Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Program Studi Komunikasi Digital dan Media SV IPB Berikan Pelatihan Editing Audio Visual untuk pembuatan konten di Kampung Wisata Saung Eling

Komunikasi Digital IPB

Bogor, Mahasiswa.co.id - Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB Kembali menyelenggarakan pelatihan penguatan keterampilan digital untuk pemuda dan pengelola Kampung Wisata Saung Eling, Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, (29/092025). Kali ini, fokus pelatihan adalah Editing Audio Visual untuk pembuatan konten di media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Sekprodi Vivien Febri Astuti, S.I.Kom., M.I.Kom., serta dosen-dosen Program Studi Komunikasi Digital dan Media lainnya. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari sesi sebelumnya yang berfokus pada AI untuk pembuatan caption konten media sosial. Jika sebelumnya peserta diajarkan teknik pemanfaatan AI yang efektif, kini umtuk memperkuat narasi melalui kata-kata yang tepat, sehingga konten menjadi lebih hidup dan mampu mendorong interaksi audiens, kini mereka mempelajari bagaimana editing Audio Visual yang baik yang dapat menggugah perasaan audiens dan menarik untuk promosi Kampung Wisata.

Kegiatan menghadirkan pembicara utama yaitu Diadji Kuntoro, SKpm, MSi, Dr. Leonard Dharmawan, SP, MSi selaku ketua Pengabdian Masyarakat Prodi dan Dr. Abung Supama Wijaya selaku Ketua Humas SV IPB, serta dosen-dosen Program Studi Komunikasi Digital dan Media SV IPB. Program pelatihan bertajuk “Dasar-Dasar Editing Audio-Visual” yang berhasil membuka wawasan peserta mengenai pentingnya penguasaan keterampilan konten digital untuk mendukung promosi desa, UMKM, serta pengembangan potensi lokal. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi komunikasi di era digital

Dalam paparannya, Diadji Kuntoro menekankan bahwa konten audio-visual kini menjadi sarana komunikasi yang strategis bagi desa. Konten ini memiliki berbagai keunggulan, antara lain mudah dipahami oleh semua kalangan, murah dan cepat diproduksi, efektif untuk promosi, serta berfungsi sebagai dokumentasi kegiatan. Dengan karakteristik tersebut, desa dapat menampilkan keunikan budaya, potensi wisata, hingga produk lokal secara lebih menarik dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Komunikasi Digital IPB

Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis konten yang dapat dikembangkan, mulai dari promosi UMKM dan produk lokal, dokumentasi kegiatan masyarakat, hingga profil desa dan konten edukasi. Diadji menekankan pentingnya memahami tiga tahapan utama dalam produksi konten, yakni pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, ide, konsep, serta naskah perlu dipersiapkan dengan matang. Proses produksi melibatkan pengambilan gambar, sementara pasca-produksi mencakup proses penyuntingan agar video lebih singkat, jelas, dan mudah dipahami. “Editing yang baik harus membuat alur video mengalir, jangan sampai potongan gambar terasa meloncat-loncat. Tujuannya agar gambar, suara, dan teks jelas serta mudah dipahami penonton. Editing yang bagus bukan sekadar informatif, tapi juga bisa menyentuh perasaan. Sebuah video harus punya cerita sederhana: ada awal, isi, dan akhir, supaya penonton merasa diajak mengikuti alurnya,” Lanjut Diadji.

Lebih lanjut, peserta diberi pemahaman mengenai prinsip editing yang meliputi continuity (alur harus mengalir tanpa lompatan), clarity (video, suara, dan teks harus jelas), serta emotional impact (menyentuh perasaan penonton). Diadji juga menekankan bahwa video yang baik harus memiliki unsur storytelling, dengan alur sederhana yang terdiri dari awal, isi, dan akhir. Prinsip ini diharapkan mampu menghasilkan konten yang tidak hanya informatif tetapi juga membangkitkan rasa bangga dan kedekatan emosional.

Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam menghasilkan konten yang kreatif, berkualitas, dan berdaya saing. Dengan keterampilan editing audio-visual, desa memiliki peluang lebih besar untuk mempromosikan wisata, budaya, dan produk unggulan lokal. Lebih dari sekadar alat promosi, konten audio-visual dapat menjadi medium edukasi sekaligus dokumentasi yang memperkuat identitas desa di mata publik.“Editing bukan hanya soal memotong dan menyambung video, tetapi bagaimana menyusun cerita yang menyentuh hati dan membuat penonton terhubung dengan pesan yang kita sampaikan,” ujar Leonard menutup sesi pelatihan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.