Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Profil Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang Jadi Sorotan Usai Mengaku Diteror

Profil Tiyo Ardianto

Mahasiswa.co.id - Nama Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), menjadi perhatian publik setelah mengaku menerima serangkaian teror usai langkah BEM UGM mengirim surat terbuka kepada UNICEF terkait kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tiyo menyebut ancaman tersebut tidak hanya menyasar dirinya, tetapi juga keluarganya. Pesan berisi intimidasi dan fitnah dikirim melalui WhatsApp dari nomor tak dikenal, termasuk yang menggunakan kode internasional Inggris, sehingga menimbulkan rasa takut di lingkungan keluarga.

Mahasiswa Filsafat yang Aktif Menyuarakan Isu Sosial

Tiyo Ardianto merupakan mahasiswa Program Sarjana Filsafat UGM dengan NIM 21476866FI04940. Ia tercatat aktif sejak 16 Agustus 2021 dan hingga Semester Genap 2024/2025 masih berstatus mahasiswa aktif.

Lahir di Kudus pada 26 April, Tiyo dikenal sebagai aktivis kampus yang vokal dalam isu sosial, pendidikan, dan keadilan. Keterlibatannya dalam berbagai organisasi mahasiswa mengantarkannya terpilih sebagai Ketua BEM UGM.

Memasuki awal 2026, namanya menjadi sorotan nasional setelah BEM UGM mengirim surat terbuka kepada UNICEF pada 6 Februari 2026. Surat tersebut merupakan respons atas tragedi bunuh diri seorang siswa SD di NTT yang diduga karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah senilai kurang dari Rp10 ribu.

Dalam surat itu, BEM UGM menilai peristiwa tersebut sebagai cerminan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan. Mereka juga mengkritisi prioritas anggaran pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai belum menyentuh akar persoalan ketimpangan pendidikan dan kemiskinan struktural.

Kritik kepada Presiden dan Munculnya Teror

Kritik BEM UGM juga diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam sejumlah pernyataan dan aksi, Tiyo menyebut program MBG dengan istilah “Maling Berkedok Gizi”, yang kemudian viral dan memicu perdebatan luas di media sosial.

Empat hari setelah surat terbuka itu beredar, Tiyo mengaku menerima pesan ancaman penculikan. Pada 13 Februari 2026, ia kembali terlibat dalam aksi di Bundaran UGM bersama akademisi dan aktivis dengan mengenakan kaos bertuliskan “Maling Berkedok Gizi”.

Sehari setelah aksi tersebut, ia kembali menerima ancaman pembunuhan dari pihak tak dikenal. Teror kemudian meluas ke keluarga, ketika pada 14 Februari 2026 ibunya menerima pesan WhatsApp bernada fitnah yang menuduh Tiyo menggelapkan dana kampus, disertai foto dan narasi provokatif.

Dilaporkan ke LPSK dan KIKA

Menanggapi rangkaian ancaman tersebut, Tiyo menyatakan tidak gentar dan tetap berkomitmen menyuarakan isu keadilan sosial, pendidikan, serta hak anak.

Kasus ini telah dikomunikasikan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Koalisi Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak UGM sebagai institusi tempatnya bernaung.

“Soal teror dan ancaman yang saya, keluarga, dan pengurus BEM terima — kami sudah komunikasikan dengan LPSK, KIKA, dan Kampus UGM untuk tindak lanjutnya. Mohon doanya, ya. Insya Allah, Tuhan bersama orang-orang yang melawan kezaliman,” tulis Tiyo melalui akun Instagram pribadinya @tiyoardianto_.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.