Mahasiswa.co.id - Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Social Leader Movement Project di Panti Asuhan Putra Iffatul Alijah, Gunung Anyar, Surabaya, pada Minggu, 12 April 2026. Kegiatan ini mengusung tema Literasi Digital dan Keamanan Siber melalui sosialisasi bertajuk “Sosialisasi Bijak dan Aman dalam Penggunaan Internet dan Media Sosial serta Penerapan Etika Digital pada Anak.”
Kegiatan tersebut menyasar anak-anak Panti Asuhan Putra Iffatul Alijah sebagai upaya memberikan pemahaman dasar mengenai penggunaan internet yang aman, bijak, dan bertanggung jawab. Sebanyak 12 anak mengikuti kegiatan ini dengan rentang jenjang pendidikan mulai dari kelas 3 SD hingga kelas 1 SMA.
Pelaksanaan kegiatan dilatarbelakangi oleh semakin dekatnya anak-anak dengan internet, media sosial, gim daring, dan berbagai layanan digital. Internet dapat membantu anak dalam belajar, berkomunikasi, dan mencari informasi. Namun, penggunaan internet juga memiliki risiko apabila tidak disertai pemahaman yang cukup, terutama terkait keamanan data pribadi, penipuan digital, hoaks, hingga perilaku di ruang digital.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi tentang pengenalan internet dan literasi digital, keamanan digital dan data pribadi, phishing, penipuan online, deepfake, cyberbullying, etika digital, serta jejak digital. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar dapat dipahami oleh peserta dari berbagai usia.
Rangkaian kegiatan dimulai dari pembukaan, pre-test, penyampaian materi, diskusi interaktif, simulasi kasus, video edukatif, ice breaking, post-test, pengisian kuisioner evaluasi, pemberian reward, hingga dokumentasi. Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak aktif menjawab pertanyaan, menilai contoh kasus, dan mengikuti permainan edukatif.
Pada sesi pengenalan internet dan literasi digital, peserta diajak memahami manfaat serta risiko penggunaan internet. Mereka dikenalkan pada contoh risiko seperti hoaks, konten tidak aman, penipuan digital, dan kebocoran data pribadi. Sementara itu, pada materi keamanan digital, peserta belajar untuk berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, pesan dari orang tidak dikenal, serta pentingnya menjaga data pribadi.

Penyampaian materi literasi digital dan etika bermedia sosial kepada peserta kegiatan.
Peserta juga mendapatkan pengenalan tentang deepfake dan manipulasi digital. Materi ini membantu peserta memahami bahwa foto, video, atau suara dapat dimanipulasi sehingga tampak seolah-olah nyata. Selain itu, peserta diajak memahami pentingnya tidak langsung percaya pada informasi yang beredar dan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.
Pada materi etika digital, peserta diajak memahami pentingnya menggunakan bahasa yang sopan saat berinteraksi di internet, tidak melakukan perundungan secara online, menghargai privasi diri sendiri dan orang lain, serta menyadari bahwa aktivitas di internet dapat meninggalkan jejak digital.
Respons peserta terlihat positif selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif menjawab pertanyaan, mengikuti simulasi yang ditampilkan pada layar, serta berpartisipasi dalam sesi ice breaking dan diskusi sederhana. Aktivitas yang paling menarik perhatian peserta adalah simulasi kasus, video, tanya jawab, dan ice breaking karena mereka dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Dari 12 peserta yang hadir, evaluasi pre-test dan post-test diikuti oleh 9 peserta. Rata-rata nilai pre-test peserta adalah 88,89, kemudian meningkat menjadi 98,89 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 10 poin atau 11,25%.
Berdasarkan hasil tersebut, sebanyak 5 peserta mengalami peningkatan nilai, 4 peserta mempertahankan nilai, dan tidak ada peserta yang mengalami penurunan. Peningkatan paling terlihat terjadi pada pemahaman peserta mengenai tindakan yang tepat saat menerima tautan mencurigakan, pengenalan contoh deepfake, serta pentingnya etika digital.
Pihak Panti Asuhan Putra Iffatul Alijah juga memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari koordinasi peserta, penyediaan tempat, hingga pendampingan selama kegiatan berlangsung. Dukungan tersebut membantu kegiatan berjalan kondusif meskipun peserta berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda.
Pembina yayasan/pihak panti menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini relevan dengan kondisi anak-anak saat ini yang mulai akrab dengan penggunaan smartphone.
“Kegiatan ini sangat cocok dilakukan karena anak-anak panti asuhan sekarang sudah mengenal smartphone. Di sisi lain, penggunaan smartphone juga dapat membawa dampak negatif, seperti malas belajar, kecanduan media sosial dan gim, hingga meniru hal-hal yang kurang etis dari internet. Melalui kegiatan ini, saya berharap anak-anak dapat menambah wawasan tentang penggunaan internet dan media digital yang didasarkan pada literasi digital,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap anak-anak dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan internet dan media sosial. Peserta juga diharapkan mampu menjaga data pribadi, tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, menghindari tautan mencurigakan, serta menerapkan etika digital dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi yang relevan dengan kebutuhan anak-anak di tengah penggunaan teknologi digital. Ke depan, edukasi serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang sederhana, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Komentar 0