Surabaya, Mahasiswa.co.id - Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur menggelar Sekolah Literasi Anggaran Daerah pada 11-14 Juni 2026. Kegiatan ini dibuka di Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kader-kader HMI dari berbagai cabang di Jawa Timur. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader dalam memahami tata kelola keuangan daerah, pengawasan kebijakan publik, serta mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan daerah melalui penguatan literasi anggaran.
Koordinator Steering Committee, Dzulkarnain Jamil, mengatakan kegiatan ini lahir dari kegelisahan atas masih rendahnya kesadaran publik terhadap proses penyusunan dan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Selama ini APBD sering dipandang sebagai dokumen administratif yang hanya dipahami oleh birokrasi dan legislatif. Padahal, APBD merupakan instrumen utama pembangunan yang menentukan kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, hingga pelayanan publik yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Dzulkarnain dalam sambutannya.
Dzulkarnain menilai kader HMI perlu didorong untuk tidak hanya memahami konsep anggaran, tetapi juga mampu mengkritisi arah kebijakan pemerintah daerah. Hal itu mencakup bagaimana APBD direncanakan, dialokasikan, hingga digunakan.
“Setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah berasal dari rakyat. Karena itu, penggunaannya harus kembali sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Literasi anggaran menjadi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memastikan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan sosial benar-benar hadir dalam kebijakan publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, rendahnya partisipasi publik dalam isu penganggaran membuat ruang pengawasan menjadi sempit. Akibatnya, masyarakat kerap hanya menjadi penonton dari berbagai kebijakan yang sejatinya memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
Sementara itu, Ketua Umum BADKO HMI Jawa Timur, M. Yusfan Firdaus, mengatakan tantangan pembangunan daerah saat ini semakin kompleks. Menurutnya, pemerintah daerah tidak hanya dituntut menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan ketimpangan sosial, kualitas pelayanan publik, dan efektivitas belanja daerah.
“Daerah saat ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis pembangunan, tetapi juga tantangan tata kelola. Karena itu diperlukan sumber daya manusia yang mampu membaca kebijakan secara kritis dan objektif. HMI harus hadir sebagai mitra strategis yang memberikan masukan berbasis data dan kepentingan publik,” kata Yusfan.
Yusfan berharap Sekolah Literasi Anggaran Daerah dapat melahirkan kader-kader yang tidak sekadar memahami angka dalam dokumen APBD. Lebih dari itu, kader HMI diharapkan mampu melihat hubungan antara kebijakan anggaran dan kondisi sosial masyarakat.
“Harapan kami, kegiatan ini menjadi ruang lahirnya kader yang memiliki kapasitas analisis, integritas moral, dan keberanian intelektual untuk mengawal kebijakan publik secara konstruktif,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bakesbangpol Jawa Timur, Eddy Supriyanto, S.STP., M.PSDM., mengingatkan bahwa dinamika global saat ini memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional maupun daerah.

Komentar 0