Bahasa, Akhlak, dan Ibadah: Pilar Pembentukan Identitas Mahasiswa
Oleh Nadia
(Sumber : Walisongo.ac.id)
Oleh : Ananda Farhan Darmawan UIN Walisongo Semarang
Mahasiswa.co.id - Menjadi Mahasiswa tidak hanya mencari ilmu di kelas, mengejar IPK dan mengerjakan tugas – tugas serta skripsi untuk mendapat gelar Strata 1 (S1), tetapi juga tentang bagaimana kita berbahasa, berperilaku, dan menjalankan ibadah sebagai umat beragama. Sebagai Mahasiswa Baru UIN Walisongo Semarang yang tentu saja berada di lingkungan akademik yang berkaitan dengan agama Islam, sudah seharusnya menanamkan pribadi yang berbahasa yang santun, berperilaku yang sopan, dan menjalankan ibadah sebagai umat muslim. Mahasiswa jaman sekarang cenderung cuek menggunakan Bahasa yang tidak seharusnya digunakan, perilaku yang tidak mencerminkan mahasiswa, serta ibadah yang sering ditinggalkan dengan alasan mengerjakan tugas kuliah. Berbahasa dan berperilaku yang baik tidak hanya kepada yang lebih tua saja, tetapi sesama teman juga harus begitu. Kita tidak tahu apakah ucapan dan perilaku yang kita buat kepada teman dapat diterima atau tidak. Mengapa? Setiap pribadi manusia memiliki perasaan yang berbeda walaupun sudah kenal dan dekat selama bertahun – tahun. Karena itu, penting bagi kita apalagi seorang mahasiswa yang sedang memperjuangkan gelar Sarjana dalam menjaga tutur kata dan perilaku kepada siapapun baik di lingkungan kampus, luar kampus, ataupun di sosial media.
Di lingkungan akademik UIN Walisongo seharusnya beribadah sudah menjadi kewajiban utama sebelum kegiatan kuliah. Hal tersebut didukung oleh dengan diadakannya program Mahad Al-Jami’ah di UIN Walisongo yang wajib dilaksanakan oleh para mahasiswa. Sebagai Mahasantri aktif Mahad Al-Jami’ah, kami diwajibkan untuk mengikuti setiap kegiatan Mahad, dimulai dari sholat berjamaah, mengaji kitab Bersama, pembacaan maulid Bersama, istighosah, dan lain – lain. Kegiatan di Mahad seharusnya sudah menjadi awal yang baik untuk membentuk karakter mahasiswa dalam berbahasa, berperilaku, dan beribadah. Berdasarkan hasil penelitian Lila Fatimatur Rohmah (UIN Walisongo, 2020), Ma’had Al-Jami’ah memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian mahasiswa yang berakhlakul karimah melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, dan pembelajaran kitab kuning. Dengan sistem pembinaan yang intensif, mahasantri tidak hanya dibimbing dalam aspek ritual keagamaan, tetapi juga dalam penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai Warga Negara Indonesia, tentunya kita semua diwajibkan berbahasa yang baik sesuai dengan Bahasa Indonesia. Dengan ideologi Pancasila, berbahasa yang baik mencerminkan Pancasila sila ke-2 yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” karena dengan berbahasa yang baik menunjukkan sikap adil dan beradab dalam berbahasa. Bagi mahasiswa, kemampuan berbahasa yang baik menjadi penanda identitas dan kedewasaan akademik. Kenapa begitu? Karena seorang mahasiswa diharapkan memiliki pola pikir yang lebih kritis, sistematis, dan bertanggung jawab dibandingkan dengan siswa sekolah menengah. Di era yang serba digital ini, kita dituntut untuk berfikir kritis dan berbahasa yang baik tidak hanya secara tatap muka, tetapi juga dalam bermedia sosial. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Anggraeni dan Yuniar (2023) yang menyatakan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia yang santun di ruang digital mencerminkan kedewasaan berpikir dan etika akademik mahasiswa.
Di lingkungan akademik khususnya di perguruan tinggi, yang dilihat dari seorang mahasiswa tidak hanya nilai tugas ataupun ujian, tetapi bagaimana perilaku mahasiswa tersebut. Setelah melewati jenjang sekolah menengah, seorang mahasiswa ditekankan memiliki perilaku yang jauh lebih baik dari seorang siswa. Sikap sopan santun, bertanggung jawab, kepemimpinan, tanggung jawab, mampu beradaptasi di lingkungan manapun merupakan cerminan kedewasaan seorang mahasiswa. Menurut penelitian dalam Character: Jurnal Penelitian Psikologi (2023), perilaku mahasiswa yang positif dan terkendali menunjukkan adanya kematangan sosial serta kemampuan mengelola diri dengan baik, yang menjadi faktor penting dalam membentuk karakter akademik yang unggul. Yang dimaksud adalah kualitas mahasiswa juga mendorong kualitas perguruan tinggi tersebut menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dan diimpikan semua orang. Selain itu, mahasiswa yang sudah matang secara pikiran akan lebih siap menghadapi kehidupan bermasyarakat dan dalam bekerja. Oleh karena itu, mahasiswa ideal tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki perilaku yang beretika dan mencerminkan nilai-nilai moral yang luhur di lingkungan perguruan tinggi.
Menjadi mahasiswa yang ideal selain harus berbahasa dan berperilaku yang baik, juga harus beribadah dengan baik dan rajin. Saat ini saya sedang menjalani pendidikan tingkat perguruan tinggi di UIN Walisongo Semarang yang tentunya berkaitan erat dengan Islam. Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk menjalankan sholat 5 waktu, berpuasa, zakat, dan naik haji apabila diberi kemampuan untuk menunaikannya. Tidak lupa melaksanakan ibadah tersebut dengan niat dari hati dan khusyuk selama menjalaninya. Ibadah tidak hanya sekedar kewajiban, tetapi cara bagaimana kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibadah Ketika dijalankan dengan niat dan bersungguh – sungguh, ibadah akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang berkarakter disiplin, Ikhlas, dan bertanggung jawab. Sesuai dengan penelitian Firdaus et al. (2023) dalam International Journal of Education and Teaching Zone yang menyebutkan bahwa kegiatan spiritual keislaman memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter dan kedisiplinan mahasiswa. Disini saya menyimpulkan bahwa agar mahasiswa dapat mencapai sesuatu yang diinginkan atau cita – cita yang ingin dicapai, selain harus berbahasa dan berperilaku yang baik, juga harus beribadah dengan baik. Maksud dari beribadah dengan baik bagaimana? Yaitu disaat ada kegiatan kuliah yang waktunya bersamaan dengan waktu ibadah, maka utamakan ibadah agar dipermudah dalam urusan dunia ataupun akhirat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa agar menjadi mahasiswa yang ideal tidak sekedar kompeten dari segi akademik, tetapi bagaimana mahasiswa tersebut dapat berbahasa, berperilaku, dan beribadah dengan baik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan membentuk karakter mahasiswa yang berakhlakul karimah, berintegritas, serta berjiwa tanggung jawab. Melalui pendidikan di lingkungan UIN Walisongo dan Ma’had Al-Jami’ah, mahasiswa diajarkan untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berbicara dan berperilaku sopan serta beribadah dengan baik. Dengan menjaga keseimbangan antara ilmu, sopan santun, dan iman, mahasiswa bisa tumbuh menjadi orang yang baik, siap memberi manfaat bagi masyarakat, serta membawa kebaikan dalam hidup di dunia dan di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA Rohmah, L. F. (2020). Peran Ma’had Al-Jami’ah dalam Membentuk Akhlakul Karimah Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Anggraeni, D. A., & Yuniar, A. D. (2023). Penggunaan Bahasa Indonesia yang Benar sebagai Representasi Kesantunan Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Malang. Character: Jurnal Penelitian Psikologi. (2023). Hubungan Dukungan Sosial dengan Pengendalian Diri Mahasiswa. Universitas Negeri Surabaya. Firdaus, M., et al. (2023). The Impact of Providing Islamic Spiritual Extracurriculars on Student Character Development. International Journal of Education and Teaching Zone. Yayasan Nurul Yakin. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. UIN Walisongo Semarang. (2024). Profil dan Program Ma’had Al-Jami’ah. Diakses dari https://mahad.walisongo.ac.id
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0