Oleh: Ahmad Ghifar
Mahasiswa.co.id - Jika mendengar istilah survei batimetri, sebagian besar orang akan membayangkan penggunaan kapal, alat sonar, serta tim yang harus turun langsung ke perairan. Namun, metode tersebut kini mulai mengalami perkembangan. Melalui teknologi baru yang dikenal sebagai UAV batimetri, survei dasar perairan dapat dilakukan dari udara hanya dengan menggunakan wahana tanpa awak (drone). Salah satu sistem yang mulai banyak diperbincangkan adalah EchoNIMBUS-MBES, teknologi yang dikembangkan oleh SPH Engineering, yang mengintegrasikan drone dengan sensor multibeam echosounder. Dengan teknologi ini, drone tidak hanya digunakan untuk pengambilan citra dari udara, tetapi juga mampu merekam kondisi dasar perairan secara rinci.
Secara prinsip, metode kerjanya serupa dengan sonar pada umumnya. Sensor memancarkan gelombang suara ke dasar perairan, kemudian menerima pantulan gelombang tersebut untuk menentukan kedalaman serta bentuk permukaan dasar. Perbedaannya, sistem EchoNIMBUS telah menggunakan teknologi multibeam, sehingga dalam satu waktu mampu merekam banyak titik sekaligus, tidak hanya satu lintasan seperti metode konvensional. Hal ini menghasilkan data dengan kerapatan dan tingkat detail yang lebih tinggi. Secara teknis, alat ini bekerja pada frekuensi sekitar 240 kHz dengan 16 beam, memiliki jangkauan pengukuran antara 0,5 hingga 50 meter, serta sudut cakupan sekitar 80 derajat. Dengan bobot total sistem sekitar 2,4 kg, perangkat ini masih tergolong ringan untuk dioperasikan menggunakan drone tanpa mengganggu stabilitas penerbangan. Selain itu, sistem ini telah dilengkapi dengan fitur pencatatan data otomatis dan geotagging, sehingga data yang diperoleh langsung terintegrasi dengan informasi koordinat.
Dalam penerapannya di lapangan, sensor ini umumnya dipasang pada drone kelas survei seperti DJI Matrice 350 RTK. Drone ini dikenal memiliki tingkat kestabilan yang tinggi, durasi terbang yang memadai, serta sistem RTK yang memungkinkan akurasi posisi hingga tingkat sentimeter. Kombinasi antara drone dan sensor tersebut menjadikan proses survei lebih fleksibel dibandingkan metode konvensional. Area seperti waduk berukuran kecil, sungai sempit, atau lokasi dengan akses terbatas dapat dipetakan tanpa perlu menggunakan kapal. Bahkan, untuk lokasi seperti kolam tambang atau genangan air, survei dapat dilakukan langsung dari darat dengan menerbangkan drone sesuai jalur yang telah direncanakan.
Selain meningkatkan fleksibilitas, penggunaan UAV batimetri juga memberikan keuntungan dari sisi efisiensi dan keselamatan kerja. Seluruh proses dapat dilakukan tanpa melibatkan personel yang harus turun ke perairan. Jika dibandingkan dengan metode konvensional, perbedaannya cukup signifikan, baik dari segi waktu mobilisasi, kebutuhan peralatan, maupun tingkat risiko di lapangan. Dengan memanfaatkan drone, area yang sulit dijangkau, seperti sungai sempit atau waduk dengan akses terbatas, dapat tetap dipetakan secara optimal.
Meskipun demikian, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan. Kondisi perairan yang relatif tenang sangat memengaruhi kualitas data yang dihasilkan. Arus yang kuat atau permukaan air yang tidak stabil dapat mengurangi akurasi pembacaan sensor. Selain itu, perencanaan jalur terbang harus dilakukan secara cermat agar cakupan area merata dan tidak terdapat bagian yang terlewat. Dengan demikian, meskipun didukung oleh teknologi yang canggih, tetap diperlukan pemahaman teknis serta pengalaman lapangan untuk memperoleh hasil yang optimal.
Di balik berbagai keunggulan tersebut, kehadiran UAV batimetri seperti EchoNIMBUS-MBES menunjukkan bahwa bidang survei tengah mengalami transformasi yang signifikan. Batas antara survei udara dan bawah air semakin kabur, di mana satu platform drone mampu menjalankan dua fungsi sekaligus. Meskipun teknologi ini masih tergolong baru bagi sebagian kalangan, potensinya sangat besar, mulai dari pemantauan sedimentasi, perencanaan infrastruktur sumber daya air, hingga pengelolaan lingkungan perairan. Ke depan, metode ini berpotensi menjadi standar baru dalam kegiatan pemetaan karena menawarkan pendekatan yang lebih efisien, aman, dan adaptif terhadap berbagai kondisi lapangan.
Komentar 0