Mengenal Narcissistic Personality Disorder Melalui Lensa Alquran
Oleh Nanda Nurlina
Mahasiswa.co.id - Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa penting diri yang berlebihan dan kurangnya empati terhadap orang lain. Kondisi mental di mana individu memiliki perasaan yang berpusat pada kepentingan diri sendiri. Istilah “narcissistic” berasal dari mitos Yunani tentang Narcisos, sebenarnya diguakan karena mirip dengan konsep kegilaan dari (self-absorption) dalam psikiatri bukan hanya mitos Yunani, yang terobsesi dengan kecantikannya sendiri hingga ia lupa akan realitas dunia sekitarnya.
Penderita NPD sering membutuhkan pujian dan validasi untuk merasa berharga. Penyebab NPD dapat berasal dari pola asuh yang tidak tepat, seperti terlalu banyak tuntutan atau terlalu memanjakan, dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Asuhan yang tidak stabil atau ekstrim dapat meningkatkan risiko anak mengembangkan NPD pengalaman traumatis, atau pengaruh lingkungan keluarga. Ustadz Faizar menjelaskan bahwa individu yang memiliki pendidikan yang kurang baik dapat berkembang menjadi individu dengan karakter narsistik. Anak-anak yang menerima terlalu banyak atau terlalu sedikit pujian saat masa kanak-kanak cenderung lebih rentan terhadap NPD. Penerimaan berlebihan dapat merusak harga diri, sementara kurangnya pujian dapat meningkatkan ambisi dan dorongan untuk mencari validasi eksternal.
Ciri-Ciri NPD dalam Perspektif Alquran
Kurangnya empati, dan kecenderungan untuk mencari pujian (riya). Alquran menegaskan pentingnya kerendahan hati dan menghindari sifat-sifat tercela seperti dalam surah Ali-Imran ayat 188:
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih. (Q.S. Ali-Imran [3]: 188).
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengatakan Di ayat ini, bertemulah dua perangai manusia yang amat rendah atau suatu kerendahan budi dan menunjukkan jiwa yang kerdil. Yaitu perangai orang yang munafik dan pengecut, tidak berani bertanggung jawab. Pertama, ialah orang yang gembira dengan yang telah mereka lakukan. Kedua, ialah orang pengecut yang berbuat suatu kepengecutan, lalu memuji sikapnya yang pengecut itu, atau orang yang bodoh bangga dengan kebodohannya. Maka, si pengecut ini membanggakan diri dan gembira sebab dia telah memilih satu perbuatan yang katanya benar, yaitu tidak turut berjuang, sehingga dia tidak jadi korban. Dalam riwayat yang lain dirawikan oleh Ibnu farir dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang munafik yang tidak benar, dan mereka senang sekali dipuji dalam hal-hal yang tidak pernah mereka kerjakan. Ayat ini pun memberi petunjuk kepada kita tentang salah satu kelemahan manusia, yaitu bahwasanya manusia itu bisa dimabukkan oleh pujian-pujian, sehingga lantaran mabuknya, suka’ juga dia dipuji dalam hal yang tidak pernah dia kerjakan. Itulah sebabnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib apabila dipuji orang berhadapan dibalasnya pada waktu itu dengan perkataan, “Jangan aku dipuji, aku lebih tahu keadaan diriku sendiri.”
Ustadz Faizar menggarisbawahi bahwa tindakan narsistik, seperti sifat sombong dan arogan, dipandang negatif dalam Al-Quran. Ayat-ayat yang menyoroti kesombongan, seperti dalam Alquran surah Al-Israayat 37:
Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 37).
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengatakan Marahan kita artikan sombong, yaitu orang yang tak tahu letak dirinya. Bersifat angkuh karena dia telah lupa bahwa hidup manusia di dunia ini hanyalah semata-mata karena pinjaman Allah. Lupa bahwa asalnya hanya dari air mani yang bergetah, campuran air si laki-laki dengan air si perempuan. Dan kelak dia mati, dia akan kembali masuk tanah dan kembali jadi tanah, tinggal tulang-tulang yang berserak dan menakutkan. Lalu diperingatkan siapa sebenarnya diri manusia yang mencoba sombong itu. “Sesungguhnya engkau sekali-kali tiada akan dapat membelah bumi.”Ini adalah kata kiasan yang tepat sekali buat orang yang sombong. Bagaimanapun se-seorang yang rantak tojak di atas bumi, menghardik, menghantam tanah, namun bumi itu tidaklah akan luak atau luka karena hantaman kakinya. Oleh sebab itu, seorang Mukmin sejati ialah seorang yang tahu diri. Lalu diletakkannya diri itu pada tempat yang sebenarnya. Itulah yang disebut dalam kata Arab tawadhu. Atau tegaklah yang sederhana, ukurlah kekuatan diri, seperti sabda Rasulullah saw yang artinya: “Tidaklah akan celaka seseorang yang mengerti kedudukan dirinya.” (H.R. Bukhari).
Solusi dalam Alquran
Alquran mengajarkan pentingnya introspeksi sebagai solusi untuk mengatasi sifat narsistik. Dalam surah Al-Hadid ayat 23
(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Al-Hadid [57]: 23).
Dalam Tafsir Al-Azhar dijelaskan maka janganlah kamu menyesali apa yang luput dari kamu, karena sesungguhnya seandainya hal itu ditakdirkan, niscaya akan terjadi. dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Yakni dengan apa yang didatangkan kepadamu. Makna atakum ialah diberikan-Nya kepadamu, kedua makna saling berkaitan. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa janganlah kamu berbangga diri terhadap manusia dengan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Karena sesungguhnya pemberian itu bukanlah dari usaha kamu, bukan pula dari hasil jerih payahmu. Sesungguhnya hal itu terjadi hanyalah semata-mata karena takdir Allah dan pemberian rezeki-Nya kepadamu. Maka janganlah nikmat-nikmat Allah menjadikan kamu lupa daratan hingga menjadi orang yang jahat lagi angkuh, lalu kamu membangga-banggakannya terhadap orang lain. Untuk itu, maka disebutkan dalam firman berikutnya: Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Maksudnya, bersikap angkuh dan sombong serta merasa besar diri terhadap orang lain.
Memahami Narcissistic Personality Disorder (NPD) melalui perspektif Al-Quran dapat membantu kita mengenali dan mengatasi perilaku narsistik, baik dalam diri sendiri maupun orang lain. Al-Quran menekankan pentingnya refleksi diri dan kerendahan hati, yang merupakan antidot terhadap sifat egois dan sombong. Dalam surah Al-Hasyr ayat 18, Allah mengingatkan kita untuk merenungkan amal perbuatan, sementara dalam surah Al-Hujurat ayat 12,mengajarkan untuk tidak mencari kesalahan orang lain. Dengan menerapkan ajaran ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih sehat secara mental dan spiritual.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0