Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Gedung Putih Menanggapi Demo Besar yang Guncang Kampus AS dalam Solidaritas untuk Palestina

Gedung Putih
Foto: Gedung Putih di Washington, AS.

Mahasiswa.co.id - Gedung Putih angkat bicara mengenai demo besar-besaran yang sedang mengguncang kampus-kampus elit di Amerika Serikat (AS). Pemerintah Presiden menekankan bahwa demonstrasi harus dilakukan secara damai, meskipun telah terjadi penangkapan massif oleh pihak kepolisian selama akhir pekan sebelumnya.

Diketahui bahwa demo ini dilakukan oleh mahasiswa dari beberapa kampus elit di AS, yang menuntut gencatan senjata di Gaza dan mengakhiri pendudukan Israel terhadap Palestina. Hingga saat ini, sekitar 275 orang telah ditangkap di empat kampus berbeda karena terlibat dalam aktivitas ini. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa di AS semakin peduli dan aktif dalam menyuarakan isu-isu global yang mempengaruhi kemanusiaan.

"Kami tentu saja menghormati hak untuk melakukan protes damai," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby kepada ABC's "This Week", dikutip AFP, Senin (29/4/2024).

"Namun, kami benar-benar mengutuk pernyataan anti-Semitisme yang kami dengar akhir-akhir ini dan tentunya mengutuk semua ujaran kebencian dan ancaman kekerasan di luar sana," tambahnya lagi.

Gelombang demonstrasi mahasiswa di AS sebenarnya dimulai dua pekan lalu. Demonstrasi ini pertama kali dimulai oleh sekelompok mahasiswa dari Universitas Columbia di New York, namun dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.

Meskipun sebagian besar demo yang dilakukan adalah damai, namun terkadang polisi yang mengenakan perlengkapan anti huru hara menggunakan bahan kimia iritan dan taser, yang justru meningkatkan ketegangan dengan cepat.

Sebanyak 275 orang ditangkap pada akhir pekan kemarin, di mana 100 orang di antaranya berasal dari Northeastern University di Boston, 80 orang dari Washington University di St Louis, 72 orang dari Arizona State University, dan 23 orang dari Indiana University. Tidak semua yang ditangkap adalah mahasiswa, seperti yang terjadi di Universitas Washington di mana salah satu pengunjuk rasa yang ditangkap adalah calon presiden dari Partai Hijau AS, Jill Stein.

Stein menyalahkan polisi atas taktik agresif yang mereka gunakan, dan menurutnya hal tersebut justru memicu masalah yang seharusnya mereka atasi. Demonstrasi mahasiswa ini mencerminkan ketegangan sosial yang ada di AS, dan menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keinginan untuk menyuarakan perubahan.

"Ini tentang kebebasan berpendapat... dalam isu yang sangat kritis," katanya kepada Media International sesaat sebelum penangkapannya pada hari Sabtu.

"Dan di sanalah mereka, mengirimkan polisi antihuru-hara dan pada dasarnya menciptakan kerusuhan," tambahnya.

Sementara di kampus elit lain seperti Universitas Yale, mahasiswa kembali mendirikan kemah sebagai bentuk protes setelah sebelumnya ditutup paksa oleh polisi dengan sejumlah orang ditangkap dan didakwa pelanggaran. Media independen kampus juga melaporkan kejadian tersebut.

Menurut data dari Washington Post, setidaknya ada demonstrasi yang dilakukan di 18 kampus besar di Amerika Serikat. Beberapa di antaranya adalah Universitas Northeastern, Universitas Emerson, Universitas Columbia, Universitas Princeton, Universitas NYU, dan Universitas Mary Washington.

Selain itu, ada juga Universitas South Carolina, Universitas Emory, Universitas Ohio State, Universitas Indiana, Universitas Washington, dan Universitas Minnesota. Tidak ketinggalan juga Universitas Austin, Universitas Colorado, Arizona State University (A.S.U), University of Southern California (U.S.C), dan California State Polytechnic University.

Demonstrasi besar-besaran di kampus-kampus ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Amerika Serikat. Sejarah mencatat setidaknya ada enam demonstrasi besar yang dilakukan oleh mahasiswa terkait kebijakan perang Amerika Serikat.

Salah satunya terjadi saat Perang Vietnam pada tahun 1967. Demonstrasi ini ditandai dengan mundurnya pejabat kampus dan penembakan terhadap empat mahasiswa di sebuah Universitas oleh pasukan Garda Nasional Amerika Serikat.

Kejadian serupa juga terjadi saat mahasiswa menentang perang Irak pada tahun 2003. Demonstrasi tersebut juga diikuti oleh siswa sekolah menengah atas.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.