Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

KKN-T UBB Desa Keciput Memenuhi Undangan Kunjungan Kerja dari Lembaga Adat Belitung

KKN-T-UBB
Sumber Foto: Tim KKN UBB

Mahasiswa.co.id - Tim KKN-T UBB memenuhi undangan dari Lembaga Adat Belitung ke rumah adat untuk bertamu dan belajar budaya Melayu Belitung sekaligus bersilahturahmi di Kota Tanjung Pandan, Rabu (15/10/2025).

Tim KKN-T Kami sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang inggin kami ketahui dan kami diskusikan. Dimulai dari Pertanyaan yang pertama apakah ada alasan dan tujuan mengapa dibangunnya lembaga adat melayu Belitung? dan ketua Lembaga, Pak Achmad Hamzah, menjelaskan bahwa lembaga adat dibentuk atas amanat pemerintah daerah berdasarkan Perda No. 2 Tahun 2013. Tujuannya adalah untuk melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat yang diwujudkan melalui adat serta tradisi sebagai modal sosial dalam pembangunan daerah.

Pertanyaan selanjutnya apa saja yang telah dilakukan oleh Lembaga adat melayu Belitung dalam menjaga dan melestarikan budaya Belitung? Menjawab pertanyaan dari tim KKN-T, Pak Ahmad Hamzah menjelaskan bahwa Lembaga Adat Melayu Belitung aktif menjaga dan melestarikan budaya melalui pembentukan lembaga adat di tingkat desa serta pembinaan berkelanjutan kepada masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga adat dan kearifan lokal yang menjadi perekat masyarakat Belitung, di mana setiap pendatang pun ikut menghormati budaya setempat. Salah satu fokus utama lembaga adalah pelestarian prosesi perkawinan adat Belitung yang dianggap sebagai awal pembentukan manusia dan simbol pemuliaan. Menurutnya, perkawinan adat memiliki nilai penting dalam membentuk identitas dan tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat.

Sidra anggota KKN-T Kami bertanya adakah cara khusus dalam menentukan kik dukun selanjutnya, Tuturan dari Pak Ahmad Hamzah menjelaskan bahwasanya penentuan kik dukun di beberapa desa sebagian besar pemilihan melalui keturunan tidak banyak lagi dikarenakan penurus kik dukun memilih untuk tidak lanjut kini jadi penerus kik dukun dilakukan melalui musyawarah masyarakat. Menurutnya, meskipun profesi seorang dukun dianggap tidak lagi berpengaruh, tapi perannya masih penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari kelahiran hingga kematian. Pemilihan dukun dilakukan dengan mempertimbangkan tokoh masyarakat yang memiliki pengalaman dan panggilan batin untuk mengabdi. Setelah disepakati bersama, calon dukun disahkan melalui forum adat dan diakui oleh masyarakat sebagai kik dukun yang sah.

Selanjutnya Menanggapi pertanyaan tentang perkembangan tradisi dan peran tradisi lisan di Belitung, Pak Achmad Hamzah menjelaskan lagi bahwa tradisi lisan masih hidup dalam keseharian masyarakat melalui bahasa atau kelakar orang Belitung. Ia mengungkapkan bahwa meskipun banyak anak muda kini kurang memahami bahasa daerah, berbagai upaya terus dilakukan untuk melestarikannya. Salah satunya melalui kegiatan lomba berbahasa Belitung, pembelajaran budaya di sekolah, serta penerapan kosa kata Belitung di lingkungan pendidikan.
“Tradisi lisan ini adalah cara kami menjaga jati diri masyarakat Belitung. Lewat bahasa, cerita, dan kebiasaan, nilai-nilai budaya tetap diwariskan,” ujar Pak Ahmad.

Sementara itu, Pak Shofwan menambahkan bahwa tradisi lisan dan sastra lisan memiliki peran penting dalam pelestarian budaya. Tradisi lisan hidup melalui kebiasaan masyarakat seperti tolak bala, mengambil hari bagi keluarga yang berduka, hingga ungkapan sehari-hari yang sarat makna. Adapun sastra lisan tercermin dalam cerita rakyat, seperti legenda Raja Berekor yang kini didokumentasikan di museum sebagai refleksi nilai moral masyarakat Belitung masa kini.

Kunjungan oleh kelompok KKN-T UBB ke Lembaga Adat Melayu Belitung tidak hanya memberikan wawasan baru tentang kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Belitung, tetapi juga menumbuhkan pemahaman tentang betapa pentingnya melindungi nilai-nilai lokal seiring dengan perubahan zaman. Dengan berbicara dengan masyarakat dan mengalami pengalaman nyata di rumah tradisional, kelompok KKN-T belajar bahwa adat dan tradisi lebih dari sekadar peninggalan bersejarah. Sebaliknya, mereka adalah identitas yang harus terus dilindungi dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Penulis: Pajar
Reporter: Indira, Sidra, Sondha, Riska dan Fara Diba

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.