Penulis: Rizka Fadhilah Zahra Harefa
Mahasiswa.co.id - Perlu diketahui tujuan dari Pendidikan ialah memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensinya dengan optimal sehingga siswa mampu menemukan jati dirinya. Namun yang terjadi saat ini pembelajaran belum optimal dalam mengembangkan potensi siswa. Salah satu penyebabnya ialah pembelajaran di sekolah cenderung pasif, kecenderungan siswa hanya mendengarkan pemaparan guru, mencatat, dan meminta siswa mengerjakan latihan. Kemudian guru hanya mengajarkan kepada siswa apa yang tertulis pada buku tema dalam kurikulum 2013. Seharusnya guru dapat melatih kemampuan berpikir siswa dengan menggunakan metode yang berbeda yang menciptakan aktivitas belajar siswa. Guru dapat menyediakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui bahan ajar yang akan membuat siswa lebih aktif dan dapat memunculkan ide-ide, pemikiran baru untuk menyelesaikan permasalahan (Sulistyaningsih and Mawarsari, 2016) . Bahan ajar yaitu suatu alat untuk mempermudah siswa belajar, dikarenakan di dalamnya berisi materi pokok (Dewi and Harahap, 2016). Diantaranya berupa modul pembelajaran, Martiningsih et al (2019) berpendapat bahwa modul dapat mengakomodasi kemampuan siswa dengan memanfaatkan waktu belajar menjadi lebih efisien sehingga tercapainya tujuan pendidikan (Martiningsih, Lisdiana, and Susilowati, 2019).
Keterampilan berpikir kreatif sangat penting untuk dimiliki setiap individu sehingga pembelajaran yang berhubungan dengan kreativitas harus diterapkan di sekolah. Hal ini terjawab di dalam Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi No. 56 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum di dalam Struktur Kurikulum Merdeka lebih tepatnya pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pemerintah menetapkan tema utama projek penguatan profil pelajar pancasila yang berhubungan dengan kreativitas untuk jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat ialah tema Rekayasa dan Teknologi. Tema tersebut menuntut peserta didik untuk memiliki daya pikir kritis, kreatif, inovatif untuk dikembangkan. Karena dengan memiliki keterampilan tersebut dapat mendorong seseorang untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan berpikir kreatif penting untuk dimiliki (Permatasari, Destrinelli, and Pamela, 2023).
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan keterampilan siswa adalah pelibatan anak secara emosi melalui penjelajahan karya sastra. Sebagaimana dikatakan oleh Kayam, peran karya sastra sebagai salah satu sarana mengembangkan kecerdasan emosional anak, tidak terlepas dari konsep karya sastra sebagai model kehidupan (Kayam, 1988). Artinya, karya sastra menggambarkan dunia imajiner yang memiliki hubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan dunia nyata. Cerita merupakan media yang sangat baik. Cerita, yang diceritakan dengan baik dapat menginspirasi suatu tindakan, membantu perkembangan apresiasi kultural, kecerdasan emosional, memperluas pengetahuan anak-anak, atau hanya menimbulkan kesenangan. Mendengarkan cerita membantu memahami dunia mereka, dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain (Raines dan Isbell, 2002). Ketika anak-anak mendengar cerita, mereka menggunakan imajinasi mereka. Mereka menggambarkan cerita dari deskripsi pembaca cerita. Kreativitas ini bergantung pada bagaimana pembaca cerita dapat menghidupkan ceritanya, dan bagaimana pendengar aktif menginterpretasikan apa yang didengarnya. Fakhruddin menyatakan bahwa terlepas dari semua itu, cerita memiliki kekuatan, fungsi dan manfaat sebagai media komunikasi, sekaligus metode dalam membangun kepribadian anak (Wardiah, 2017).
Belajar dengan metode bercerita berpengaruh positif baik bagi siswa maupun guru. Siswa dapat belajar berekspresi, belajar berani tampil di depan umum, dan tentu saja perkembangan kognitif siswa sangat terbantu. Selain itu, bagi guru penerapan metode bercerita ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran siswa aktif dan pengamatan langsung guru terhadap kemampuan siswa.

Komentar 0