Seloliman, Mahasiswa.co.id — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak-anak terus dilakukan melalui pelaksanaan program “Teman Baik Tanpa Bully” oleh mahasiswa BBK 7 UNAIR Seloliman yang diselenggarakan di SDN Seloliman dan MI Miftahul Ulum Seloliman. Program ini melibatkan siswa kelas 4 hingga 5 dengan harapan dapat membentuk karakter siswa sejak dini agar saling menghargai satu sama lain. Kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana edukatif untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya bullying yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah. Selain itu, program ini juga bertujuan menumbuhkan sikap empati, kepedulian sosial, serta kesetiakawanan antar siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026 di SDN Seloliman dan pada Kamis, 22 Januari 2026 di MI Miftahul Ulum Seloliman. Program kerja dalam dua hari tersebut diawali dengan pembahasan mengenai pengertian bullying serta berbagai bentuk tindakan bullying yang kerap dijumpai di lingkungan sekolah. Para siswa diberikan penjelasan secara rinci mengenai contoh-contoh bullying, baik secara fisik, verbal, maupun sosial, agar mereka dapat mengenalinya dengan lebih baik. Selain itu, siswa juga diajak memahami alasan mengapa bullying merupakan tindakan negatif yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi korban maupun pelaku. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui tanya jawab dan diskusi ringan sehingga mudah dipahami dan menarik perhatian siswa.

Setelah sesi pembahasan materi selesai, siswa diajak mengikuti kegiatan pertukaran cerita, di mana mereka saling berbagi pengalaman, perasaan, dan pendapat secara terbuka dalam suasana yang aman dan saling menghargai. Selain itu, kegiatan menyanyi bersama juga dilakukan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban. Sebagai bentuk apresiasi terhadap keaktifan siswa selama kegiatan berlangsung, panitia juga memberikan hadiah kepada siswa yang berani berpartisipasi dan menunjukkan sikap positif. Pemberian hadiah ini dilakukan sebagai motivasi agar siswa semakin bersemangat dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi sebagai bentuk evaluasi dan penguatan pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Pada sesi ini, siswa diminta menuliskan berbagai dampak bullying yang mereka ketahui, rasakan, atau bayangkan berdasarkan hasil pembelajaran sebelumnya. Tulisan-tulisan tersebut kemudian ditempelkan pada kertas berbentuk
“pohon ungkapan” yang telah disiapkan oleh panitia. Pohon ungkapan tersebut menjadi simbol harapan bersama agar lingkungan sekolah dapat terbebas dari tindakan bullying dan dipenuhi dengan sikap saling menghormati.

Penulis: Angelus Kennard Samsico & Idea Innata Aswari (Anggota BBK 7 UNAIR Seloliman)