Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Meneropong Wacana pengembangan Paradigma Keilmuan di IAIN Ponorogo

il
(gambar: ilustrasi model paradigma Keilmuan UIN Sunan Kali Jaga) Sumber: https://abidponorogo.com/2024/08/27/integrasi-internal-dan-lintas-keilmuan-catatan-webinar/

Mahasiswa.co.id - Kampus IAIN Ponorogo atau orang sering menyebutnya kampus hijau ini, sebentar lagi akan mengalami alih status menjadi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Tempatnya yang strategis dan mudah dijangkau dari berbagai kabupaten kota di sekitarnya, serta didorong banyaknya pondok pesantren dan kebudayaan Reog Ponoroggo yang sangat terkenal menjadikan pendukung utama dalam proses perkembangannya.

IAIN Ponorogo bertempatkan di Kabupaten Ponorogo memiliki dua kampus utama, kampus I yang berlokasikan di Kecamatan Siman dan kampus II berada di Kecamatan Jenangan. Dipimpin langsung oleh seorang Rektor perempuan Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag. dan didukung oleh para Civitas Akademika yang profesional menjadikan siklus pusat pendidikan yang begitu maju, selain itu IAIN Ponorogo merupakan Perguruan Tinggi Islam Negeri terbesar di lingkup Karasidenan Madiun.

Sebelum membahas lebih mendalam lagi, setidaknya kita harus tahu terlebih dahulu mengenai mazhab keilmuan atau paradigma keilmuan yang saat ini di jadikan landasan dalam pengembangan keilmuan di IAIN Ponorogo. Jika kita melihat bahwa IAIN Ponorogo adalah kampus yang berbasiskan dengan ajaran islam maka landasan keilmmuannya tidak lain adalah merujuk pada sumber Al-Qur’an.

Disisi lain IAIN Ponorogo juga mengembangkan konsep keilmuan yang di gagas oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas seorang cendikiawan Islam Malaysia, yang tak lain adalah Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan fokus integrasi antara Iman, Ilmu, dan Amal. Sebetulnya masalah pengembanga paradigma keilmuan ini merupakan hal yang pokok dan dijadikan landasan sebagai arah dalam menuju tujuan sebuah perguruan tinggi. Ditambah dengan kondisi saat ini yang rumit dan banya problematika yang semestinya harus dapat diselesaikan dengan cara ilmu pengetahuan.

Lalu apakan keilmuan di IAIN Ponorogo relevan dalam menyesuaian zaman saat ini, apalagi kini IAIN Ponorogo akan mengalami transformasi menjadi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, tentunya pertimbangan yang harus segera dirumuskan adalam Bagaimana arah pembentukan paradigma keilmuan dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam mencetak sarjana yang bijak guna menyikapi perkembangan hari ini.

Perumusan paradigma keilmuan dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu tersebut didukung kuat oleh UIN-UIN yang saat ini sudah berkembang di seluruh Indonesia, hal ini yang seharusnya dijadikan bahan rujukan oleh UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Misanya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan paradigma pengembangan keilmuan Islamisasi Ilmu, Iluminasi Islam, dan Paradigma Dialogis yag digagas oleh Porof. Dr. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan simbol paradigma keilmuan Integrasi-Interkoneksi yang digagas Prof. Dr. Amin Abdullah. UIN Sunan Ampel dengan simbol paradigma keilmuannya menara kembar tersambung. UIN Maulana Malik Ibrahim dengan simbol paradigma keilmuan Pohon Keilmuan yang menggunakan pendekatan Ulul Albab yang digagas Prof. Imam Suprayoga.

Model paradigma-paradigma keilmuan tersebut yang mengantarkan UIN-UIN di Indonesia semakin berkembang dalam menjembatani ilmu yang awalnya dikotomis menjadi integrasi ilmu, yang berusaha memecahkan problematika perkembangan zaman saat ini.

(Gambar: Kampus II IAIN Ponorogo) Sumber: https://images.app.goo.gl/Z8LsMrCaUzEVaEWS7

1. Wacana Pengembangan paradigma Keilmuan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Alih setatus IAIN Ponorogo menuju UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Tentunya juga harus mentransofmasikan keilmuan yang ada didalamnya menuju keilmuan yang bersifat integrasi antar keilmuan lain. Maka tugas yang harus dipikirkan adalah perumusan model paradigma keilmuan yang harus dijadikan pakem ciri khas landasan dalam menentukan arah dan tujuan keilmuan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Merujuk pendapat Prof. Aksin Wijaya Guru Besar IAIN Ponorogo, dalam opininya yang berjudul “Meneroka Paradigma Keilmuan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo” menyampaikan dalam proses transformasi dari IAIN ke UIN maka paradigma keilmuannya juga harus ikut ditranspormasikan yang awalnya dari dikotomi ilmu menjadi integrasi ilmu.
Integrasi ilmu ini dapat dilihat di UIN yang berkembang di Indonesia didalamnya memuat fakultas dan prodi ilmu umum. Dalam proses perumusan paradigma keilmuan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo hal ini masih diperlukan workshop dan FGD bagi para civitas akademika untuk merumuskan berbagai alasan-alasan perpindahan menjadi UIN, selain itu juga perlu merumuskan beberbagai historis berdirinya perguruan tinggi islam dan transformasi-transformasi PTKIN di Indonesia. Bertujuan agar bisa menempatkan posisi paradigma keilmuan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Seperti yang digambarkan oleh Prof. Aksin Wijaya tersebut akan menghasilkan pola paradigma keilmuan yang akan di gunakan, maupun model simbolnya seperti apa, misal simbol piramida keilmuan yang berunsurkan Tuhan, Alam, dan Manusia. Nantinya model paradigma tersebut diaplikasikan di fakultas maupun prodi yang dikembangkan.

Dalam proses perumusan paradigma keilmuan di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, masih terdapat bebrapa hambatan diantaranta entah itu pemahaman dosen mengenai paradigma yang begitu belum faham, ataupun dari kultur-kultur di wilayah ponorogo yang begitu kurang akademis. Permasalahn ini tentunya sangat menggangu dalam arah gerak perumusan paradigma keilmuan di di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

2. Urgensi dalam Pengembangan Keilmuan yang Relevan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Proses perumusan paradigma keilmuaan ini tentunya juga sangat berpengaruh pada proses Input-Pembelajaran-Output didalam siklus perguruan tinggi di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Dengan integrasi antar ilmu tersebut juga dapat menciptakan sebuah rasa kenyamanan antar ilmu baik ilmu agama dan ilmu umu. Dima pada dasarnya kedua ilmu tersebut tidaklah dapat dipisahkan keduanya saling bergandengan dalam melihat dan menghadapi realita saat ini.

Selain itu dengan integrasi dapat menghasilkan Output sarjana yang memiliki kualitas, dan kebijaksanaan tinggi dalam melihat, mengadopsi, dan menyelesaikan problematika saat ini. Yang mana perkembangan zamaan sekarang mengarah pada sifat modernis dan sekuler mengarah pada kondisi kebarat-baratan.

Dengan model intrgrasi keilmuan di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo juga akan membawa arah perubahan terbaru, apalagi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo merupakan kampus PTKIN terbesar di karasidenan madiun. Tentunya hal ini juga membawa kualitas keilmuan didalanya berkualitas yang dapat bersaing di kancah Nasional Maupun Internasional.

Oleh:: Fuad Khoirul Anwar

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.