Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Menengok Keunikan Pasar Pabean yang Legendaris di Surabaya

Picture2
Sumber Foto Dokumentasi Pribadi Tomy Michael

Mahasiswa.co.id - Tempat itu berjarak sekitar 350 meter dari Jembatan Merah yang ikonik. Telah ada sejak tahun 1849, Pasar Pabean termasuk pasar legendaris di Surabaya. Sebetulnya bentuk pasar ini mirip gerbong kereta api yang sangat panjang tetapi di sisi depan dan belakang menawarkan pemandangan yang berbeda. Dengan atap yang cukup tinggi membuat udara didalamnya bisa keluar masuk secara baik dan tidak panas.

Sisi yang mendekati Kawasan Ampel menjual bahan dapur seperti sayur mayur, brambang, ayam hidup, sosis hingga bumbu kering lainnya. Bebauan khas rempah-rempah membuat pikiran rileks. Namun dalam tulisan ini berfokus pada sisi pasar yang bersampingan dengan kawasan Pecinan. Saya lebih senang menyebutnya Pasar Ikan Pabean (PIP) untuk membedakan sisi berbeda tersebut jika ditanya orang. Mengapa unik? Karena kita tidak akan menemukan tomat sebesar bola sepak atau bawang berwarna biru. Tetapi di PIP selalu ada hal menarik untuk dilihat oleh mata seperti ikan dengan totol abu-abu putih, sisik biru tua hingga warna kuning cerah khas kedukaan. Mumpung November ini belum hujan, maka ikan-ikan tetap banyak.

Yang pertama ketika beruntung akan melihat ikan hiu berukuran kurang lebih 30-40 cm dan dijual karena tersangkut jaring. Biasanya ikan ini langsung ludes dan harganya juga tidak mahal, masih dibawah nominal tertinggi rupiah kita per kilogramnya. Ikan dengan kulit berpasir ini ketika digoreng terasa nikmat dengan nasi panas.

Yang kedua adanya layanan “forensik mayat ikan”. Jadi kalau Anda misalnya membeli ikan Mujair sebanyak 3 kilogram dan merasa repot membersihkan sendiri di rumah maka layanan “forensik mayat ikan” ini menjadi fasilitas utama. Per kilogram dikenakan tarif Rp5.000 dan kita bisa mendapatkan ikan bebas sisik, jeroan bersih serta dipotong beberapa bagian sesuai selera. Jika ingin cepat kaya, bisa saja menyampaikan kepada “petugas forensik” bahwa ikan kita hanya 1 kilogram padahal 1,7 kilogram. Hemat tetapi resiko jika didatangi hantu ikan.

Sumber Foto Dokumentasi Pribadi Tomy Michael

Yang ketiga banyaknya jenis ikan sehingga kadang agak susah membedakan ikan patin dan lele jumbo. Memang terlihat sama tetapi jika diamati seksama diketahui patin lebih langsing rahangnya daripada lele. Tetapi anakan lele juga mirip patin sekilas. Ikan air tawar dan air laut saling dipamerkan di etalase baki beralas drum. Semuanya disajikan dalam keadaan segar karena juga didukung es balok yang banyak.

Yang keempat sajian kepiting telur, udang windu hingga berbagai jenis kerang. Sebetulnya disini boleh menawar harga tetapi terdapat semacam soft law (aturan tidak tertulis) jika ingin menawar jangan terlalu ekstrim. Apalagi hanya membeli seperempat kilogram. Biasanya timbangan minimal 1 kilogram untuk udang atau kerang sedangkan berat yang mengikuti isi yaitu ikan. Karena jika kita menyampaikan ingin membeli ikan 1 kilogram bisa dipastikan akan lebih beberapa ons tetapi ada juga ikan yang bisa dibeli dengan timbangan 1 kilogram tepat.

Yang kelima suasana yang betul-betul hidup. Hampir semua menggunakan sepatu boot karet dan riuhnya mengangkat drum-drum besar berisi ikan segar. Jika Anda berbelanja dan tersenggol prajurit ikan maka harus tetap sabar dan nikmati.

Yang keenam apabila Anda memiliki kemampuan edit video atau spesial membuat konten maka ini menjadi hal menarik. Berbagai sudut mendukung seperti berbagai bangunan tua yang masih terawat. Beberapa kali juga menjumpai bule yang mendokumentasikan hiruk pikuk di PIP. Para pedagang ikan merasa terbuka walaupun ada juga yang enggan berbagi dan itu hak mereka, apalagi Anda sebaiknya ijin dulu jika ingin mendokumentasikan.

Yang ketujuh kadangkala sering bertemu anak-anak kecil yang memungut ikan yang sengajar dibuang pedagang karena tidak laik misalnya tubuhnya teriris, ukuran terlalu kecil hingga memang jatuh. Anak-anak kecil itu mengambil untuk kebutuhan sehari-hari dan biasanya mereka memperoleh satu tas kresek dengan berbagai jenis ikan. Kucing pun juga tidak ketinggalan melihat secara tajam kepada ikan yang terjatuh dari tangan-tangan pedagang.

Yang kedelapan transportasi para eksportir ikan. Mendekati jam 13.00 WIB, bunyi segala jenis knalpot seperti sous, serigala maupun peluit sungguh menarik. Umumnya pick up dihiasi dengan stiker dengan kalimat motivasi menjadi pemanja mata setelah berbelanja.

Sumber Foto Dokumentasi Pribadi Tomy Michael

Yang kesembilan belanjalah pada saat weekend setelah menikmati suasana Pecinan Kya-Kya. Berbagai jenis makanan tersaji sangat menarik dengan harga terjangkau. Antara PIP dan Pecinan Kya-Kya dihubungkan dengan jalan khas Eropa bertiang lampu menarik.

Yang kesepuluh daripada Anda menghabiskan banyak uang di restoran untuk mengkonsumsi maka cari saja ikan disini. Kita bisa berkreasi dengan berbagai racikan bumbu sesuai kehendak. Saran saya jam baik berbelanja yaitu jam 16.00 – 18.00 WIB dan hafalkanlah nama-nama ikan serta fotonya karena kadangkala pedagang PIP menjawab “ini ikan Kakap mas…”. Saya pun berujar dalam hati “Kakap tapi kok berkumis panjang, mungkin versi KW nya…”. Satu lagi, jika menemui pedagang berkacamata biasanya mereka bisa ditawar dagangannya.

Sumber Foto Dokumentasi Pribadi Tomy Michael

Oleh: Tomy Michael, Dosen FH Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.