Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Resensi Buku: Menjadi Manusia Seutuhnya

Resensi Buku: Menjadi Manusia Seutuhnya

Judul Buku : Duduk Dulu
Penulis : Syahid Muhammad
Penerbit : Gradien Mediatama, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman: 236 Halaman
Ukuran Buku : 13 cm x 19 cm

Mahasiswa.co.id - Manusia hidup bersama untuk bisa saling memahami. Belum tentu manusia dapat memahami apa yang ada dalam pikiran manusia lain. Ada masanya manusia membutuhkan istirahat sejenak untuk sekedar melepas pikiran. Bukan bermaksud merendahkan, melainkan sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan dan juga sebagai cara untuk menemukan inspirasi baru. Sikap menghargai diperlukan saat berinteraksi, namun bukan dalam artian selalu mengikuti dan menyetujui keinginan atau ucapan orang. Manusia memiliki hak untuk memilih apa yang dirasa perlu.

Duduk Dulu adalah buku karya Syahid Muhammad yang mengajak pembaca untuk bersyukur pada diri sendiri. Penulis dalam buku ini banyak membahas mengenai hal-hal kecil yang terlupakan dalam kehidupan. Ia mengajak pembaca untuk tidak lupa bahwa kita juga merupakan manusia yang tidak lepas dari perilaku ataupun sikap buruk. Dalam buku ini, penulis mengajak kita untuk bersedia menerima setiap rasa dan emosi yang muncul dalam kehidupan kita. Perlu diingat bahwa, kita tidak harus egois terhadap diri sendiri ataupun manusia lain.

Bagian awal buku ini menjelaskan bahwa jangan lupa akan hal-hal kecil disaat kita terlalu sibuk mengejar yang lebih besar. Walaupun bertumbuh itu membingungkan, sebaiknya jangan berusaha setengah hati. Berisikan penenang bahwa manusia tidaklah luput dari kesalahan dan ada beberapa hal yang memiliki waktunya sendiri untuk dimengerti. Seringkali kita mengharapkan seseorang yang selalu ada untuk menemani disaat resah. Memberi inspirasi bahwa menjadi seorang manusia yang belajar dari kesalahan, tidak malu untuk berubah, dan tidak pantang menyerah. Belajar bagaimana menghadapi hal-hal tertentu dalam hidup kita.

Manusia memiliki usaha-usaha untuk sembuh, meskipun mereka salaing melukai. Selain itu, buku ini berisikan pengalaman pribadi penulis untuk memberikan dukungan bahwa setiap perlakuan yang kita buat belum tentu jelek dimata orang lain. Buku ini bisa dibaca dalam berbagai suasana hati. Hal itu memberi tahu bahwa meskipun menyembuhkan luka itu terasa menyakitkan, lebih baik menderita dengan rasa sakit daripada kehilangan harapan untuk masa depan. Kenyamanan dapat membantu kita menyembuhkan luka emosional, tapi sebenarnya yang dapat menyembuhkan luka itu hanyalah diri kita sendiri. Berbagai metode dapat digunakan seperti mencoba mengubah pola pikir, mengeksplorasi hal-hal baru, serta tidak takut pada pengalaman baru.

Saat pikiranmu mulai dipenuhi dengan pikiran yang membuatmu merasa tidak berguna dan kacau, coba renungkan sejauh mana dirimu telah berkembang. Mulailah untuk merenungkan segala yang telah diperoleh dan yang terpenting ialah menyadari bahawa kamu juga berharga untuk orang di sekeliling anda. Pertanyaan yang timbul di benakmu hanya memiliki jawaban dari dirimu, tidak dari orang lain. Tenangkan pikiran, dan coba cari jawaban atas pertanyaan yang ada dipikiranmu. Kita perlu mengingatkan bahwa wajar merasa tertekan dalam menjalani kehidupan, namun jangan lupakan untuk terus berusaha dan berubah.

Penulis mengingatkan pembaca bahwa jika sesuatu hal tidak menjadi kenyataan mungkin belum waktunya untuk menerimanya, atau ada rencana Tuhan yang jauh lebih besar dibalik kegagalanmu. Belajarlah menerima keadaan bahwa tidak semua yang diinginkan harus terwujud sepenuhnya. Menerima diri merupakan kunci dari ketenangan. Terkadang menganggap kegagalan sebagai penyemangat untuk mencapai hal-hal yang lebih besar.

Selain itu, perlu diingat bahwa kasih sayang orang lain tidak selalu datang melalui perlakuan, bisa saja melalui bisikan doa. Saat sedang merasa marah, kita harus meluapkan amarah tersebut dengan baik. Namun, rasa marah tidak harus diluapkan sebagai amarah ataupun dengan cara menyakiti. Ketika ingin dicintai, kamu harus dicintai oleh dirimu sendiri. Bahagia bukan hanya perasaan baik, tapi menerima hal-hal buruk. Pada akhir buku, penulis mengingatkan pembaca untuk bersyukur pada diri sendiri dan memberikan ruang untuk bersantai dan melepas pikiran.

Dilihat dari segi bahasa, buku ini mudah untuk dipahami. Kita harus membaca buku ini sampai habis untuk mengetahui apa makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Dengan desain sampul yang simpel, mengundang daya tarik bagi pembaca untuk membaca bukunya. Membaca buku ini mengingatkan kita untuk memperlakukan diri selayaknya manusia ditengah bahkan ditengah kesibukan. Menghasilkan pikiran mengenai apresiasi diri dan mencintai diri sendiri. Bersyukurlah pada diri atas semua yang telah dilakukan, meskipun itu sulit. Tentang hal-hal yang tidak bisa diusahakan, cobalah menerimanya. Tidak hanya menceritakan apa yang dibutuhkan, namun ingat bahwa dunia bukan hanya tentang dirimu dan masalahmu tapi tentang orang lain juga. Betapa pentingnya saling mendukung karena kita tidak hidup sendiri.

Selain kelebihan yang dimiliki buku ini. Kelemahan buku ini terletak pada beberapa bab yang terkesan berulang-ulang. Terdapat pencetakan yang tidak rapih di beberapa bagian halaman buku. Namun, secara keseluruhan. Bagi mereka yang membutuhkan teman bercerita, buku ini sangat recommended untuk dibaca. Bukan hanya berisikan kata-kata yang bermakna, buku ini akan menginspirasi pembaca untuk mencintai diri sendiri.

Secara umum, buku ini disampaikan secara bagus dan mudah untuk dipahami bagi pembacanya. Memberikan inspirasi seorang pembaca yang membutuhkan kesadaran atas masalahnya. Membuka cara pandang dan cara berfikir bahwa tidak semua masalah tidak dapat diselesaikan. Kita bisa berdamai dengan keadaan atau lingkungan serta menangani masalah dengan baik. Tidak semua hal atau problematika kehidupan dipandang negatif. Secara keseluruhan membaca buku ini memberikan gambaran bagaimana manusia bisa berdamai dimulai dari diri sendiri. Dengan bersyukur akan segala kondisi yang telah dilalui selama hidup.

Oleh: Nashella Egi Carendra, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.