupun instruksi resmi yang diwajibkan.

Evaluasi juga menjadi faktor penting. Perusahaan dapat mengukur pemahaman pekerja melalui kuis, diskusi setelah pemutaran video, observasi kepatuhan prosedur, serta pemantauan pelaporan kondisi tidak aman. Dengan demikian, keberhasilan media edukasi tidak hanya dinilai dari tampilan visual, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pemahaman dan perilaku keselamatan.

Kompetensi K3 di era teknologi kreatif

Kuliah tamu ini turut memperlihatkan pentingnya menghubungkan keilmuan K3 dengan perkembangan teknologi digital. Mahasiswa sebagai calon profesional K3 memperoleh pengalaman praktik untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, sementara pendekatan Video AI dapat menjadi salah satu alternatif yang dieksplorasi lebih lanjut untuk kebutuhan edukasi di lingkungan industri.

Koordinator Program Studi S2 K3 FKM Universitas Airlangga, Dr. Indriyati Paskarini, S.H., M.Kes., menyampaikan bahwa kemampuan mengomunikasikan risiko merupakan kompetensi penting bagi tenaga K3.

“Kami ingin mahasiswa K3 memiliki kemampuan yang lebih luas, tidak hanya dalam mengidentifikasi dan mengendalikan risiko, tetapi juga dalam menyampaikan pesan keselamatan secara efektif. Pemanfaatan AI menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk mendukung proses tersebut. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman praktik yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan komunikasi keselamatan di dunia kerja,” ungkapnya.

Bagi Fahmi, kembali ke almamater untuk berbagi pengalaman menjadi kesempatan untuk mempertemukan kompetensi K3 dengan eksplorasi teknologi kreatif. Ia berharap pendekatan serupa dapat mendorong semakin banyak profesional K3 untuk melihat video bukan sekadar materi publikasi, melainkan sebagai salah satu sarana pendukung pembelajaran dan komunikasi risiko.

Pemanfaatan AI tetap harus disertai validasi teknis, perlindungan informasi perusahaan, serta kepatuhan terhadap standar dan prosedur keselamatan. Dengan prinsip tersebut, teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk memperluas pilihan media edukasi dan mendukung upaya membangun budaya keselamatan kerja yang berkelanjutan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.