Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Konsep Kesehatan dalam Islam: Integrasi Iman dan Ilmu

Integrasi

Alfi Hamduna
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat
Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
Email: alfihamduna03@gmail.com

JurnalPost.com - Kesehatan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an dan hadis, kesehatan disebut sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Konsep ini menunjukkan bahwa kesehatan bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga berkaitan erat dengan spiritual dan ibadah. Tanpa tubuh yang sehat, manusia tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan hamba Allah secara maksimal. Oleh karena itu, Islam tidak hanya membimbing umatnya dalam urusan akidah dan ibadah, tetapi juga memberikan panduan menyeluruh dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan Allah.

Dalam perspektif Islam, kesehatan merupakan kondisi sejahtera yang mencakup aspek fisik, kesehatan jiwa dan spiritualitas. Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan konsep ini adalah as-shihhah dan al-‘afiyah, keduanya memiliki makna luas tentang perlindungan dari keburukan serta keberfungsian tubuh dan jiwa secara optimal. Dalam berbagai doa, Rasulullah SAW selalu menyandingkan permohonan agar diberi kesehatan dengan keselamatan dan keberkahan hidup, menandakan bahwa kesehatan adalah modal dasar untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Islam memberikan panduan konkret dalam menjaga kesehatan. Misalnya, praktik wudhu’ dan mandi bukan hanya syarat ibadah, tetapi juga upaya menjaga kebersihan tubuh. Pola makan halal dan thayyib sesuai QS. Al-Maidah: 88 tidak hanya berbicara soal hukum makanan, melainkan mengandung pesan kesehatan: bahwa makanan harus baik, bersih, dan tidak membahayakan. Selain itu, prinsip moderasi dalam makan dan minum, anjuran untuk tidak langsung tidur setelah makan, serta menganjurkan istirahat yang cukup agar tubuh tetap bugar. Prinsip ini tidak hanya menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga mendukung kestabilan emosi dan mental.

Aspek pencegahan dalam Islam ditekankan dalam QS. An-Nisa: 29, Allah melarang manusia membinasakan dirinya sendiri, yaitu larangan terhadap kebiasaan atau perilaku yang merusak tubuh seperti merokok, mengonsumsi narkoba, atau pola hidup tidak sehat. Untuk pengobatan, Islam tidak melarang penggunaan ilmu medis. Justru, dalam kisah Nabi Ayyub AS (QS. Shad: 41), Allah menunjukkan bahwa pengobatan adalah bagian dari rahmat-Nya dan upaya pemulihan.

Dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar berkontribusi besar dalam mewujudkan nilai-nilai kesehatan Islami di tengah masyarakat. Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) ditegaskan bahwa setiap warga Muhammadiyah wajib menjaga kebersihan dan kesehatan jasmani maupun rohani. Menjaga pola makan, menjauhi hal-hal yang membahayakan tubuh, serta menjalani hidup sehat adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Lebih dari sekadar nasihat moral, Muhammadiyah mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam bentuk layanan nyata, seperti rumah sakit, puskesmas, dan program penyuluhan kesehatan. Muhammadiyah menjadikan kesehatan sebagai instrumen dakwah yang membebaskan dan mencerahkan umat. Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, menjaga kesehatan dan mengobati penyakit tidak hanya dimaknai sebagai tindakan medis, tetapi bentuk ibadah karena terkait langsung dengan salah satu tujuan syariat menjaga jiwa (hifzh al-nafs).

Muhammadiyah menjadi contoh nyata bagaimana iman dan ilmu dapat berjalan beriringan dalam membangun sistem kesehatan yang bukan hanya efektif secara medis, tetapi juga bermakna secara spiritual. Konsep ini menempatkan kesehatan sebagai bagian integral dari kehidupan Islami yang holistik dan aplikatif.

Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa konsep kesehatan dalam Islam memandang tubuh sebagai amanah yang harus dijaga. Islam tidak hanya memberikan nasihat spiritual, tetapi juga petunjuk praktis dalam menjaga kesehatan. Dengan memadukan ajaran agama dan ilmu, umat Islam diharapkan mampu hidup sehat secara utuh. Dalam hal ini, Muhammadiyah menunjukkan kontribusi nyata dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan untuk membangun masyarakat yang sehat fisik, mental, dan spiritual.

Referensi
Adawiyah, N. S. (2023). Kesehatan Jasmani dan Rohani Menurut Al-Qur’an dan Hadist. Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir Dan Pemikiran Islam, 4(2). https://doi.org/10.58401/takwiluna.v4i2.977

Budiyanto, & Akbar, D. L. (2020). Konsep Kesehatan Dalam Al-Qur’an Dan Hadis. Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Hadist, 3(2). https://doi.org/https://doi.org/10.35132/albayan.v3i1.83

Ika, Rohani, Ananda, S., & Safitri, S. (2023). Pandangan Islam Tentang Kesehatan Dan Higenitas. Jurnal Pendidikan, Sains Dan Teknologi, 2(3), 516–524. http://jurnal.minartis.com/index.php/jpst/%0AA.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2000.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2000.

Profil Penulis
Alfi Hamduna
Status  : Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.