Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

IPB Dorong #KaburAjaDulu Jadi Brain Gain Lewat Penguatan Kebijakan

IPB Dorong

Mahasiswa.co.id - Pada Kamis, 30 Oktober 2025, tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) IPB University, GenKaburAjaDulu, melaksanakan audiensi kepada Direktorat Pendidikan Internasional (DPI) IPB University yang berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Pertemuan ini bertujuan untuk memaparkan hasil riset tentang tren #KaburAjaDulu dan rekomendasi kebijakan untuk mengubah potensi brain drain, yaitu keluarnya tenaga muda terdidik ke luar negeri karena keterbatasan peluang di dalam negeri, menjadi brain gain atau arus balik pengetahuan, pengalaman, dan kontribusi dari diaspora yang dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia di dalam negeri berbasis kolaborasi lintas sektor. Pihak DPI menyambut baik pertemuan ini dan memberikan umpan balik terkait penguatan ekosistem pembelajaran dan mobilitas internasional mahasiswa Indonesia.

Dalam pemaparannya, tim merujuk policy brief berjudul “Menangkap Simbol Digital Generasi Z: Implikasi Sosial dan Kebijakan dari Tren #KaburAjaDulu” yang memotret tren tersebut sebagai sinyal krisis kepercayaan sekaligus peluang transformasi kebijakan. Melalui lensa teori dramatisme oleh Kenneth Burke (1969), tindakan “kabur” dipahami bukan sekadar pelarian, melainkan cara simbolik generasi Z untuk mencari ruang tumbuh yang lebih baik. Hasil survei Delphi bersama Diaspora Indonesia, akademisi, pejabat publik, serta pakar/ahli komunikasi dan kebijakan menunjukkan bahwa narasi “kabur” dapat diarahkan menjadi sinergi pembelajaran, penguatan kapabilitas, dan kontribusi balik. Dengan demikian, strategi kebijakan diarahkan bukan untuk menekan aspirasi, tetapi menyalurkannya agar berdampak bagi pembangunan nasional.

Menanggapi pemaparan tersebut, Direktur DPI IPB, Puji Mudiana, S.P., M.A., berpendapat bahwa fenomena “kabur” sebenarnya bukanlah hal baru. “Dari tahun 70-an sudah banyak orang Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk memperbaiki hidup. Dulu jadi perawat, sekarang ada yang kerja profesional atau digital nomad. Tapi intinya, semua didorong oleh keinginan untuk hidup lebih baik,” ujarnya. Lebih lanjut, beliau juga menyoroti bagaimana media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap isu ini sehingga kampus harus menjadi tempat yang membuka ruang diskusi dan kolaborasi lintas budaya agar mahasiswa memiliki pandangan yang lebih luas tentang dunia tanpa kehilangan identitas nasionalnya.

Di era globalisasi saat ini, Puji menekankan pentingnya melihat fenomena mobilitas global sebagai sirkulasi atau brain circulation dibanding alih-alih kehilangan aset sumber daya manusia negara. “Saya lebih percaya dengan brain circulation. Ketika ada yang keluar, pasti ada yang masuk. Jadi jangan berpikir bahwa ketika seseorang tidak kembali, itu berarti kita kehilangan tenaga kerja berkualitas. Mereka tetap orang Indonesia dan bisa berkontribusi dari mana pun berada,” ujarnya. Beliau juga menegaskan bahwa rasa cinta terhadap tanah air tidak akan hilang hanya karena seseorang bekerja atau belajar di luar negeri.

Isu reformasi pendidikan juga menjadi topik utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Menurut Puji, sistem pendidikan Indonesia tidak dapat dianggap gagal, tetapi perlu terus berprogres agar mampu bersaing di tingkat global. “Sering kali pendidikan itu selalu dipermasalahkan, tapi orang-orang yang keluar pun tetap terpakai di luar negeri. Artinya, pendidikan kita tidak gagal, hanya perlu progres. Sekarang akreditasi nasional pun sudah dibuat dengan standar internasional. Ini tinggal persoalan bagaimana komitmen dari setiap stakeholder menjaga kualitasnya agar tetap di jalur yang benar,” ujarnya. Kemudian, beliau menambahkan bahwa reformasi pendidikan bukan sekadar pembaruan kurikulum, tetapi juga perlu memastikan akses yang setara bagi semua kalangan.

Melalui pertemuan ini, kedua pihak sepakat bahwa perbaikan sistem pendidikan adalah langkah strategis untuk mengatasi keresahan generasi muda dan membangun kembali kepercayaan terhadap institusi nasional. Reformasi pendidikan bukan sekadar penyesuaian kurikulum, melainkan membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Dengan kolaborasi lintas sektor dan komitmen bersama, pendidikan Indonesia diharapkan mampu menjadi pilar utama transformasi menuju generasi muda yang kompeten, berdaya saing global, dan tetap berkarakter Indonesia.

Penulis : Aenur Rizqi Awaliyah - Institut Pertanian Bogor

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.