Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pembuatan Desain Pengganti Uang Sebagai Media Transaksi Kantin di Sekolah Dasar Tunjungsekar 2

IMG_8984

Mahasiswa.co.id - Pengabdian pada Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktiku Negeri Universitas Muhammadiyah Malang yang dilaksanakan oleh kelompok 25 gelombang 3 ini memiliki tujuan khusus yang disasar pada anak Sekolah Dasar. Dengan tema yang diusung kelompok 25, yaitu “Pentingnya Literasi Finansial di Sekolah Dasar dalam Membentuk Generasi yang Cerdas Secara Finansial”. Program ini dilaksanan di SDN Tunjungsekar 2 yang berlokasi di Jl. Ikan Tombro No.1, Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Program utama edukasi dalam meningkatkan minat literasi finansial ini berlangsung pada 23 dan 24 Januari 2024.

Kelompok 25 berkontribusi dengan membantu pembuatan desain pengganti uang yang digunakan SDN Tunjungsekar 2 sebagai transaksi di kantin sekolah. SDN Tunjungsekar 2 dikenal sebagai sekolah yang mengedepankan misi literasi finansial kepada seluruh siswanya. Pengganti uang ini sudah diterapkan kurang lebih 3 tahun. Dana yang didapat dari kantin sekolah ini nantinya dapat membantu pembangunan atau keperluan sekolah lainnya.

Sementara tujuan pihak sekolah mengganti uang dengan alat tukar pengganti uang sebenarnya sederhana, yaitu untuk menarik minat para murid untuk berbelanja di kantin sekolah dan meminimalisir membeli di luar sekolah. Siswa yang ingin membeli makanan atau minuman di kantin sebelumnya menukarkan uang asli dengan kertas pengganti uang terlebih dahulu sebelum berbelanja. Kertas pengganti uangnya pun memiliki nominal yang bervariasi; mulai dari Rp500, Rp1000, Rp2000, Rp5000, hingga terbesar Rp10.000.

“Alasannya simpel, yaitu supaya murid-murid bisa jajan di kantin, karena kalau di kantin kan lebih terjamin kesehatan/higienisnya daripada di luar. Baru saat pulang sekolah, akan-anak bisa jajan di luar sekolah,” Ujar Andhika Hermawan, salah satu guru si SDN Tunjungsekar 2.

Kelompok 25 bekerja sama dengan kepala sekolah SDN Tunjungsekar 2, yaitu Bapak Sigit Gunawan, S.Pd, serta guru lainnya ikut andil dalam diskusi terkait desain uang ini. Sebelumnya, kelompok 25 juga mengadakan sosialisasi terlebih dahulu kepada murid kelas empat dengan pemaparan materi mengenai literasi finansial dan mengajak mereka untuk praktik menabung. Kelompok 25 juga melakukan survey kepada murid dan berkonsultasi secara rutin kepada pihak sekolah mengenai desain yang diinginkan.

“Desainnya bagus dan lucu, ada kartun hewannya. Jadi lebih semangat buat jajan di kantin” Tutur Bibit, siswa kelas 4 setelah melihat desain baru dari kertas tersebut.

Mendesain ulang kertas pengganti uang untuk transaksi sekolah ini dilakukan karena kondisi kertas pengganti uang yang sudah banyak tidak layak pakai, kusut, dan lecak. Maka dari itu, kelompok 25 menawarkan desain yang lebih colorfull dengan ilustrasi animasi hewan seperti katak, monyet, rakun, ikan, dan buaya. Hal ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak minat para murid untuk berbelanja dan menjaga kertas tersebut untuk tidak dilipat atau dilecakkan.

“Uang yang sebelumnya sudah banyak yang lecak dan rusak. Sehubungan dengan adanya kegiatan sosialisasi literasi finansial, kita buatkan desain baru yang lebih menarik dan kokoh,” Koordinator PMM kelompok 25, Ade Zafir memaparkan tujuan pembuatan desain baru tersebut.

Dari hasil diskusi panjang bersama pihak sekolah, kelompok 25 menyarankan sekolah untuk mengganti bahan dasar kertas yang dipakai sebelumnya dengan bahan yang lebih kuat. Selain itu, terdapat saran opsional dengan melaminating untuk mencegah para siswa melipat atau merusak uang tersebut. Namun, solusi utamanya adalah dengan mengganti bahan dasar kertas tesebut dari yang sebelumnya menggunakan kertas stiker, menjadi kertas Art Paper karena bahannya yang lebih kuat dan kokoh.

Di samping itu, Kelompok 25 juga melakukan edukasi dan menghimbau kepada para siswa untuk berhati-hati dalam memakai kertas pengganti uang tersebut. Yaitu agar tidak sembarangan untuk melipat dan memasukan uang tersebut ke dalam saku. Sehingga kertas pengganti uang tersebut bisa lebih awet hingga bertahun-tahun.

Pembuatan desain ini berjalan sejak awal PMM dilakukan dan diselesaikan sebelum kegiatan penutupan. Sebagai bagian dari program edukasi literasi finansial, Kelompok 25 bermaksud untuk membantu dan memberi manfaat kepada pihak sekolah maupun murid. Dengan dibuatnya desain pengganti uang yang baru, diharapkan sekolah dapat memanfaatkannya dalam jangka waktu panjang sehingga literasi finansial di sekolah dapat terus berlanjut.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.