Oleh:Muhamad Rizky Novendra
1.Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang tidak hanya berperan dalam mengembangkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga dalam membentuk karakter dan moral mereka. Namun, dalam praktiknya, berbagai permasalahan disiplin sering terjadi di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah kasus pelanggaran tata tertib oleh siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Baru-baru ini, beredar kasus di SMA 1 Cirmarga di mana seorang siswa kedapatan merokok dan kemudian mendapat tamparan dari kepala sekolah sebagai bentuk hukuman spontan. Kasus ini menimbulkan perdebatan publik terkait etika, profesionalitas pendidik, dan penerapan disiplin di sekolah.
2.Kronologi Kasus Singkat
Kasus di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, belakangan ramai diperbincangkan. Ratusan siswa mogok sekolah karena kepala sekolah mereka, menampar seorang siswa yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Sang kepala sekolah mengaku tindakannya spontan karena kecewa murid tersebut berbohong dan berusaha melarikan diri saat ditegur.
Pihak sekolah menyatakan bahwa tindakan kepala sekolah dilakukan secara spontan karena rasa tanggung jawab moral terhadap perilaku siswanya. Namun di sisi lain, tindakan fisik terhadap siswa jelas bertentangan dengan prinsip pendidikan dan perlindungan anak
"Perasaan saya sudah memaafkan, cuma perasaan waswas masih tetap ada. Kenapa? Karena saya khawatir teguran yang dilakukan, sampai saya berpikiran ke depan apa yang terjadi pada diri saya, saya adalah putri bumi pertiwi yang peduli terhadap generasi penerus bangsa, pendidikan karakter itu harus ditegakkan," ucap Dini di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Kamis (16/10/2025), dikutip detikNews, Sabtu (18/10/2025).
3.Analisis Kasus
Orang Tua Perlu Berpikir Ulang dan Tidak Gegabah
Menurut Subarsono, tindakan melaporkan pendidik ke polisi karena pendisiplinan murid perlu dipikir ulang. Orang tua, sejak awal seharusnya bisa membangun komunikasi dan kepercayaan ketika menyekolahkan anak mereka.
a. . Perspektif Sosial dan Komunikasi Pendidikan
Kasus ini menunjukkan adanya kelemahan komunikasi antara pihak sekolah, siswa, dan orang tua. Dalam konteks pembinaan karakter, kerja sama antara guru dan orang tua sangat penting agar proses pendidikan berjalan selaras. Ketika komunikasi kurang terbuka, kesalahpahaman dan tindakan emosional lebih mudah terjadi.
Orang tua juga sebaiknya tidak gegabah melaporkan guru ke pihak berwenang tanpa memahami konteks yang terjadi. Diperlukan musyawarah dan pembinaan bersama demi kepentingan anak.
Dari sisi hukum dan etika pendidikan, tindakan menampar siswa tidak dapat dibenarkan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan, setiap bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, dilarang dilakukan oleh guru maupun kepala sekolah terhadap peserta didik. Sebagai seorang pendidik, kepala sekolah seharusnya menegakkan disiplin dengan cara-cara yang mendidik, seperti memberikan pembinaan, panggilan orang tua, atau konseling.
b. Perpektif Perlidungan Anak
Namun, di sisi lain, tindakan siswa yang merokok juga tidak bisa diabaikan. Kebiasaan merokok pada usia remaja menunjukkan lemahnya pengawasan dan kontrol diri, serta dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan moralitas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang bijaksana, yaitu menegakkan aturan tanpa menggunakan kekerasan, agar tercapai keseimbangan antara kedisiplinan dan nilai kemanusiaan. Dan juga pihak sekolah harus melakukan pendekatan edukatif terhadap siswa agar memahami akibat dari tindakan yang dia lakukan.

Komentar 0