Kriminalisasi Guru: Refleksi Pendidikan di Era Modern
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Maraknya kasus “kriminalisasi guru” akhir-akhir ini memberikan cerminan bagi kita akan kualitas pendidikan di negeri tercinta ini. Tak heran jika mutu pendidikan Indonesia dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja. Toh, perlakuan kita kepada sumber ilmu (guru) itu tidak merefleksikan karakter penuntut ilmu yang sejati. Bagaimana mungkin ilmu itu mau singgah dalam diri kita?
Miris sekali melihat berita belakangan ini, kasus kriminalisasi guru menjadi sorotan, terutama terkait metode mendidik yang “dianggap” melampaui batas. Kasus Supriyani contohnya, seorang guru SD di Konawe Selatan yang dituding memukul murid yang merupakan anak dari seorang polisi. Kasus lain, dari Khusnul Khotimah di Jombang yang dijerat hukum sebab “dianggap” lalai memperhatikan muridnya saat jam kosong. Akibatnya, siswa tersebut terluka. Belum lagi kasus 2023 lalu, Pak Zaharman yang matanya sampai buta usai menjadi sasaran ketapel orang tua murid yang tidak terima anaknya ditegur dan diberikan sanksi saat kepergok merokok di kantin sekolah.
Beberapa kasus diatas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya kasus serupa yang tidak tersorot media. Situasi ini menunjukkan bahwa guru sering menghadapi tuntutan hukum meski hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik, yaitu menertibkan dan mendisiplinkan muridnya. Entah hal ini merupakan bentuk dari “kemajuan” dunia, karena masyarakat kita semakin peduli terhadap perlindungan anak atau malah sebaliknya, ini merupakan sebuah “kemunduran” karena semakin kesini marwah seorang guru semakin terkikis? Pasalnya, otoritas seorang guru sebagai pendidik seakan hilang di masyarakat kita.
Untuk itu, berdasarkan alasan tersebut, saya tertarik mengulas beberapa nasihat yang relevan dengan berbagai kejadian yang telah saya sebutkan diatas. Tidak lain hanyalah supaya kita semua bisa menangkap pelajaran berharga darinya serta menjadi salah satu bahan perbaikan di kemudian hari.
Ciri Seorang Murid Sejati
Islam dengan tegas mengatakan bahwa seorang penuntut ilmu akan dinaikkan derajatnya diantara yang lain. Hal tersebut terekam jelas dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah (kamu),” Maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujadalah:11)
Melalui ayat tersebut, Allah ingin menegaskan bahwa kedudukan seseorang yang memiliki ilmu sangat tinggi dalam Islam. Oleh karena itu, sudah seyogyanya seorang murid, pelajar, ataupun santri menunjukkan rasa hormat kepada gurunya, sebab muara ilmu itu berasal darinya. Namun yang saat ini sering kita lihat, tidak sedikit murid, pelajar, atau santri bersikap “kurang ajar” pada gurunya. Bisa kita perhatikan dalam berita-berita yang sangat mengerikan, beberapa sudah saya sebutkan diatas. Mereka dengan “tidak merasa bersalah” melaporkan gurunya kepada orang tua, yang kemudian orang tuanya melaporkan kepada pihak berwajib, yang pada akhirnya nasib guru tersebut berujung ditahan. Padahal yang berlaku “salah” bukanlah gurunya melainkan dia sendiri yang melanggar aturan dan tata tertib sekolah.
Pada prinsipnya, bukti luhur seorang murid sejati adalah dia yang bisa menghormati dan memuliakan guru. Menghormati guru tentunya tidak hanya sebatas sikap sopan dan penghargaan verbal, tetapi juga diwujudkan melalui kesungguhan dalam belajar, mematuhi nasihat yang diberikan, serta menjaga nama baik guru di dalam dan di luar lingkungan sekolah. Sikap ini mencerminkan penghargaan terhadap ilmu dan proses pembelajaran, sekaligus memperkuat nilai-nilai moral yang menjadi fondasi hubungan antara murid dan pendidik.
Ada sebuah pepatah Arab yang sangat menarik dan patut kita jadikan renungan bersama, terutama bagi para penuntut ilmu yang tengah berjuang. Nasihat tersebut diungkapkan oleh Mushthofa Luthfi Al-Manfaluthi, tokoh intelektual Mesir yang terkenal melalui berbagai karyanya, khususnya dalam bidang sastra. Beliau pernah berkata:
مثل المتعلم غير المتأدب كمثل شجرة عارية لا تورق و لا تثمر، قد انتصبت للناس في ملتقى الطرق تعترض الرائح و تسد سبيل الغادي، فلا الناس بظلها يستظلون، و لا هم من شرها ناجحون
"Perumpamaan seorang murid yang tidak beradab, ialah ibarat pohon telanjang yang tidak berdaun dan tidak berbuah. Ia berdiri di persimpangan jalan, menghalangi orang yang lewat dan menghambat perjalanan mereka. Tidak ada orang yang dapat berteduh di bawahnya, dan tidak ada yang bisa selamat dari keburukannya”
Orang Tua Sebagai Role Model
Kehidupan dengan skala paling kecil, namun memiliki pengaruh terbesar dan memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan anak-anak adalah kehidupan keluarga. Di dalam lingkungan keluarga inilah anak pertama kali belajar tentang nilai-nilai, norma, dan perilaku yang akan membentuk kepribadiannya. Perilaku seorang anak sering kali menjadi cerminan langsung dari pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, baik dalam aspek kasih sayang, kedisiplinan, maupun komunikasi. Pola asuh yang baik tidak hanya menciptakan anak yang percaya diri dan mandiri, tetapi juga membentuk individu yang memiliki nilai moral dan etika yang kuat, yang pada akhirnya akan membawa kontribusi positif bagi masyarakat. Sebaliknya, pola asuh yang tidak tepat dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak, sehingga keluarga menjadi elemen penting dalam menciptakan generasi penerus yang bermoral lagi berkualitas.
Orang tua merupakan role model dan madrasah pertama bagi anak, tempat mereka pertama kali belajar nilai-nilai, moral, dan perilaku. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dari orang tua, sehingga perilaku mereka di luar rumah sering kali merupakan refleksi dari pola asuh dan lingkungan keluarga. Dalam konteks kasus kriminalisasi guru, peran orang tua menjadi sangat penting. Ketika anak menghadapi teguran atau disiplin dari guru, respons orang tua akan sangat menentukan cara anak memandang otoritas dan proses pendidikan. Jika orang tua tidak bijak dan justru mengambil langkah emosional, seperti melaporkan guru ke pihak berwajib, hal ini tidak hanya merusak hubungan antara guru dan murid, tetapi juga mengajarkan anak untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan mereka. dengan optimal dan anak-anak tumbuh dengan karakter yang baik.
Mendidik dengan Kasih Sayang
Metode pendidikan zaman sekarang tentu saja berbeda dengan zaman dahulu. Dimana dahulu metode pengajaran lebih bersifat otoritatif, artinya seorang guru dianggap sebagai satu-satunya sumber ilmu bagi seorang murid melalui penerapan disiplin yang super ketat. Namun sekarang lebih mempertimbangkan bagaimana agar seorang murid bisa berpartisipasi dalam proses belajar-mengajar, berpikir kritis dan lebih fleksibel dibandingkan zaman dahulu. Perbedaan yang cukup kontras juga terlihat pada boleh tidaknya seorang guru melakukan pemukulan kepada muridnya. Jika zaman dahulu, pemukulan dianggap sebagai bentuk tarbiyah (pendidikan) yang positif bagi murid, namun sekarang dianggap sebagai bentuk kekerasan yang tidak bisa dimaafkan.
Mengenai hal ini Syekh Ali Jum’ah pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Syekh, bolehkah seorang guru memukul muridnya?”
Beliau kemudian menjawab, “Untuk zaman sekarang ini, jangan memukul. Karena pengaruh internet dan media; anak-anak sekarang menganggap bahwa pukulan guru adalah bentuk ihaanah. Berbeda dengan zaman kita dahulu yang menganggap pukulan adalah bentuk tarbiyah, sehingga kita santai saja ketika menerima pukulan”
Inilah tantangan besar seorang guru hari ini, tantangan untuk mendidik muridnya dengan kasih sayang tanpa menggunakan kekerasan. Menghadapi perilaku murid yang beragam memang tidak mudah. Perlu latihan serta pembiasaan. Guru perlu terus belajar dan melatih diri untuk menggunakan metode-metode alternatif, seperti penguatan positif, dialog terbuka, atau aktivitas kolaboratif, sehingga mereka mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan mendukung tanpa harus mengandalkan kekerasan.
Pada intinya harus sama-sama mengoreksi diri, baik guru, murid dan juga orang tua atas perjalanan mereka dalam proses belajar-mengajar, sebab semua elemen ini memiliki perannya masing-masing. Baiknya, seorang murid menyadari tanggung jawab dalam proses belajar, guru untuk terus menjaga profesionalitas dan senantiasa upgrade metode mengajar yang relevan bagi muridnya, orang tua untuk lebih bijak dalam menyikapi pendidikan anak, serta para penegak hukum untuk bertindak secara adil dan proporsional. Hal ini penting agar tercipta harmoni dalam dunia pendidikan, dengan setiap pihak memainkan perannya secara konstruktif demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, mendidik, dan bebas dari konflik yang merugikan.
Biodata Penulis
Ismail Fahmi, anak kelahiran 2003 yang saat ini tengah menjalani Pendidikan S1 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan fokus pada bidang studi Bahasa dan Sastra Arab. Sejak awal, dia memiliki minat besar dalam bidang kebahasaan, khususnya Bahasa Arab yang kemudian membawanya berkecimpung dalam bidang ini. Selama menjalani perkuliahan, dia banyak terjun dalam kepenulisan, menjadikannya jatuh cinta pada bidang ini. Sampai hari ini, dia sedang ikhtiar untuk tetap konsisten menulis setiap harinya.
Sebelum memasuki gerbang perkuliahan, dia memiliki backround pendidikan di pesantren selama 6 tahun. Saat ini, dia pun masih aktif nyantri di Pesantren Qur’an Baitur Ridhwan Dau Kabupaten Malang. Di waktu luangnya, ia biasa menikmati harinya dengan me time, menonton podcast atau sekedar istirahat, kadang juga membaca buku.
Anda dapat mengenal lebih jauh atau menghubungi Ismail Fahmi melalui mafhumy16@gmail.com atau melalui media sosialnya di Instagram: @almafhum_
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0